Rabu, 13 Mei 2026

Kesehatan Mental Dinilai Perlu Menjadi Bagian Strategi Pembangunan Nasional

Dia menekankan, kesehatan mental seharusnya dipandang sebagai investasi nasional, bukan semata isu personal atau medis. 

Tayang:
Penulis: Reza Deni
freepik
ILUSTRASI KESEHATAN MENTAL - Ukuran kemajuan nasional selama ini masih didominasi indikator ekonomi, seperti pertumbuhan investasi dan indeks pembangunan manusia. Padahal, seluruh capaian tersebut hanya bisa berkelanjutan jika mentalitas manusianya terjaga dengan baik. 

Tindak lanjut dari pandangannya itu merujuk pada pentingnya kolaborasi aktif, baik antara pihak pemerintah, swasta maupun komunitas yang aktif di lingkungan masyarakat.

"Membangun infrastruktur mental bangsa tidak bisa dilakukan satu sektor saja. Dibutuhkan arsitektur kolaboratif," tegasnya.

Pertama kata Syam, pemerintah perlu memasukkan kesehatan mental dalam kebijakan publik lintas sektor, mulai dari pendidikan, ketenagakerjaan, hingga perencanaan pembangunan daerah. Program preventif jauh lebih efektif dibanding pendekatan kuratif.

Baca juga: Hadapi Tantangan NEET dan Kesehatan Mental, Kemenpora Perkuat Kolaborasi Daerah

Kemudian yang kedua, di mana sektor swasta perlu memahami bahwa kesejahteraan psikologis karyawan bukan biaya tambahan, melainkan investasi terhadap keberlanjutan bisnis. Pelatihan regulasi emosi, kepemimpinan sadar, dan budaya kerja sehat akan menurunkan turnover serta meningkatkan loyalitas.

Ketiga, komunitas dan lembaga sosial memiliki peran membangun literasi kesadaran di akar rumput. Inilah ruang di mana gerakan seperti dan hadir bukan sebagai klinik reaktif, tetapi sebagai pusat penguatan mental preventif.

"Kita tidak menunggu krisis untuk bergerak. Kita membangun fondasi sebelum keretakan muncul," jelas Syam Basrijal.

Dari Reaktif ke Preventif

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa budaya bangsa Indonesia cukup sering menormalisasi kelelahan dan tekanan dengan suatu afirmasi yang sebenarnya tidak perlu, seperti halnya narasi ; "Sudah biasa stres” atau “Namanya juga hidup.” Pernyataan seperti itu menurutnya justru membuat masalah laten menjadi bom waktu yang kapan pun bisa meledak.

Oleh sebab itu, pendekatan preventif penting untuk membangun kesadaran sejak dini, mulai dari sekolah, kantor, maupun keluarga. Bisa juga dengan mengajarkan anak untuk mengenali emosinya, kemudian membiasakan untuk menghidupkan ruang komunikasi yang lebih intens bahkan solutif.

"Melatih pemimpin agar tidak memimpin dari luka batin yang tidak selesai. Mendorong ruang dialog yang sehat di masyarakat. Ini bukan romantisme spiritual. tapi strategi nasional," paparnya.

Di sisi lain, Ia juga menggarisbawahi jika bangsa yang kuat bukan bangsa yang paling keras suaranya, tetapi yang paling stabil batinnya. Karena stabilitas batin melahirkan keputusan jernih. Keputusan jernih melahirkan kebijakan berkelanjutan. Kebijakan berkelanjutan melahirkan kepercayaan publik.

Baca juga: Kondisi Mata Gibran Disebut Ptosis oleh Tompi, Dokter Tifa: Ada Kaitan dengan Kesehatan Mental

Dan kepercayaan publik adalah modal sosial terbesar sebuah negara.

"Jika kita ingin Indonesia maju secara ekonomi, kuat secara politik, dan dihormati secara global, maka kita harus berani mengakui satu hal mendasar: kesehatan mental bukan isu pinggiran. Ia adalah fondasi," kata Syam.

Terakhir, ia mengajak semua pihak untuk berkolaborasi melakukan kesadaran kolektif bahwa pembangunan nasional tidak bisa serta merta hanya fokus pada pembangunan infrastruktur fisik semata, akan tetapi ada penguatan infrastruktur yang tak boleh dikalahkan, yakni infrastruktur kesadaran.

"Kita telah membangun banyak infrastruktur fisik. Kini saatnya membangun infrastruktur kesadaran. Karena ketahanan bangsa pada akhirnya tidak diukur dari seberapa tinggi gedungnya, tetapi dari seberapa stabil jiwa warganya," pungkasnya.

 

 


 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved