Minggu, 19 April 2026

Tak Cukup USG, Pentingnya Pemeriksaan Fetomaternal Deteksi Kelainan Janin

Kelainan janin bisa dideteksi sejak trimester pertama. Tak hanya bentuk, fungsi organ juga bisa dianalisis.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
canalc.com.ar
LUSTRASI IBU HAMIL - Dokter Subspesialis Fetomaternal dr. Reza Tigor Manurung, Sp.OG, Subsp.KFM mengatakan, banyak calon orangtua yang cemas dan penuh pertanyaan tentang kondisi bayi dalam kandungan. Untuk itu, dokter yang praktik di di Women’s Health Center Bethsaida Hospital ini mengatakan, diagnosis prenatal membantu mendeteksi kemungkinan kelainan atau kondisi khusus pada janin sejak dini sehingga calon orangtua bisa lebih siap, baik secara medis maupun emosional—menghadapi kehamilan dan persalinan. 

Ringkasan Berita:
  • Kehamilan risiko tinggi menjadi fokus utama dalam penanganan fetomaternal
  • Kondisi ini bisa terjadi pada ibu dengan penyakit tertentu, atau justru muncul saat kehamilan berlangsung. Misal ibu riwayat lupus kemudian hamil

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak ibu hamil merasa pemeriksaan kehamilan cukup dengan USG rutin.

Padahal, dalam kondisi tertentu, ada pemeriksaan yang jauh lebih spesifik dan mendalam, yakni fetomaternal, yang berperan penting dalam mendeteksi kelainan janin sejak dini.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan subspesialis fetomaternal, dr. Mohammad Adya Firmansha Dilmy, Sp.OG, Subsp.K.F.M, menjelaskan bahwa fetomaternal bukan sekadar alat pemeriksaan, melainkan bidang keilmuan khusus.

“Definisi fetomaternal atau seorang konsultan fetomaternal ialah seorang dokter kandungan yang menjalani pendidikan tambahan 2,5 tahun atau 5 semester yang mendalami kehamilan risiko tinggi,” jelasnya pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan di akun Instagram Kementerian Kesehatan, Minggu (5/4/2026)

Bukan Semua Kehamilan Sama

Kehamilan risiko tinggi menjadi fokus utama dalam penanganan fetomaternal.

Kondisi ini bisa terjadi pada ibu dengan penyakit tertentu, atau justru muncul saat kehamilan berlangsung.

Baca juga: Ibu Hamil Tak Boleh Divaksinasi, Ini Cara Mencegah Risiko Terinfeksi Campak

“Ibu yang sakit kemudian hamil, contohnya ibunya dengan lupus terus hamil. Terus kemudian ibu yang hamil lalu sakit, seperti preeklamsi atau diabetes mellitus pada kehamilan,” ujarnya.

Tak hanya itu, risiko juga bisa datang dari kondisi janin.

Mulai dari:

  • Kelainan jantung
  • Kelainan otak
  • Gangguan perkembangan seperti kehamilan kembar tiga

“Kelainan pada janin, kelainan jantung janin, otak janin, kelainan perkembangan seperti triplet misalnya,” lanjutnya.

Kelainan Janin Bisa Dideteksi Sejak Awal

Salah satu hal penting yang sering tidak disadari, adalah bahwa kelainan janin bisa dideteksi sejak trimester pertama.

Bahkan, dalam kasus tertentu, tanda-tanda sudah bisa terlihat sangat dini.

“Tidak ada kepala, tidak ada denyut jantung, atau kepalanya sangat besar… walaupun beratnya masih sebesar nasi putih satu butir, kalau benar-benar abnormal kita bisa deteksi,” jelasnya. 

Tak hanya bentuk, fungsi organ juga bisa dianalisis.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved