Ibu Baru Mudah Cemas dan Menangis Usai Melahirkan, Ini Penjelasan Psikolog
Perasaan mudah sedih, cemas, sensitif serta tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas kerap muncul setelah proses persalinan atau kelahiran sang bayi
Ringkasan Berita:
- Dengan komunikasi yang baik, suami dapat membantu meringankan beban ibu, misalnya dengan berbagi tugas merawat bayi atau membantu pekerjaan rumah tangga.
- Jika kondisi baby blues berlangsung lebih lama atau semakin berat, ibu disarankan untuk segera mencari bantuan profesional.
- Banyak ibu lain mengalami hal yang sama dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Momen kelahiran bayi sering digambarkan sebagai masa paling membahagiakan bagi seorang ibu. Namun dibalik kebahagiaan tersebut, tidak sedikit ibu baru yang justru mengalami perubahan emosi secara drastis.
Baca juga: Fokus Ngurus Anak, Erika Carlina Akui Tak Alami Baby Blues
Perasaan mudah sedih, cemas, sensitif bahkan tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas kerap muncul setelah proses persalinan. Kondisi ini dikenal sebagai baby blues, yaitu gangguan emosional yang umum dialami ibu pada masa awal setelah melahirkan.
Psikolog Anak dan Keluarga Friska Asta M.Psi.T mengatakan fenomena ini sebenarnya sudah ada sejak lama, hanya saja dulu belum banyak dibicarakan secara terbuka di masyarakat.
“Sebenernya ada yang mengatakan kayaknya jaman dulu nggak ada baby blues. Eh siapa tau ada, tapi belum ada namanya saja,” ungkapnya pada acara BEBIOTIC x SONOBEBE Meet and Greet & Store Visit di Tangerang, Senin (9/3/2026).
Menurut Friska, pada masa lalu banyak ibu yang mungkin merasakan kondisi tersebut, namun tidak memiliki ruang untuk mengungkapkan perasaan mereka karena tekanan sosial yang mengharuskan ibu selalu terlihat kuat setelah melahirkan.
Kelelahan Fisik
Friska menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama baby blues adalah kelelahan fisik yang dialami ibu setelah proses persalinan.
Perubahan pola tidur menjadi tantangan besar bagi ibu baru. Bayi yang baru lahir membutuhkan perhatian hampir sepanjang waktu, termasuk pada malam hari, sehingga ibu harus sering terbangun.
“Capek banget secara fisik karena jam tidur berubah, harus bangun per 5 menit, mungkin harus bangun per 10 menit dan itu sangat melelahkan,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat tubuh ibu belum sepenuhnya pulih, sementara tuntutan merawat bayi terus berjalan. Kelelahan yang berkepanjangan inilah yang kemudian dapat memengaruhi kondisi emosional ibu.
Baca juga: Siti Badriah Trauma Alami Baby Blues setelah Melahirkan, Singgung Peran Krisjiana
Dalam situasi tersebut, dukungan pasangan menjadi faktor yang sangat penting agar ibu dapat melewati masa baby blues dengan lebih baik.
Friska menekankan bahwa komunikasi terbuka antara suami dan istri menjadi langkah pertama yang harus dilakukan ketika ibu mulai merasakan gejala baby blues.
“Pertama kalau kita merasakan baby blues, kita harus pertolongan pertama adalah ke suami kita. Suami kita harus tahu kalau kita nggak baik-baik aja,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Baby-blues-diskusi.jpg)