Tak Perlu Bolak-balik Saat Berobat, Ini Konsep RS Terintegrasi yang Bikin Pasien Lebih Nyaman
Transformasi ini tidak hanya menyelaraskan infrastruktur dan sistem layanan dengan kebutuhan saat ini, tetapi juga persiapkan kapabilitas rumah sakit.
Ringkasan Berita:
- Transformasi ini tidak hanya menyelaraskan infrastruktur dan sistem layanan dengan kebutuhan saat ini.
- Pelayanan kesehatan kini bergerak menuju sistem yang lebih ringkas, terintegrasi, dan berorientasi pada pasien.
- Perpindahan antar unit, hingga prosedur yang harus dijalani secara bertahap di lokasi berbeda.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengalaman berobat ke rumah sakit selama ini kerap identik dengan proses yang panjang dan melelahkan, mulai dari antrean layanan, perpindahan antar unit, hingga prosedur yang harus dijalani secara bertahap di lokasi berbeda.
Baca juga: Cegah Penularan Campak di Rumah Sakit, 290 Ribu Tenaga Kesehatan Jadi Target Imunisasi MR
Kondisi ini tidak hanya menyita waktu, tetapi juga berpotensi menambah beban fisik dan psikologis pasien, terutama bagi mereka yang tengah menghadapi penyakit kompleks.
Menjawab tantangan tersebut, konsep layanan kesehatan modern kini mulai bertransformasi ke arah yang lebih terintegrasi, efisien dan berpusat pada kenyamanan pasien dengan memanfaatkan kombinasi penataan fasilitas, sistem digital, hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Hal inilah yang coba diwujudkan oleh Mount Elizabeth Hospital (MEH) melalui transformasi besar bertajuk Project Renaissance. Transformasi ini tidak sekadar renovasi fisik, melainkan perubahan menyeluruh yang mencakup infrastruktur, alur layanan, serta sistem digital yang dirancang untuk meningkatkan kualitas perawatan, khususnya dalam menangani kasus-kasus medis kompleks.
Salah satu perubahan utama terlihat dari pengembangan ekosistem layanan kesehatan yang terintegrasi dalam satu kawasan di Orchard Road, Singapura. Melalui konsep ini, pasien dapat mengakses berbagai layanan medis tanpa harus berpindah lokasi yang berjauhan.
Dalam satu area yang saling terhubung, tersedia berbagai fasilitas seperti Mount Elizabeth Medical Centre untuk konsultasi spesialis, Paragon Medical Centre yang menyediakan layanan radiologi, rehabilitasi, serta medical check-up, hingga The Heeren yang menghadirkan layanan rawat jalan seperti fertilitas dan transplantasi stem-cell.
Selain itu, Lucky Plaza dimanfaatkan untuk rehabilitasi berbasis robotik, sementara Tong Building tengah dikembangkan untuk menambah kapasitas layanan dan ditargetkan selesai pada 2026.
Pendekatan ini memungkinkan alur pelayanan menjadi lebih efisien, sekaligus mengurangi kepadatan di tiap unit layanan.
Perawatan Lebih Nyaman
Transformasi juga menyentuh ruang rawat inap yang kini dirancang lebih luas, modern, dan nyaman. Rumah sakit menyediakan tambahan 56 kamar single-bed, termasuk opsi kamar VIP yang memungkinkan keluarga mendampingi pasien selama masa perawatan.
Tidak hanya dari sisi kenyamanan, inovasi juga hadir dalam bentuk layanan medis yang dapat dilakukan langsung di kamar pasien. Beberapa prosedur seperti dialisis hingga pemantauan kondisi melalui sistem telemetri kini tidak lagi mengharuskan pasien berpindah ke unit lain.
Dengan pendekatan ini, risiko yang mungkin timbul akibat perpindahan pasien dapat ditekan, sekaligus mempercepat proses perawatan.
Baca juga: Yasonna Laoly Dukung Layanan Rumah Sakit Apung di Darat Layani Masyarakat Kurang Mampu
Cepat dan Efisien
Perubahan signifikan juga dilakukan pada tata letak dan sistem pergerakan di dalam rumah sakit. Unit-unit klinis ditempatkan secara strategis untuk meminimalkan jarak tempuh pasien, sementara sistem lift dan koridor dirancang untuk memisahkan jalur pasien, tenaga medis, dan layanan logistik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Mount-Elizabeth-Singapura-pelayanan-yang-baik.jpg)