Sabtu, 30 Agustus 2025

Burung Garuda Kembali Ditemukan Keberadaannya di Gunung Gede Pangranggo

Burung yang juga dikenal dengan sebutan burung garuda itu terdeteksi tim monitoring elang jawa di dalam kawasan Gunung Gede Pangrango, Senin (1/7/2019

Editor: Sugiyarto
Net
Burung Garuda 

Meski tak terlalu luas jika dibandingkan kawasan konservasi sekelas taman nasional, namun Gunung Buthak memiliki sistem perlindungan alami yang membuat kawasan ini tetap perawan.

Warga Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Sangad Abdul Salam mengungkapkan, pada tahun 1980-an, wilayah perbukitan Siregol merupakan surga bagi para satwa.

Baru pada sekitar tahun 1990-an, pemerintah membuka hutan dan membuat jalan aspal untuk mengakses satu desa yang berada di ujung perbukitan, Desa Sirau.

“Sejak saat itu, satwa di luar unggas mulai terisolir dan bermigrasi ke (kompleks) Gunung Buthak,” katanya ketika ditemui, Senin (18/9/2017).

Sangad mengungkapkan, satwa liar dan satwa dilindungi tersebut bisa diamati langsung dengan mata telanjang dari ruas jalan raya Siregol.

Sebab, jarak antara Gunung Buthak dan ruas jalan penghubung Desa Kramat-Sirau tersebut hanya sejauh lemparan batu saja.

Seekor elang Jawa di salah satu kandang di Pusat Konservasi Elang Kamojang, Jalan Raya Kamojang, Kampung Citepus, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Sabtu (21/10/2017). Pusat konservasi yang beroperasi mulai akhir 2014 itu, hingga Oktober ini telah menampung lebih dari 100 ekor elang berbagai jenis dari serahan masyarakat dan sitaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), dan sudah dilepasliarkan sebanyak 22 ekor. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)
Seekor elang Jawa di salah satu kandang di Pusat Konservasi Elang Kamojang, Jalan Raya Kamojang, Kampung Citepus, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Sabtu (21/10/2017). Pusat konservasi yang beroperasi mulai akhir 2014 itu, hingga Oktober ini telah menampung lebih dari 100 ekor elang berbagai jenis dari serahan masyarakat dan sitaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), dan sudah dilepasliarkan sebanyak 22 ekor. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) (TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)

Meski demikian, Gunung Buthak sampai saat ini masih terisolasi dari segala aktivitas manusia. Pasalnya, ada jurang sedalam puluhan meter yang melingkupi kawasan Gunung Buthak.

Jurang lembah Sungai Tambra ini seakan menjadi sekat baku antara surga satwa Gunung Buthak dan dunia peradaban manusia.

Sistem pengawasan masyarakat Bukan karena kondisi medan saja yang membuat kawasan Gunung Buthak tetap tak terjamah oleh tangan jahil.

Peran serta masyarakat setempat untuk membuat sistem perlindungan tradisional juga turut mencegah perburuan satwa dan perambahan hutan di kawasan Gunung Buthak.

Tokoh pemuda Desa Kramat, Muhammad Faiz menuturkan, warga Desa Kramat memiliki mitos dan cerita rakyat yang melingkupi kawasan Gunung Buthak.

Keberadaan cerita rakyat ini membuat setiap orang yang memiliki niat jahat untuk merusak kawasan Gunung Buthak menjadi segan dan urung.

“Kawasan ini wingit, ada penunggunya. Dulu sekitar awal tahun 2000-an, ada orang Jawa Barat yang nekat masuk ke Gunung Buthak buat nyari sarang walet. Tapi waktu naik tebing orang ini jatuh. Warga sini tidak ada yang bisa menolong. Sampai sekarang mayat sama kerangkanya masih ada di dalam sana,” ujarnya.

Tak hanya cerita rakyat, sebagai desa yang paling dekat dengan kawasan Gunung Buthak, masyarakat Desa Kramat juga telah terbiasa tanggap jika mendapati orang luar daerahnya lewat dengan membawa senapan.

“Kalau ada warga yang lihat orang bawa bedil (senapan), pasti langsung diikuti. Kebanyakan yang bawa bedil ngakunya mau nembak babi hutan, jadi kami biarkan saja karena babi hutan juga jadi hama di sini. Tapi kalau ketahuan nembak burung di Gunung Buthak langsung kami usir,” katanya.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan