Minggu, 12 April 2026

Bacaan Doa

Doa Nabi Musa Ketika Menghadapi Firaun dan Kekejamannya

Doa Nabi Musa ketika menghadapi Firaun dapat dibaca ketika seorang muslim menghadapi kesulitan dan memohon pertolongan Allah Swt.

Tribunnews.com
DOA NABI MUSA - Gambar ini didesain Tribunnews di BeFunky, Jumat (5/12/2025). Doa Nabi Musa ketika menghadapi Firaun dapat dibaca ketika seorang muslim menghadapi kesulitan dan memohon pertolongan Allah Swt. 

Artinya: "Ya Tuhan kami, kepada Allah kami bertawakal. Janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang yang kafir." (QS. Yunus: 85-86)

6. Doa Mohon Petunjuk dan Tidak Putus Asa

إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Innna ma‘iya rabbī sayahdīn

Artinya: “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

Kisah Nabi Musa As dalam Al-Qur'an 

Di dalam Al-Qur'an terdapat beberapa ayat yang mengabadikan kisah Nabi Musa As dan kaum Bani Israil dalam menghadapi Firaun.

Muhammad Mutawalli al-Sha‘rawi dalam buku Khawatiir al-Sha‘rawi menulis bahwa ibu Musa diam-diam menyusui anaknya itu karena Firaun pada masa itu memerintahkan untuk membunuh bayi laki-laki yang diramalkan akan mengakhiri hidupnya.

Allah Swt memberikan petunjuk kepada ibu Musa yang khawatir akan keselamatan bayinya, untuk menghanyutkan Musa di sungai Nil.

"(yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan, (yaitu), letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil), maka biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil oleh (Fir‘aun ) musuh-Ku dan musuhnya. Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS. Thaha: 38-39)

Ibu Musa kemudian menghanyutkan bayinya di dalam kotak ke sungai Nil hingga dipungut oleh istri Firaun. 

Istri Firaun kemudian meminta Firaun mencari wanita yang mau bekerja menyusui bayi itu.

Maryam, saudara perempuan Musa, mengusulkan kepada istri Firaun bahwa ibunya mau menyusui bayi yang ditemukan tersebut, hingga akhirnya Allah Swt mengembalikan Musa kepada ibunya di bawah pengawasan istri Firaun.

"Maka dia (bayi Musa) dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan istri Fir‘aun berkata, “(Dia bayi ini) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak, sedang mereka tidak menyadari.Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah). Dan dia (ibunya Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, “Ikutilah dia (Musa).” Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya. Dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah dia (saudara perempuan Musa), “Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?”. Maka Kami kembalikan dia (bayi Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya." (QS. Qasas: 8-13)

Seiring berjalannya waktu, Musa tumbuh dewasa dan mulai membela kaumnya, Bani Israil.

"Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir‘aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Dia (Musa) berkata, “Ini adalah perbuatan setan. Sungguh, dia (setan itu) adalah musuh yang jelas menyesatkan.” (QS. Qasas: 14-15)

Setelah pria tersebut tewas di tangannya, Musa memohon ampun kepada Allah Swt.

Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Qasas: 16)

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved