Minggu, 3 Mei 2026

Inovasi Teknologi Medis, Meminimalkan Radiasi Jaringan Sehat pada Pasien Kanker saat Terapi

Selain itu, penggunaan CT-Linac bertujuan meningkatkan akurasi pemberian dosis radiasi pada jaringan tumor.

Tayang:
HO/IST
TEKNOLOGI KESEHATAN - Dokter Spesialis Onkologi Radiasi MRCCC Siloam Semanggi dr. Denny Handoyo Kirana, SpOnkRad (K) menjelaskan cara kerja teknologi Integrated CT-LINAC pada Kamis, 22 Januari 2026 di MRCCC Siloam Semanggi. 

Ringkasan Berita:
  • Kanker payudara menjadi jenis kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia
  • Seiring meningkatnya beban penyakit kanker, pemanfaatan teknologi medis dalam diagnosis dan terapi terus berkembang
  • Dukungan teknologi kecerdasan buatan juga memungkinkan proses diagnosis dan perencanaan terapi dilakukan secara adaptif sesuai dengan kondisi aktual pasien

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menetapkan penguatan layanan kanker sebagai salah satu prioritas kesehatan nasional, yang mencakup upaya pencegahan, deteksi dini, hingga pengobatan komprehensif.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, kanker payudara menjadi jenis kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia. Tercatat sebanyak 66.271 kasus baru atau sekitar 16,2 persen dari total seluruh kasus kanker.

Penyakit ini juga menyebabkan 22.598 kematian, dengan prevalensi lima tahun mencapai 209.748 kasus pada perempuan.

Seiring meningkatnya beban penyakit kanker, pemanfaatan teknologi medis dalam diagnosis dan terapi terus berkembang.

Salah satu inovasi yang kini digunakan dalam layanan kanker adalah CT-Linac (Computed Tomography–Linear Accelerator), teknologi yang mengintegrasikan pencitraan CT scan dengan sistem radioterapi linear accelerator dalam satu perangkat.

Teknologi CT-Linac memungkinkan proses pencitraan, perencanaan terapi, hingga penyinaran dilakukan dalam satu sesi tanpa memindahkan posisi pasien.

Baca juga: Gaya Hidup hingga Tingginya Kasus Virus Hepatitis Picu Peningkatan Kanker Hati

Berbeda dengan radioterapi konvensional yang memerlukan beberapa tahapan terpisah, pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi layanan.

Waktu pelayanan, mulai dari persiapan hingga penyinaran, berkisar antara 15 hingga 25 menit.

Secara klinis, penggunaan CT-Linac bertujuan meningkatkan akurasi pemberian dosis radiasi pada jaringan tumor serta meminimalkan paparan radiasi pada jaringan sehat di sekitarnya.

Dukungan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga memungkinkan proses diagnosis dan perencanaan terapi dilakukan secara adaptif sesuai dengan kondisi aktual pasien.

“Pendekatan ini memungkinkan penyesuaian terapi berdasarkan kondisi pasien secara real time, mengurangi paparan radiasi yang tidak diperlukan, serta memperpendek waktu tunggu tanpa mengurangi kualitas hasil klinis,” ujar Dokter Spesialis Onkologi Radiasi, dr. Denny Handoyo Kirana, di Jakarta, Kamis (22/1).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan RI, dr. Obrin Parulian, menekankan  pengembangan teknologi radioterapi presisi harus diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia, sistem rujukan yang efektif, serta kebijakan pembiayaan yang berkelanjutan.

Ke depan, fasilitas radioterapi berbasis teknologi presisi seperti CT-Linac diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengobatan, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan tenaga kesehatan, serta menjadi model layanan yang dapat direplikasi di rumah sakit lain di Indonesia.

Meski teknologi terus berkembang, Kemenkes menegaskan bahwa profesionalisme, empati, dan komitmen tenaga kesehatan tetap menjadi elemen kunci dalam mewujudkan pelayanan kanker yang berorientasi pada pasien.

Pertama di Indonesia dan Asia Tenggara

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved