Kamis, 23 April 2026

Menkes Budi Sadikin: Kusta Penyakit Bakteri dan Bisa Sembuh

Kusta bukan penyakit mistik atau kutukan, melainkan penyakit menular yang telah lama dipahami secara ilmiah dan dapat disembuhkan.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Choirul Arifin
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
EDUKASI PENYAKIT KUSTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kiri) bersama WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination Yosei Sasakawa (kanan) memberi keterangan di acara Media Breafing dengan tema 'Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan ' di Wisma Perpustakaan Habibie Center, Jakarta, Kamis (15/1/2026). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 
Ringkasan Berita:
  • Kusta bukan penyakit mistik atau kutukan, melainkan penyakit menular yang telah lama dipahami secara ilmiah dan dapat disembuhkan.
  • Pemeriksaan dini sangat dibutuhkan untuk memutus rantai penularan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
  • Gejala kusta ditandai dengan munculnya bercak kulit merah atau putih yang tidak gatal, tampak mengkilap atau kering bersisik serta kulit yang tidak berkeringat. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri apabila mengalami gejala kusta.

Ia menegaskan, kusta bukan penyakit mistik atau kutukan, melainkan penyakit menular yang telah lama dipahami secara ilmiah dan dapat disembuhkan.

“Kusta bukan penyakit mistik atau kutukan. Ini penyakit yang disebabkan oleh bakteri, dan ilmu pengetahuannya sudah jelas sejak lebih dari satu abad lalu,” ujar Menkes Budi dilansir dari website resmi Kementerian Kesehatan, Jumat (16/1/2026). 

Munculnya kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Terjadinya penyakit ini merupakan hasil interaksi berbagai faktor, yakni pejamu (host), kuman (agent), dan lingkungan.

Penularan kusta tidak terjadi secara cepat, melainkan melalui kontak yang erat dan berkepanjangan dengan seseorang yang terinfeksi. 

Karena itu, pemeriksaan dini menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Waspadai Gejala Kulit dan Gangguan Saraf

Gejala kusta dapat ditandai dengan munculnya bercak kulit merah atau putih yang tidak gatal, tampak mengkilap atau kering bersisik, serta kulit yang tidak berkeringat. 

Selain itu, dapat terjadi rontoknya alis mata, penebalan pada wajah dan telinga, serta lepuh atau luka tidak nyeri pada tangan atau kaki.

Baca juga: Indonesia Negara Ketiga Terbanyak Penderita Kusta, Yohei Sasakawa: Obati, Jangan Didiskriminasi

Gangguan saraf juga kerap menyertai, seperti nyeri saraf tepi, kesemutan, rasa tertusuk atau nyeri pada anggota gerak, kelemahan otot atau kelopak mata.

Hingga disabilitas atau deformitas tanpa riwayat kecelakaan. Pada sebagian kasus, ulkus yang sulit sembuh juga dapat muncul.

Perlu Pengobatan Efektif

Menkes Budi menegaskan bahwa pengobatan kusta telah tersedia dan terbukti efektif. Ia menekankan bahwa risiko penularan dapat dihentikan dalam waktu singkat setelah pengobatan dimulai.

“Begitu pengobatan dimulai, dalam waktu kurang dari satu minggu pasien sudah tidak menularkan lagi,” jelasnya.

Pernyataan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketakutan masyarakat untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Meski pengobatan tersedia, Menkes Budi mengakui stigma dan disinformasi masih menjadi tantangan dalam penanganan kusta. 

Baca juga: Kemenkes: Dua WNI Terinfeksi Kusta di Rumania Bakal Dipulangkan ke Indonesia

Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat enggan memeriksakan diri sehingga penemuan kasus sering kali terlambat.

Peneliti The Habibie Center, Ansori, menilai bahwa penanganan kusta tidak dapat dilihat hanya dari sisi medis semata. Faktor sosial memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pengendalian penyakit ini.

“Banyak orang yang sebenarnya sudah mengetahui dirinya terkena kusta, tetapi memilih menyembunyikannya karena takut terhadap konsekuensi sosial,” ujar Ansori.

Ia menambahkan bahwa stigma dan diskriminasi membuat penderita enggan berobat, sehingga berdampak pada keterlambatan deteksi dan proses penyembuhan.

WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa menegaskan, upaya pengendalian kusta tidak hanya berfokus pada aspek medis.

“Eliminasi kusta tidak hanya tentang pengobatan medis, tetapi juga tentang menghapus stigma dan memulihkan martabat manusia,” kata Sasakawa.

Melalui ajakan tersebut, Menkes Budi kembali menekankan pentingnya peran masyarakat untuk tidak ragu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala kusta, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved