Krisis! Angka Kematian Ibu di Indonesia Urutan ke-3 Tertinggi di ASEAN
Indonesia kini memasuki fase krisis kesehatan perempuan. Angka Kematian Ibu (AKI) tergolong tertinggi se ASEAN.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih mencapai 189 kematian per 100.000 kelahiran hidup.
- Angka tersebut menempatkan Indonesia di urutan ke-3 tertinggi di kawasan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).
- Tingginya AKI tidak hanya menggambarkan ancaman klinis, tetapi juga persoalan sosial.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia kini memasuki fase krisis kesehatan perempuan.
Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih mencapai 189 kematian per 100.000 kelahiran hidup menempatkan Indonesia di urutan ke-3 tertinggi di kawasan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).
Baca juga: Kehamilan Usia Remaja Tingkatkan Risiko Kematian Ibu, POGI: Organ Reproduksi Belum Siap
Kondisi ini menunjukkan bahwa keselamatan persalinan, layanan kesehatan reproduksi, dan literasi kesehatan perempuan masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum tuntas.
Tingginya AKI tidak hanya menggambarkan ancaman klinis, tetapi juga persoalan sosial.
Setiap kematian ibu berarti hilangnya pengasuh utama keluarga, hilangnya stabilitas ekonomi rumah tangga, dan lahirnya siklus kerentanan baru.
Target nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 adalah menurunkan AKI hingga 77 per 100.000 kelahiran hidup, sebuah ambisi besar yang membutuhkan percepatan lintas sektor.
Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG(K), MPH, FRANZCOG (Hons), menegaskan bahwa beban kesehatan perempuan Indonesia masih sangat berat.
"Setiap hari rata-rata 22 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas, setara dengan 1 ibu yang tidak kembali ke keluarganya setiap jam," ujarnya dalam dalam konferensi pers Program SPRIN (Selamatkan PeRempuan INdonesia) di Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025).
Selain AKI, kanker serviks juga masih menjadi ancaman diam-diam.
Lebih dari 20.000 perempuan meninggal setiap tahun, dan sebagian besar kasus ditemukan dalam stadium lanjut karena rendahnya skrining serta cakupan vaksinasi HPV.
Prof Budi menambahkan bahwa peran perempuan yang strategis justru membuat kesenjangan layanan ini semakin mendesak untuk ditangani.
"Perempuan memikul peran ganda sebagai pengasuh, penopang ekonomi, dan penjaga kesehatan keluarga, tetapi akses mereka terhadap informasi dan layanan ramah perempuan masih belum merata," tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-ibu-hamil-2.jpg)