Jumat, 8 Mei 2026

Wabah Hantavirus

Kasus Hantavirus di Kapal MV Hondius Bertambah, WHO: Ada Kemungkinan Bakal Makin Banyak

WHO konfirmasi lima kasus baru hantavirus di kapal MV Hondius, tiga kasus dicurigai, risiko utama bagi penumpang dan kontak dekat.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: willy Widianto
Editor: Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
  • WHO melaporkan lima kasus hantavirus baru di kapal MV Hondius, dengan tiga kasus lain masih dicurigai. 
  • Direktur WHO Tedros menegaskan risiko utama bagi penumpang dan kontak dekat, bukan masyarakat luas. Penumpang dirawat di Swiss, Jerman, dan Belanda. 
  • Virus Andes ini menular dari hewan pengerat, tanpa terapi khusus, sehingga pencegahan dan perawatan suportif menjadi kunci.

TRIBUNNEWS.COM,  JENEWA - Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut ada penambahan lima kasus hantavirus yang dikonfirmasi dari wabah di kapal pesiar MV Hondius dengan tiga kasus lagi masih dicurigai dan belum terkonfirmasi.

“Ada kemungkinan lebih banyak kasus akan dilaporkan,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pernyataan resminya dikutip situs resmi WHO, Kamis(7/5/2026) malam.


Kata Tedros, masa inkubasi virus yang dikenal dengan Andes Virus tersebut adalah selama enam minggu. Ia juga menambahkan bahwa ia memperkirakan wabah tersebut tidak meluas kemana apabila otoritas kesehatan masyarakat bertindak cepat dan memiliki solidaritas yang tinggi.

Sejauh ini, otoritas Eropa telah mengirim penumpang yang terinfeksi atau berpotensi terinfeksi ke beberapa lokasi, termasuk Rumah Sakit Universitas Zurich di Swiss serta Pusat Medis Universitas Leiden, dan Rumah Sakit Universitas di Düsseldorf, Jerman.

Namun, masih ada sekitar 150 penumpang di atas kapal milik Belanda itu yang berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada awal April lalu untuk pelayaran transatlantik ke Tanjung Verde. 

Baca juga: Bukan Lockdown, Epidemiolog Sarankan Strategi Ini Agar Indonesia Siap Hadapi Virus Hanta 

Menurut pihak berwenang, beberapa penumpang terpapar virus strain Andes saat bepergian di Argentina sebelum naik kapal dan mungkin kemudian menularkannya kepada penumpang lain di atas kapal.

Pejabat WHO Maria Van Kerkhove menyebut risiko utama saat ini adalah bagi orang-orang di kapal dan kontak dekat mereka, termasuk staf medis. Ia meyakinkan wartawan di Jenewa, Swiss bahwa hantavirus bukan Covid dan bukan influenza.

"Penyebarannya sangat, sangat berbeda," kata dia.

WHO mengkonfirmasi bahwa mereka telah mengirim sekitar 2.500 tes diagnostik ke lima negara dan terus berkomunikasi dengan otoritas regional setempat.

WHO sebelumnya melaporkan wabah hantavirus parah di kapal pesiar MV Hondius, dengan 7 kasus (2 terkonfirmasi, 5 diduga) dan 3 kematian, bukan 150 kasus baru. Angka 150 merujuk pada total penumpang dan awak kapal yang dikarantina di atas kapal di dekat Tanjung Verde.

 

Hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia. Infeksi pada manusia dapat menyebabkan penyakit parah dan seringkali kematian, meskipun penyakitnya bervariasi tergantung jenis virus dan lokasi geografis. 

Di Amerika, infeksi diketahui menyebabkan sindrom kardiopulmoner hantavirus (HCPS), suatu kondisi yang berkembang pesat dan memengaruhi paru-paru dan jantung, sedangkan di Eropa dan Asia hantavirus diketahui menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS), yang terutama memengaruhi ginjal dan pembuluh darah.

Meskipun tidak ada pengobatan khusus yang dapat menyembuhkan penyakit hantavirus, perawatan medis suportif sejak dini sangat penting untuk meningkatkan angka harapan hidup dan berfokus pada pemantauan klinis yang ketat serta penanganan komplikasi pernapasan, jantung, dan ginjal. Pencegahan sebagian besar bergantung pada pengurangan kontak antara manusia dan hewan pengerat yang terinfeksi.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved