Cara Angga Malik D’Essentials Dampingi Anak Generasi Alfa di Era Digital
Angga mengaku banyak belajar dari anaknya, Sheemar Rahman Puradiredja, yang kini aktif bermusik di media sosial dan sering tampil di sekolah
“Yang aku mau dia kan berkembangnya secara natural aja, gak ada support yang terlalu artificial,” ungkapnya.
Bagi Angga, perjalanan bermusik Shimar bukan tentang seberapa cepat terkenal, tapi seberapa dalam ia bisa mengenali dirinya sendiri melalui musik.
Belajar dari Pengalaman Sendiri
Menariknya, Angga baru menyadari minatnya menjadi musisi profesional saat berusia 20 tahun.
Itu pun, katanya, terjadi secara tidak direncanakan sebuah “kecelakaan indah”.
“Aku jadi penyanyi profesional baru kepikiran itu di umur 20 tahun, dan itu juga kejadiannya nggak diprediksi sebelumnya. Jadi emang tanda kutip kecelakaan,” tuturnya.
Dari pengalaman itu, ia ingin memberi ruang pada anaknya untuk menemukan passion tanpa terburu-buru.
Menurutnya, anak yang tumbuh dengan kebebasan dan dukungan emosional akan jauh lebih kuat menghadapi tantangan hidup.
Di tengah derasnya arus digital, Angga percaya bahwa kehadiran orang tua tetap tidak tergantikan.
Anak boleh lebih canggih, tapi mereka tetap butuh figur yang bisa jadi cermin dan tempat pulang.
Bagi Angga, menjadi orang tua di era sekarang bukan soal mendikte masa depan anak, melainkan menjaga api semangatnya agar tidak padam.
“Pada akhirnya, semua balik ke dia. Terserah dia mau jadi penyanyi profesional atau nggak, yang penting dia berkembang dengan bahagia,” tutup Angga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/angga-puradiredja-saat-ditemui-di-kawasan-bsd-tangerang.jpg)