Transjabodetabek
Transjabodetabek Terus Diperluas, Mobilitas Warga Kian Mudah
Dua rute baru Transjabodetabek dihadirkan untuk membantu mobilitas lintas Jakarta dan kota penyangga.
Waktu tunggu penumpang berkisar 10 hingga 20 menit dengan kapasitas layanan sekitar 1.900 sampai 2.000 penumpang per hari. Adapun lintasan rute SH2 membentang sepanjang sekitar 65,1 kilometer dengan estimasi waktu tempuh kurang lebih 121 menit.
Antusiasme masyarakat terhadap layanan ini pun cukup tinggi. Selama April 2026, rute SH2 tercatat telah melayani 45.113 penumpang.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino menilai keberadaan rute tersebut memberikan alternatif transportasi publik yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
“DPRD DKI Jakarta menyambut baik konektivitas antara Tangerang dengan Jakarta melalui rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta,” ujar Wibi, Kamis.
Menurutnya, tarif yang ditawarkan juga sangat terjangkau dibandingkan moda transportasi lain menuju bandara.
Pada masa awal peluncuran, Pemprov DKI Jakarta sempat memberlakukan tarif promo sebesar Rp3.500 selama tiga bulan untuk mendukung mobilitas masyarakat pada periode Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Setelah masa promosi berakhir, tarif layanan direncanakan berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000 menyesuaikan jarak tempuh dan biaya operasional layanan bandara.
“Kenapa yang Soekarno-Hatta berbeda? Yang pertama karena jauh, perhentiannya banyak, parkir di sananya juga cost-nya lebih tinggi dibandingkan di tempat lain,” kata Pramono, dikutip dari Tribunnews.com, Jumat (8/5/2026).
Ia menambahkan, penyesuaian tarif dilakukan agar beban subsidi dari Pemprov DKI Jakarta tidak terlalu besar.
“Setelah itu kami akan melakukan evaluasi karena memang bebannya terlalu berat dan juga subsidinya terlalu besar, kami akan menaikkan angkanya, range-nya antara Rp10.000 sampai dengan Rp15.000,” terang Pramono.
Transportasi Publik Jadi Bagian Gaya Hidup Kota Modern
Selain memperluas rute Transjabodetabek, Pemprov DKI Jakarta juga terus mendorong integrasi antarmoda melalui pengembangan layanan Transjakarta, MRT Jakarta, hingga LRT Jakarta.
Menurut Pramono, seluruh moda transportasi tersebut dirancang agar semakin inklusif, terjangkau, dan berkelanjutan sehingga dapat digunakan lebih banyak masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.
“Semua moda transportasi ini bersifat inklusif, terjangkau, dan berkelanjutan. Meski tingkat konektivitas kita sudah mencapai 91 persen, penggunaannya belum maksimal. Mudah-mudahan, perencanaan ke depan untuk mengatasi kemacetan bisa lebih rinci dan menyeluruh,” tuturnya.
Melalui perluasan layanan Transjabodetabek, Pemprov DKI Jakarta berharap mobilitas warga Jabodetabek menjadi semakin mudah, efisien, dan terintegrasi. Di sisi lain, penguatan transportasi publik juga diharapkan dapat mendorong perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan menuju mobilitas yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Baca juga: Wujudkan Jakarta Bersih, Pemprov DKI Ajak Warga Pilah Sampah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/RUTE-BARU-TRANSJABODETABEK-2026.jpg)