Virus Influenza
Menkes Sebut Kematian Akibat Super Flu Rendah
Menkes Budi Gunadi Sadikin menyebut, tingkat kematian akibat inlfuenza A (H3N2) subclade K atau super flu tergolong rendah.
Ringkasan Berita:
- Menkes Budi Gunadi Sadikin jelaskan tingkat kematian akibat inlfuenza A (H3N2) subclade K atau super flu tergolong rendah.
- Dari laporan kasus super flu di Indonesia masih kategori berisiko rendah atau bisa sembuh sendiri.
- Budi meminta, masyarakat tidak terlalu khawatir berlebihan namun tetap waspada.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin menyebut, tingkat kematian akibat inlfuenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal masyarakat awam dengan super flu tergolong rendah.
Budi meminta, masyarakat tidak terlalu khawatir berlebihan namun tetap waspada.
Baca juga: Bukan Super Flu, Menkes Lebih Khawatir Penyakit Ini Menyebar di Pengungsian Korban Bencana
Ia mengatakan, virus jenis ini sudah ada sejak lama dan selalu muncul saat memasuk musim dingin.
“Bukan satu virus baru seperti yang Covid-19. Jadi penularannya cepat, tetapi kematiannya sangat rendah. Dan ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin, di negara-negara maju selalu terjadi kenaikan,” kata dia baru-baru ini.
Mantan Dirut Bank Mandiri ini mengatakan, dari laporan kasus super flu di Indonesia masih kategori berisiko rendah atau bisa sembuh sendiri.
Super flu sendiri merupakan virus yang bermutasi dari influenza A (H3N2) dengan subclade K.
“Keluar dengan varian baru yaitu subclade K. Jadi di Indonesia saya lihat laporan terakhir masih puluhan. Dan tidak parah, bisa dengan pengobatan biasa tetap sembuhnya,” ungkap Budi.
Budi berharap, masyarakat tidak terlalu khawatir berlebihan namun tetap waspada.
“Yang penting apa, kalau imunitas bagus, makan, tidur, olahraga cukup. Maka bisa melawan virus yang masuk. Kalau sedang flu pakai masker dan rajin cuci tangan,” tuturnya.
Fatal pada Kelompok yang Rentan
Meskipun virus Influenza A subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan, akan tetapi virus ini tetap perlu diwaspadai.
Berdasarkan kabar terbaru, 1 orang meninggal dunia di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung usai terjangkit super flu.
Baca juga: Menkes soal Super Flu: Hati-hati tapi Jangan Panik, Flu Biasa Tak seperti Covid-19
Pasien tersebut memiliki penyakit penyerta atau komorbid yaitu stroke, gagal jantung, infeksi serta gagal ginjal.
Gejala super flu bisa menjadi berat pada anak dan lansia yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid seperti asma, penyakit jantung, diabetes, atau penyakit kronis lainnya.
“Harus tetap waspada, karena virus influenza H3N2 memang dapat berakibat fatal pada orang yang rentan, seperti lansia,” jelas dosen mikrobiologi UGM, Prof. dr. Tri Wibawa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasu-flu122222.jpg)