Munarman Bantah Mengetahui Peristiwa Penganiayaan Ninoy Karundeng

Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI), Munarman, baru saja kelar diperiksa penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya terkait kasus penganiayaan.

Munarman Bantah Mengetahui Peristiwa Penganiayaan Ninoy Karundeng
Tribunnews.com/Fahdi Fahlevi
Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI), Munarman ditemui di Polda Metro Jaya, Kamis (10/10/2019). 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI), Munarman, baru saja kelar diperiksa oleh penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya terkait kasus penganiayaan pegiat media sosial Ninoy Karundeng.

Munarman keluar dari Gedung Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya sekira pukul 22.30 WIB malam. Ia sebelumnya masuk ke dalam ruang penyidik sekira pukul 11.20 WIB siang.

Menurut pengakuannya, ia ditanya soal kejadian yang menimpa Ninoy Karundeng.

Kepada penyidik, Munarman mengaku tidak mengetahui sama sekali perihal penganiayaan tersebut.

Baca: Polisi Konfrontasi Munarman Dengan Tersangka Penganiayaan Ninoy Karundeng

Baca: Polisi Jadikan CCTV Masjid Al Falah Barang Bukti Penganiayaan Ninoy Karundeng

Baca: Bagaimana Menghadapi Orang yang Punya Penyakit Tertawa Tanpa Sebab Seperti Joker?

"Intinya tentang apakah saya mengetahui peristiwa di Masjid Al Falah saya bilang saya tidak mengetahui peristiwa itu," ujar Munarman di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Dirinya menjelaskan kalau perbincangannya dengan Supriyadi, anggota DKM Al Falah yang berstatus tersangka hanya sebatas konsultasi hukum.

Menurut Munarman, Supriyadi mengaku didatangi orang dari Polda Metro Jaya yang menanyakan kejadian ini. Konsultasi ini, Munarman mengatakan, dilakukan tanggal 2 Oktober 2019 dua hari setelah peristiwa penganiayaan terhadap Ninoy pada 30 September 2019.

"Jadi, dia (Supriadi) konsultasi mengenai kepengurusan, katakanlah Masjid Al-Falah yang pada tanggal 30 malam itu ada peristiwa di Masjid Al-Falah. Saya tidak tahu peristiwanya apa, jadi terkait soal itu," tutur Munarman.

Dalam pemeriksaan, Munarman pun mengklarifikasi soal tudingan dirinya meminta Supriadi menghapus rekaman kamera (Closed Circuit Television) CCTV saat kejadian. Dirinya mengaku hanya ingin melihat rekaman CCTV agar bisa mempertimbangkan langkah hukum yang bisa ditempuh Supriadi.

Halaman
12
Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved