Selasa, 28 April 2026

BAB Anak yang Sering Berubah Bikin Cemas, Kadang Cair Lalu Keras, Normalkah? 

Masalah buang air besar (BAB) pada anak sering membuat orang tua cemas.  Bentuk pup anak tak jarang cair, kadang dilain waktu justru keras.

Tayang:
Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini
BAB ANAK - Dokter Spesialis Anak-Konsultan Gastrohepatologi, Frieda Handayani Kawanto, dalam kegiatan AI Poop Tracker dari Bebeclub di Jakarta, Kamis (2/4/2026). Ia menjelaskan, kapan kondisi Buang Air Besar (BAB) normal dan kapan harus diwaspadai. 
Ringkasan Berita:
  • Masalah buang air besar (BAB) pada anak sering membuat orang tua cemas. 
  • Bentuk pup anak tak jarang cair, kadang dilain waktu justru keras.
  • Normalkah kondisi ini? Dokter beri penjelasan medis.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Masalah buang air besar (BAB) pada anak sering membuat orang tua cemas. Kadang pup anak cair, kadang dilain waktu justru keras.

Dokter Spesialis Anak-Konsultan Gastrohepatologi, Frieda Handayani Kawanto mengatakan, kondisi ini cukup umum terjadi karena dipengaruhi oleh pola makan serta gaya hidup sehari-hari.

Baca juga: Buang Air Besar Sembarangan Masih Terjadi, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Tekankan Hal Ini

Meski demikian, ia mengingatkan orangtua perlu memahami kapan kondisi pup normal dan kapan harus diwaspadai.

Ia menjelaskan, perubahan bentuk pup pada anak bisa terjadi karena banyak faktor, seperti: konsumsi makanan tertentu (misalnya terlalu banyak buah atau susu), perubahan pola makan kondisi alergi serta khusus bayi yang konsumsi ASI dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ibu.

Sistem pencernaan anak masih berkembang, sehingga perubahan pup sering terjadi dan tidak selalu berbahaya.

“BAB anak kadang berair, kadang keras itu sangat berpengaruh pola makan dan lifestyle sehari-hari,” kata dia saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (3/4/2026).

Dokter Fierda mengatakan, ada empat indikator utama dalam menilai kondisi pup yaitu bentuk, ukuran, warna dan frekuensi.

Bentuk pup bisa sangat bervariasi, mulai dari: bulat kecil seperti kotoran kambing yang bisa menjadi  tanda konstipasi.

Keras dan besar mengarah pada sembelit, lembek hingga cair bisa mengarah ke diare.

“Sementara yang normal kalau bentuknya seperti pisang atau sosis ini yang ideal. Panduan ini biasanya mengacu pada Bristol Stool Chart, yang sering digunakan untuk anak di atas 1 tahun,” ungkap dr Fierda.

Indikator Ukuran dan Warna 

Ilustrasi anak diare
Ilustrasi anak diare (net)

Ukuran pup juga bisa menjadi indikator.

Terlalu sedikit bisa tanda kurang asupan atau konstipasi ringan, sangat banyak dan cair kemungkinan diare, sangat besar hingga menyumbat toilet merupakan tanda konstipasi yang perlu diperhatikan

Warna pup adalah indikator penting kondisi kesehatan.

Pup normal warnanya kuning (seperti mustard), coklat dan hijau.

Tidak normal atau perlu diwaspadai jika putih atau abu-abu bisa tanda gangguan empedu, hitam pekat kemungkinan perdarahan dari saluran cerna atas, lalu ada darah merah segar tanda ada perdarahan dari bagian bawah

“Jika muncul warna yang tidak biasa, segera konsultasi ke dokter,” pesan dia.

Indikator keempat adalah frekuensi BAB.

Dalam hal ini, dr Fierda mengatakan, frekuensi BAB anak berbeda-beda tergantung usia.

Bayi bisa BAB hingga 10 kali sehari saat baru lahir, bisa juga jarang BAB setelah beberapa bulan (bahkan beberapa hari sekali).

Namun, jika bayi tetap aktif, tidak rewel, dan tumbuh baik kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan karena masih normal. 

Anak di atas 1 tahun, idealnya 1 kali sehari, 2 hari sekali masih normal jika tidak ada keluhan, tapi jika lebih dari 3 hari tanpa BAB, itu mengarah anak alami konstipasi

Adapun tanda-tanda konstipasi selain jarang BAB, adalah pup keras dan sulit keluar, anak menahan BAB (misalnya sembunyi saat ingin BAB), tidak mau ke toilet dan harus BAB sambil menggunakan popok.

“Anak menolak ke toilet, anak suka sembunyi saat mau BAB,  enggak mau toilet training harus sambil pakai pampers. Itu tanda-tanda konstipasi,” ungkap dia.

Kapan Harus Khawatir?

Segera periksakan ke dokter jika pup sangat cair terus-menerus (diare berkepanjangan), ada darah dalam feses, warna pup tidak biasa seperti putih, abu-abu, atau hitam pekat, anak tampak kesakitan saat BAB hingga berat badan tidak naik dengan baik

Ia menyarankan orang tua agar memperhatikan asupan sang buah hati seperti kebutuhan cairan, konsumsi serat dari buah dan sayur, kecukupan nutrisi, pola makan harian serta makanan ibu (jika menyusui) juga bisa memengaruhi kondisi pup.

Saluran cerna yang sehat mencerminkan sistem pencernaan yang baik dan berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang serta kesehatan holistik anak.

“Saluran cerna adalah organ yang berkembang pesat pada masa awal kehidupan. Masa ini merupakan periode emas untuk fungsi pencernaan dan maturitas mikrobiota usus, yang menjadi fondasi kecerdasan dan pertumbuhan optimal anak,” tutur dr Fierda.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved