Gejala Osteoporosis Bisa Dimulai Sejak Muda, Ini Cara Mencegahnya
Proses penurunan kepadatan tulang sudah dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak masa pertumbuhan.
Ringkasan Berita:
- Kesehatan tulang itu dimulai sejak dalam kandungan. Nutrisi saat hamil menentukan kualitas tulang anak
- Aktivitas seperti berlari dan melompat disebut sebagai cara efektif untuk meningkatkan kepadatan tulang
- Meski puncak kepadatan tulang terjadi di usia 30 tahun, bukan berarti setelah itu tidak bisa diperbaiki. Namun, risiko osteoporosis meningkat signifikan terutama setelah menopause
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Osteoporosis sering dianggap sebagai penyakit orang tua. Padahal, proses penurunan kepadatan tulang sudah dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak masa pertumbuhan.
Dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dr. Retno Setianing, Sp.KFR(K), menegaskan bahwa kesehatan tulang harus dijaga sejak dini.
“Kesehatan tulang itu dimulai sejak dalam kandungan. Nutrisi saat hamil menentukan kualitas tulang anak,” ujarnya pada live streaming Healthy Talk di kanal YouTube Tribun Health, Rabu (29/4/2026).
Aktivitas Anak Jadi Investasi Tulang
Setelah lahir, anak perlu diberikan aktivitas fisik yang cukup agar tulangnya berkembang optimal.
“Jangan sedikit-sedikit digendong. Tulang akan lebih padat kalau mendapat tekanan dan tarikan,” jelasnya.
Aktivitas seperti berlari dan melompat disebut sebagai cara efektif untuk meningkatkan kepadatan tulang.
“Kalau anak lari-lari dan lompat-lompat, itu seperti menabung tulang sampai usia 30 tahun,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa olahraga dengan beban tubuh seperti basket memiliki manfaat lebih besar dibanding olahraga tanpa tekanan.
“Berenang boleh, tapi tidak meningkatkan kepadatan tulang,” ujarnya.
Usia 30 Bukan Batas Akhir
Meski puncak kepadatan tulang terjadi di usia 30 tahun, bukan berarti setelah itu tidak bisa diperbaiki.
“Sepanjang masih hidup, tulang masih bisa diperbaiki dengan latihan dan nutrisi yang baik,” tegasnya.
Namun, risiko osteoporosis meningkat signifikan terutama setelah menopause.
“Setelah menopause lima tahun, risikonya jauh lebih tinggi,” jelasnya.
Salah satu tantangan terbesar adalah osteoporosis sering tidak menunjukkan gejala di awal.
“Osteoporosis itu mencuri tulang diam-diam,” ungkapnya.
Tanda yang bisa dikenali biasanya baru muncul saat kondisi sudah cukup parah, seperti tinggi badan yang menurun.
“Kalau makin tua tinggi badan berkurang, itu harus waspada,” katanya.
Untuk mengetahui kondisi tulang, dr. Retno menyarankan pemeriksaan kepadatan tulang atau Bone Mineral Densitometry (BMD).
“Dengan pemeriksaan itu, kita tahu kepadatan tulang kita sekarang berapa,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemantauan rutin, bukan sekadar mengandalkan perasaan sehat.
“Jangan merasa sudah cukup tanpa tahu kondisi tubuh sendiri,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/matriks-tulang-normal-dan-osteoporosis.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.