Selasa, 21 April 2026

Tidak Cukup Sekadar Ada Sayur di Piring, Ini Kesalahan Gizi Anak yang Sering Terjadi

Anak tampak sudah makan sehat, tapi gizinya belum tentu cukup. Rendahnya kesadaran orang tua soal variasi dan porsi jadi masalah utama.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
freepik
BAHAN MAKANAN BERGIZI - Di tengah gencarnya kampanye gizi seimbang, tantangan pemenuhan zat gizi anak di Indonesia ternyata masih sangat mendasar. Banyak anak dianggap sudah makan dengan baik, padahal kualitas dan kecukupan gizinya belum tentu terpenuhi 

Ringkasan Berita:
  • Dokter gizi UI Diana Sunardi menilai tantangan utama pemenuhan gizi anak di Indonesia adalah rendahnya kesadaran orang tua terhadap kebutuhan zat gizi yang beragam dan cukup. 
  • Meski panduan gizi seperti Isi Piringku sudah tersedia, praktik di rumah masih sering salah kaprah, baik dari variasi maupun porsi. 
  • Akibatnya, anak berisiko kekurangan gizi mikro yang berdampak jangka panjang.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah gencarnya kampanye gizi seimbang, tantangan pemenuhan zat gizi anak di Indonesia ternyata masih sangat mendasar.

Banyak anak dianggap sudah makan dengan baik, padahal kualitas dan kecukupan gizinya belum tentu terpenuhi.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, menyebut persoalan ini berakar dari hal yang sering dianggap sepele, yakni kesadaran orang tua terhadap kebutuhan gizi anak yang sebenarnya.

“Tantangannya tadi seperti disampaikan, yang pertama kesadaran. Kesadaran bahwa seorang anak itu butuh beragam macam zat gizi, baik makro maupun mikronutrien,” ujar dr. Diana pada talkshow yang diselenggarakan Danone bertema Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Baca juga: BGN Tegaskan Menu MBG Saat Libur Sekolah Bebas UPF, Tetap Mengacu Gizi Seimbang

Panduan Gizi Ada, Tapi Kesadaran Masih Tertinggal

Indonesia sebenarnya memiliki berbagai panduan gizi yang mudah diakses masyarakat. 

Mulai dari konsep Isi Piringku hingga Tumpeng Gizi Seimbang yang kerap dipajang di fasilitas kesehatan, sekolah, dan ruang publik.

Namun, keberadaan panduan tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan dalam praktik sehari-hari di rumah. 

Banyak orang tua merasa anaknya sudah makan “cukup sehat” hanya karena ada sayur di piring, tanpa memperhatikan variasi jenis dan kecukupan porsinya.

Kesadaran inilah yang menjadi tantangan utama dalam pemenuhan gizi anak di Indonesia.

Makan Sayur Bukan Sekadar Ada, Tapi Harus Beragam

Menurut dr. Diana, kebutuhan zat gizi anak tidak bisa dipenuhi hanya dari satu atau dua jenis bahan makanan. 

Keragaman pangan menjadi kunci agar anak mendapatkan spektrum zat gizi yang lengkap.

“Karena zat gizi yang beragam ini bisa didapatkan dari makan makanan yang beragam. Jadi kalau makan sayur nggak boleh cuma wortel terus saja,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa pengenalan variasi makanan memang perlu dilakukan secara bertahap, agar anak dapat menerima rasa dan tekstur yang berbeda tanpa paksaan.

Proses ini penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat jangka panjang.

Baca juga: BGN Harap SPPG Kreatif Edukasi Anak soal Gizi: Driver MBG Boleh Berkostum Power Ranger

Masalah Klasik: Jumlah yang Sering Terlupakan
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved