Tidak Cukup Sekadar Ada Sayur di Piring, Ini Kesalahan Gizi Anak yang Sering Terjadi
Anak tampak sudah makan sehat, tapi gizinya belum tentu cukup. Rendahnya kesadaran orang tua soal variasi dan porsi jadi masalah utama.
Selain variasi, persoalan lain yang kerap luput dari perhatian adalah jumlah asupan.
Tidak sedikit orang tua merasa anak sudah mengonsumsi sayur dan makanan bergizi, padahal porsinya terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan harian.
“Seringkali kan lupa. Soalnya seringkali kita merasa bahwa ah kita sudah makan sayur kok, tapi sebenarnya hanya sayur sop yang jumlah seratnya sedikit mungkin itu sih,” kata dr. Diana.
Kondisi ini membuat anak berisiko mengalami kekurangan serat dan zat gizi mikro meskipun secara kasat mata tampak sudah makan lengkap.
Dampak Jangka Panjang dari Gizi yang Tidak Optimal
Pemenuhan gizi yang kurang optimal pada masa anak-anak dapat berdampak panjang terhadap pertumbuhan fisik, daya tahan tubuh, hingga kemampuan belajar.
Anak yang kekurangan zat gizi penting berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang, mudah sakit, dan sulit mencapai potensi maksimalnya.
Masalah ini juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada tingginya angka stunting dan masalah gizi lainnya di Indonesia.
Diana menekankan bahwa kunci perbaikan gizi anak dimulai dari rumah.
Orangtua perlu mengubah cara pandang bahwa makan sehat bukan sekadar kenyang, melainkan terpenuhi kebutuhan zat gizi yang beragam dan cukup.
Dengan kesadaran yang lebih baik, variasi makanan yang lebih luas, serta perhatian pada jumlah porsi, kualitas gizi anak dapat ditingkatkan tanpa harus selalu bergantung pada makanan mahal atau produk khusus.
Pemenuhan gizi anak bukan soal instan, tetapi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan tangguh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-makanan-sehat-dan-bergizi.jpg)