Selasa, 28 April 2026

Wabah Campak

Indonesia Nomor 2 Dari 10 Negara dengan Jumlah KLB Campak Terbanyak di Dunia

Kewaspadaan campak atau “Measles Alert” kini jadi perhatian global.Berikut 10 negara dengan kasus KLB campak terbanyak di dunia. Indonesia nomer 2.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Campak masih jadi masalah kesehatan global termasuk Indonesia.
  • Terakhir, otoritas Kesehatan Australia Barat mengeluarkan peringatan setelah seorang penumpang pesawat dari Jakarta tertular campak
  • Merujuk data WHO, Indonesia menjadi 2 teratas dari daftar 10 negara di dunia dengan kasus luar biasa (KLB) campak terbanyak (Global Measles Outbreaks).

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kewaspadaan campak atau “Measles Alert” kini jadi perhatian global.

Baru-baru ini, Otoritas Kesehatan Australia Barat mengeluarkan peringatan tersebut setelah seorang penumpang pesawat dari Jakarta tanggal 7 Februari 2026 dan sampai ke Perth tanggal 8 Februari 2026 dilaporkan positif campak.

Baca juga: Australia Barat Laporkan Kasus Campak dengan Riwayat Penerbangan dari Jakarta, Ini Langkah Kemenkes

Atas peristiwa itu, campak masih jadi masalah kesehatan global termasuk Indonesia.

Center of Diseases Control dan Prevention atau CDC Amerika Serikat pada 11 Februari 2026 merilis daftar 10 negara di dunia dengan kasus luar biasa (KLB) campak terbanyak (Global Measles Outbreaks) yang merujuk data WHO.

Top 10 countries with measles outbreaks didasarkan pada data pengawasan bulanan sementara yang dilaporkan kepada WHO per Januari 2026.

Baca juga: Menkes Waspadai Ancaman Campak Usai Banjir Sumatera, Vaksinasi Digencarkan di Lokasi Pengungsian

Data yang tercantum mencakup periode Juli 2025 - Desember 2025.

Berikut 10 negara dengan kasus KLB campak terbanyak di dunia:

  • 1.       Yaman – 11.288 kasus
  • 2.       Indonesia – 10.744 kasus
  • 3.       India – 9.666 kasus
  • 4.       Pakistan – 7.361 kasus
  • 5.       Angola – 4.843 kasus
  • 6.       Republik Demokratik Rakyat Laos – 3.167 kasus
  • 7.       Meksiko – 2.846 kasus
  • 8.       Nigeria – 2.755 kasus
  • 9.       Afghanistan – 2.668 kasus
  • 10.   Mongolia – 2.551 kasus

Cakupan Imunisasi Disorot

Bidan Desa Yudha Purwanidyah (kanan) menyuntikan vaksin kepada balita saat imunisasi di Posyandu Balai Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Kamis (2/2/2023). Imunisasi tersebut dilakukan sebagai antisipasi untuk meminimalisir anak dari dampak terpapar campak. Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengimbau para orang tua untuk segera membawa putra-putrinya melakukan imunisasi terutama untuk imunisasi campak. Baik melalui posyandu, puskesmas atau bisa dilakukan di sekolah dasar (SD) secara gratis. SURYA/PURWANTO
Bidan Desa Yudha Purwanidyah (kanan) menyuntikan vaksin kepada balita saat imunisasi di Posyandu Balai Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Kamis (2/2/2023). Imunisasi tersebut dilakukan sebagai antisipasi untuk meminimalisir anak dari dampak terpapar campak. Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengimbau para orang tua untuk segera membawa putra-putrinya melakukan imunisasi terutama untuk imunisasi campak. Baik melalui posyandu, puskesmas atau bisa dilakukan di sekolah dasar (SD) secara gratis. SURYA/PURWANTO (SURYA/SURYA/PUR)

Pakar kesehatan Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, dari data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia perlu memberi perhatian penuh pada pengendalian penyakit campak termasuk pula meningkatkan cakupan imunisasi di tanah air.

Menurutnya, meningkatnya kasus campak di Indonesia berkaitan dengan turunnya cakupan imunisasi rutin lengkap dalam beberapa tahun terakhir.

Disebutkan, cakupan imunisasi rutin lengkap di Indonesia pernah mencapai 92 persen pada 2018, namun turun menjadi hanya 87,8 persen pada 2023.

Cakupan imunisasi campak-rubela (MR) dosis pertama (MR1) dan kedua (MR2) juga masih jauh dari target 95 persen untuk membentuk kekebalan kelompok.

Pada 2024, cakupan MR1 sebesar 92 persen dan MR2 sebesar 82,3 persen.

“Tren ini berimbas langsung pada meningkatnya kasus campak,” tutur dia kepada Tribunnews.com, Senin (23/2).

Selain itu, ada KLB campak di sejumlah wilayah di Indonesia.

Tahun 2022 dilaporkan sebanyak 64 KLB, kemudian tahun 2023 meningkat menjadi 95 KLB.

Pada tahun 2024 menurun menjadi 53 KLB, namun kembali meningkat di tahun 2025, sampai bulan Agustus tercatat sudah terjadi sebanyak 46 KLB.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman mengatakan, data nasional menunjukkan, pada tahun 2025 tercatat 9.760 kasus terkonfirmasi campak.

Hingga Februari 2026 dilaporkan 269 kasus campak.

“Sampai Februari ini tidak terdapat penetapan KLB campak secara nasional. Pemantauan terus dilakukan melalui sistem surveilans aktif,” kata Aji yang dihubungi terpisah.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk memastikan status imunisasi campak lengkap sesuai jadwal, terutama bagi pelaku perjalanan internasional.

Masyarakat yang mengalami gejala demam dan ruam diharapkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, dan bagi yang terinfeksi campak agar membatasi kontak dengan orang lain untuk mencegah penularan.

Peringatan Australia Barat:Satu Pasien Campak Usai Perjalanan dari Indonesia 

Otoritas kesehatan Australia Barat (Western Australia/WA) mengeluarkan peringatan campak pasca  seorang penumpang penerbangan dari Jakarta ke Perth terkonfirmasi positif penyakit tersebut.

Kasus ini menjadi bagian dari dua infeksi campak yang teridentifikasi di WA sepanjang 2026.

Akibatnya, otoritas setempat melakukan penelusuran paparan di sejumlah lokasi umum, termasuk bandara, restoran, dan tempat ibadah di Perth.

Peringatan ini diperbarui pada 12 Februari 2026 dan dikeluarkan oleh Direktur Direktorat Pengendalian Penyakit Menular WA, Dr. Paul Armstrong.

Dalam peringatan yang dirilis di website resmi Wa dilaporkan bahwa satu kasus campak terdeteksi pada penumpang penerbangan: Batik Air ID6080.

Rute: Jakarta – Perth pada Sabtu, 7 Februari 2026, pukul 18.55 – 00.40 setempat.

Penumpang tersebut tiba di Terminal 1 Bandara Perth pada Minggu dini hari (8 Februari 2026).

Otoritas kesehatan WA merilis sejumlah lokasi yang dikunjungi pasien saat dalam masa menular:

Pertama, Terminal 1 Bandara Perth pada 8 Februari 2026 pukul  00.40 – 01.30.

Kedua, Oikos Church pada  8 Februari 2026 pukul 11.30 – 14.15.

Ketiga, Chopsticks Viet pada 8 Februari 2026 pukul 17.30 – 19.00.

Masyarakat yang berada di lokasi tersebut pada tanggal dan waktu yang disebutkan diminta untuk memantau gejala selama 7 hingga 18 hari setelah kunjungan.

Masih dalam peringatan yang sama, otoritas menyebutkan gejala yang patut diwaspadai saat seseorang terinfeksi campak.

 

Mengenal Campak dan Gejalanya 

Penyakit campak sudah lama dikenal luas di masyarakat.

Penyakit ini sering menyerang anak-anak, khususnya bayi dan balita, walaupun orang dewasa yang tidak pernah divaksin atau belum pernah mengalami campak juga berisiko terkena.

Sering dianggap penyakit biasa, campak bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat. 

Campak atau sering disebut dengan "rubeola" adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus.

Penyakit ini sangat menular dan ditandai dengan gejala-gejala seperti demam, batuk, pilek, mata merah, serta ruam khas yang muncul di seluruh tubuh.

Campak menular melalui virus genus Morbillivirus dari keluarga Paramyxoviridae yang ditularkan melalui percikan air liur, kontak langsung maupun benda yang terkontaminasi virus tersebut.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved