Waspada Carrier Meningitis Tanpa Gejala, Dokter: Penular Terbanyak Justru Orang Sehat
Meningitis dapat menyebar cepat melalui orang-orang sehat yang membawa bakteri tanpa menyadari kondisinya.
Ringkasan Berita:
- Meningitis dapat menyebar cepat melalui orang-orang sehat yang membawa bakteri tanpa menyadari kondisinya
- Ruang padat, mobilitas tinggi membuat carrier dapat menularkan droplet berisi bakteri ke banyak orang dalam waktu singkat
- Pada kasus meningitis bakteri, perjalanan penyakit sangat cepat: dari demam ringan hingga kegawatan hanya dalam hitungan jam
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Meningitis bukan hanya ancaman bagi kelompok rentan seperti lansia atau penderita penyakit kronis.
Ancaman paling besar justru datang dari kelompok yang tampak paling sehat.
Baca juga: Bahaya Meningitis Mengintai Jamaah Haji-Umrah, Ini Pentingnya Vaksin Konjugat
Orang tanpa gejala sakit, sering kali menjadi carrier meningokokus tanpa gejala.
Carrier meningitis adalah seseorang yang membawa bakteri penyebab meningitis (misalnya Neisseria meningitidis) di saluran pernapasan tanpa menunjukkan gejala sakit, tetapi tetap bisa menularkan penyakit kepada orang lain.
Baca juga: Selain Meningitis, Pemerintah Wajibkan Vaksinasi Polio untuk Jemaah dan Petugas Haji 2025
Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Suzy Maria, menjelaskan bahwa meningitis dapat menyebar cepat melalui orang-orang sehat yang membawa bakteri tanpa menyadari kondisinya.
“Yang menjadi carrier itu justru pada remaja dan dewasa yang muda. Jadi orang-orang muda sehat inilah yang menjadi penularannya,” ujar dr. Suzy pada acara Kalventis Luncurkan Vaksin Meningitis Konjugat: Perlindungan Komprehensif bagi Jemaah di Jakarta Pusat, Kamis (4/12/2025).
Fenomena ini terjadi karena bakteri Neisseria meningitidis dapat hidup “menumpang” di rongga nasofaring tanpa menimbulkan gejala apa pun.
Nasofaring adalah bagian paling atas dari tenggorokan yang terletak di belakang rongga hidung dan di atas langit-langit lunak mulut.
Kondisi ini disebut kolonisasi. Bagi pembawa bakteri, kolonisasi tidak membahayakan, tetapi bagi orang lain, terutama yang imunitasnya menurun, risikonya dapat fatal.
Baca juga: Jemaah Haji Indonesia 2025 Wajib Vaksin Polio dan Meningitis
Mengapa remaja dan dewasa muda rentan menjadi carrier?
Dalam penjelasannya, dr. Suzy menerangkan bahwa pada usia muda, aktivitas sosial lebih intens, kedekatan fisik lebih sering terjadi, dan paparan lingkungan padat manusia lebih tinggi.
Semua ini memudahkan bakteri menempel dan berkembang biak di nasofaring.
Jika kondisi tersebut dibawa ke Tanah Suci, penyebarannya semakin masif.
Ruang padat, ibadah berjam-jam, dan mobilitas tinggi membuat carrier dapat menularkan droplet berisi bakteri ke banyak orang dalam waktu singkat.
“Droplet itu adalah percikan, lendir dari saluran napas yang mengandung kuman. Dan kemudian tinggallah permukaan benda-benda atau langsung dihirup oleh orang lain,” tutur dr. Suzy.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-mengenal-penyakit-meningitis-berikut-gejala-penyebab-dan-jenisnya.jpg)