Program Makan Bergizi Gratis
Tantangan MBG di Daerah 3T, Pakar Kesehatan Ingatkan Distribusi hingga Risiko Gizi Tak Seimbang
Program MBG di i wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dinilai berpotensi banyak tantangan termasuk distribusi hingga risiko kecukupan gizi.
Dicky juga menyoroti potensi masalah kualitas gizi dalam program tersebut.
“Ada potensi standar gizinya tidak terbangun sesuai sasaran atau sesuai tujuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa makanan yang diberikan bisa saja hanya mengenyangkan tanpa memenuhi kebutuhan nutrisi.
“Karena kalorinya bisa cukup bikin kenyang, tapi proteinnya kurang, gizinya kurang. Karena juga mikronutriennya tidak terpenuhi,” jelasnya.
Tak hanya itu, risiko kesehatan lain juga mengintai.
“Selain ada potensi lagi, risiko keracunan makanan massal. Karena daerah 3T ini kan infrastrukturnya terbatas, haijinnya juga rendah,” ungkapnya.
Solusi: Integrasi dengan Program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)
Sebagai solusi, Dicky menyarankan agar program makan di sekolah diintegrasikan dengan intervensi pada kelompok prioritas.
“Integrasinya dengan intervensi seribu hari pertama kehidupan saja,” katanya.
Ia mengusulkan pendekatan yang lebih menyeluruh.
“Misalnya satu dapur sekolah, hantin sekolah atau dapur yang dibangun masyarakat melayani sekolah, ibu hamil, balita,” jelasnya.
*Masalah Stunting Tak Bisa Diselesaikan dengan Satu Program*
Dicky menegaskan bahwa stunting adalah masalah kompleks yang tidak bisa diselesaikan dengan satu intervensi saja.
“Stunting itu masalah lintas generasi yang harus diselesaikan sejak ibu hamil,” ujarnya.
Ia mengingatkan pentingnya pendekatan menyeluruh, mulai dari lingkungan hingga pola asuh.
“Kalau itu tidak dibangun, ya kita hanya mengobati dampak-dampaknya saja, tidak menyelesaikan atau menuntaskan akan masalah,” tegasnya.
Makanan Kering untuk MBG di Daerah 3T, BGN Ungkap Alasan Distribusi