Sering Disangka Anemia Biasa, Lemas dan Mudah Memar Bisa Jadi Tanda Penyakit Langka
Gejala anemia dan gangguan ginjal bisa jadi tanda Atypical Hemolytic Uremic Syndrome, penyakit langka yang sering terlambat dikenali
Ringkasan Berita:
- Gejala lemas, pucat, dan mudah memar tak selalu sekadar anemia. Dokter mengingatkan kemungkinan Atypical Hemolytic Uremic Syndrome (aHUS), penyakit langka yang menyerang darah dan ginjal
- Kondisi ini kerap terlambat terdiagnosis karena mirip penyakit lain
- Kombinasi anemia hemolitik, trombosit rendah, dan gangguan ginjal harus diwaspadai agar terapi tepat bisa segera diberikan.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Lemas, pucat, mudah memar. Banyak orang langsung mengira itu hanya anemia biasa atau kurang darah.
Padahal, dalam kondisi tertentu, kombinasi gangguan darah dan ginjal bisa menjadi tanda penyakit langka yang mengancam jiwa.
Di antaranya Atypical Hemolytic Uremic Syndrome (aHus).
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik, dr. Hayatun Nufus, Sp.PD, MD, KHOM, mengingatkan bahwa penyakit ini kerap tidak disadari karena gejalanya menyerupai penyakit lain.
“Memang betul sekali bahwa kadang-kadang atau seringkali kita tidak sadar mengenai diagnosis ini. Karena tampilannya mungkin mirip dengan penyakit-penyakit lain,"ungkapnya pada sesi edukasi media diselenggarakan AstraZeneca dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Jaya, Sabtu (28/2/2026).
Baca juga: Hari Penyakit Langka 2026: Waspadai aHUS, Gangguan Langka yang Bisa Sebabkan Gagal Ginjal Permanen
Akibatnya, banyak pasien sudah berobat ke beberapa dokter sebelum akhirnya terdiagnosis dengan tepat.
Salah satu tanda penting yang harus diwaspadai adalah kelainan darah.
Bisa berupa anemia hemolitik, yaitu kondisi ketika sel darah merah pecah lebih cepat dari seharusnya sehingga hemoglobin turun drastis.
Selain itu, trombosit juga bisa menurun di bawah 190 ribu atau turun lebih dari 25 persen dari nilai awal.
Jika trombosit rendah, pasien bisa mengalami memar tanpa sebab jelas, mudah berdarah, atau muncul lebam-lebam.
Jika hemoglobin turun, pasien tampak pucat, cepat lelah, sulit konsentrasi, bahkan kulit terlihat lebih pucat dari biasanya.
Untuk memastikan anemia hemolitik, dokter tidak hanya melihat hemoglobin.
Pemeriksaan lanjutan seperti retikulosit, bilirubin, dan hapusan darah tepi dilakukan.
Pada pemeriksaan mikroskopis, dokter dapat menemukan pecahan sel darah merah yang disebut schistocyte sebagai petunjuk hemolisis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kebutuhan-untuk-cuci-darah-meningkat.jpg)