Senin, 1 September 2025

Perjuangan Gabriel Dalang Cilik Anak Tukang Rosok, Lestarikan Budaya di Tengah Keterbatasan yang Ada

Sepenggal kisah inspiratif perjuangan Gabriel Sanata Putra untuk menjadi dalang profesional dimulai sejak kecil.

Tribunnews.com/Wahyu Gilang Putranto - Dok Pribadi
Gabriel Sanata Putra, dalang cilik dari Solo, Jawa Tengah. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Gilang Putranto

TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Gabriel Sanata Putra (16), dalang cilik dari Solo, Jawa Tengah menjadi contoh nyata keterbatasan tidak mampu memadamkan kobaran api perjuangan meraih harapan.

Lahir dari keluarga serba kekurangan dengan ayah yang bekerja sebagai pencari rosok atau pemulung, Gabriel tidak membiarkan kekurangan materi menghentikan langkahnya meraih cita-cita.

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Gabriel sudah meraih prestasi menjuarai Festival Dalang Cilik yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surakarta tahun 2021 lalu.

Gabriel yang saat ini baru saja masuk bangku SMK, menceritakan ketertarikannya terhadap wayang berawal dari melihat pertunjukan wayang di YouTube.

“Saya suka wayang mulai kelas III SD, saat itu minta dibelikan wayang buto, sama ayah dibelikan dengan harga Rp 20 ribu,” ujar Gabriel saat dijumpai Tribunnews di sekolahnya, Senin (26/8/2024).

Gabriel saat ini bersekolah di SMKN 8 Surakarta, atau terkenal dengan nama SMKI, kependekan dari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia.

Remaja kelahiran 12 April 2008 itu mengambil jurusan Seni Pedalangan.

Gabriel Sanata Putra, dalang cilik dari Solo saat dijumpai di SMKN 8 Surakarta, Senin (26/8/2024).
Gabriel Sanata Putra, dalang cilik dari Solo saat dijumpai di SMKN 8 Surakarta, Senin (26/8/2024). (Tribunnews.com/Wahyu Gilang Putranto)

Ikut Ayah Memulung saat Kecil

Masa kecil Gabriel tidak seindah anak kecil lain pada umumnya.

Di usia belia, Gabriel kerap ikut ayahnya, Joko Sudarmanto, pergi memulung.

Baca juga: Dewan Kesenian Jakarta Sarankan Pembentukan Kementerian Kebudayaan, Ini Alasannya

Tangan kecilnya mengambil dan memasukkan barang bekas seperti botol plastik hingga kardus ke dalam karung.

“Sejak kecil saya ikut cari rosok, saya bawa karung sendiri,” ujarnya.

Selain mencari rosok, saat itu sang ayah juga membuka warung angkringan atau orang Solo bilang ‘hik’.

Saat sang ayah mencari rosok, Gabriel kecil bergantian berjualan di angkringan itu.

Tetapi, angkringan itu kini tinggal kenangan karena digusur oleh pemilik lahan.

Gabriel Sanata Putra saat tampil dalam pentas pewayangan.
Gabriel Sanata Putra saat tampil dalam pentas pewayangan. (Tangkap layar YouTube/Dani Production)

Sempat Alami Perundungan dan Diskriminasi

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan