Kesehatan Mental Dinilai Perlu Menjadi Bagian Strategi Pembangunan Nasional
Dia menekankan, kesehatan mental seharusnya dipandang sebagai investasi nasional, bukan semata isu personal atau medis.
Ringkasan Berita:
- Pembangunan Indonesia selama ini terlalu berfokus pada infrastruktur fisik, sementara kesehatan mental masyarakat justru luput dari perhatian serius
- Menurutnya, ukuran kemajuan nasional selama ini masih didominasi indikator ekonomi, seperti pertumbuhan investasi dan indeks pembangunan manusia
- Padahal, kata dia, seluruh capaian tersebut hanya bisa berkelanjutan jika mentalitas manusianya terjaga dengan baik
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tokoh Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal, menilai pembangunan Indonesia selama ini terlalu berfokus pada infrastruktur fisik, sementara kesehatan mental masyarakat justru luput dari perhatian serius.
Menurutnya, pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, hingga ibu kota baru berjalan cepat, namun stabilitas mental warga negara yang menggerakkan seluruh mesin pembangunan tersebut belum diperlakukan sebagai fondasi utama bangsa.
Baca juga: Anggota DPR Sebut Kasus Anak Akhiri Hidup di Demak Bukti Negara Gagal Jamin Kesehatan Mental
“Indonesia sedang bergerak cepat, tetapi ada satu infrastruktur yang jarang dibicarakan dengan keseriusan yang sama, yakni stabilitas mental masyarakatnya,” ujar Syam kepada wartawan, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, ukuran kemajuan nasional selama ini masih didominasi indikator ekonomi, seperti pertumbuhan investasi dan indeks pembangunan manusia. Padahal, kata dia, seluruh capaian tersebut hanya bisa berkelanjutan jika mentalitas manusianya terjaga dengan baik.
Baca juga: Ketua DPR RI Ingatkan Pentingnya Kesehatan Mental Anak Usai Siswa SD di NTT Meninggal
Syam juga mengutip data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan jutaan warga berpotensi mengalami gangguan kesehatan jiwa, mulai dari kecemasan hingga depresi yang mengganggu fungsi sosial.
“Ini bukan sekadar statistik klinis. Ini adalah indikator kapasitas produktivitas bangsa. Negara dengan tekanan mental tinggi akan melahirkan keputusan yang berasal dari ketakutan, bukan kejernihan,” kata dia.
Dia menekankan, kesehatan mental seharusnya dipandang sebagai investasi nasional, bukan semata isu personal atau medis.
Gangguan mental yang tak tertangani, lanjutnya, berdampak langsung pada turunnya produktivitas, meningkatnya konflik kerja, hingga membengkaknya biaya kesehatan negara.
Ia menilai negara-negara maju telah menempatkan kesehatan mental sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, ia mendorong Indonesia untuk bergerak ke arah yang sama.
“Stabilitas fiskal tanpa stabilitas psikologis akan selalu rapuh,” katanya.
Dia pun menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas dalam membangun infrastruktur mental bangsa. Pemerintah didorong memasukkan kesehatan mental dalam kebijakan lintas sektor, sementara dunia usaha perlu melihat kesejahteraan psikologis karyawan sebagai investasi jangka panjang.
Di sisi lain, ia mengkritik budaya yang menormalisasi stres berlebihan di masyarakat. Menurutnya, narasi seperti “namanya juga hidup” justru menjadikan masalah mental sebagai bom waktu.
“Ketahanan bangsa bukan hanya soal militer atau politik, tetapi stabilitas emosi kolektif. Bangsa yang kuat bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling stabil batinnya,” tutur Syam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-kesehatan-mental-76.jpg)