Jantung Bermasalah Tak Selalu Ditandai Nyeri Dada
Tingginya beban penyakit jantung di Indonesia tercermin dari meningkatnya klaim pembiayaan penyakit jantung dalam beberapa tahun terakhir.
Ringkasan Berita:
- Keluhan seperti cepat lelah, sesak napas, hingga jantung berdebar bisa menjadi tanda awal gangguan jantung
- PERKI menilai kesadaran deteksi dini masih rendah karena banyak pasien datang saat kondisi memburuk
- Dokter mengingatkan pentingnya pemeriksaan rutin dan penanganan cepat untuk mencegah komplikasi serius
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keluhan yang sering dianggap ringan seperti cepat lelah, sesak napas, hingga jantung berdebar ternyata bisa menjadi tanda awal gangguan jantung. Sayangnya, banyak masyarakat baru memeriksakan diri ketika kondisi sudah memburuk atau memasuki fase darurat.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menilai kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini penyakit jantung masih perlu ditingkatkan.
Tingginya beban penyakit jantung di Indonesia tercermin dari meningkatnya klaim pembiayaan penyakit jantung dalam beberapa tahun terakhir.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Putri Reno Indrisia, Sp.JP, FIHA, CCK, mengatakan gejala awal gangguan jantung kerap disalahartikan sebagai keluhan biasa.
“Pasien sering datang dalam kondisi terlambat karena gejala awal dianggap hanya masuk angin atau kelelahan biasa,” ujar Putri dalam keterangan dikutip, Jumat (29/5/2026).
Ia menjelaskan, gejala yang perlu diwaspadai antara lain cepat lelah meski melakukan aktivitas ringan, sesak napas saat berjalan atau naik tangga, nyeri dada seperti tertekan, serta detak jantung tidak teratur.
Selain itu, keluhan seperti pusing mendadak, keringat dingin tanpa sebab jelas, hingga pembengkakan pada kaki juga dapat menjadi indikasi adanya masalah pada jantung maupun pembuluh darah.
"Pemeriksaan rutin sejak dini penting dilakukan terutama bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko penyakit jantung," katanya.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Intervensi Bethsaida Hospital Serang, dr. Fani Suslina Hasibuan, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan penanganan penyakit jantung harus disesuaikan dengan tingkat kompleksitas penyumbatan pembuluh darah yang dialami pasien.
Baca juga: Bukan Lagi Penyakit Lansia, Hipertensi dan Penyakit Jantung Kini Banyak Sasar Usia 20-30 Tahun
“Pada kasus tertentu dengan penyumbatan berat atau berkapur, diperlukan tindakan khusus seperti aterektomi untuk membantu membuka sumbatan pembuluh darah,” katanya.
Penanganan optimal pasien bisa dilakukan dengan berbagai tindakan komprehensif seperti pemasangan ring jantung (PCI), operasi bypass jantung (CABG), Drug Coated Balloon (DCB), Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS), hingga Endovenous Laser Ablation (EVLA).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/nyeri-dada-atau-serangan-jantung.jpg)