Kebakaran Hutan dan Lahan

Kapur Tohor Disemai di Kalbar karena Pekatnya Kabut Asap Hambat Proses Hujan Buatan

Penyemaian kapur tohor aktif akan mengurai partikel dan gasnya, sehingga nantinya kabut asap akan terbuka dan memunculkan konveksi secara lebih intens

Kapur Tohor Disemai di Kalbar karena Pekatnya Kabut Asap Hambat Proses Hujan Buatan
Fitri Wulandari/Tribunnews.com
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza saat ditemui di Gedung BPPT; Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (19/9/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyemaian kapur tohor aktif (CaO) rencananya akan dimulai Sabtu (21/9/2019) ini di seluruh wilayah Kalimantan dalam upaya menangani bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan.

Untuk wilayah Kalimantan, bahan semai satu ini pun akan difokuskan ke Kalimantan Barat (Kalbar).

Karena kabut asap yang berada di provinsi itu tergolong sangat pekat dibandingkan provinsi lainnya.

Sama seperti kepekatan kabut asap yang terjadi di provinsi Riau.

Seperti yang disampaikan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, saat dihubungi Tribunnews.

"Di Kalimantan Tengah (Kalteng) itu kita nggak pakai kapur tohor, jadi kita kirim itu ke Kalimantan Barat (Kalbar). Itu kapur tohornya juga dikirim ke Riau," ujar Hammam, eksklusif kepada Tribunnews, Jumat (20/9/2019) malam.

Baca: Jokowi Tunda Pengesahan RKUHP, Mahfud MD: Kalau Menunggu Semua Setuju, Tidak Akan Pernah

Ia kemudian menjelaskan bahwa pekatnya kabut asap yang terjadi di Kalbar tentunya harus dihilangkan terlebih dahulu.

Penyemaian kapur tohor aktif akan mengurai partikel dan gasnya, sehingga nantinya kabut asap akan terbuka dan memunculkan konveksi secara lebih intensif.

Awan pun akan kembali tumbuh, dan pada tahapan ini kemudian bisa dilanjutkan pada proses selanjutnya yakni penyemaian garam atau Natrium Klorida (NaCl).

"Karena asap yang pekat itu kalau potensi awannya tipis memang harus dihilangkan dulu, supaya bisa kemudian membuka kabut asap itu sehingga terjadi namanya konveksi," jelas Hammam.

Halaman
12
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved