Minggu, 31 Agustus 2025

Kasus Korupsi Minyak Mentah

Dugaan Skandal Pertalite Dioplos jadi Pertamax, DPR Cecar Pertamina soal Penentuan RON

Bambang mengatakan, kasus dugaan pengoplosan BBM RON 92 (Pertamax) menjadi RON 90 (Pertalite) bisa berdampak buruk pada publik. 

Penulis: Reza Deni
Tribunnews/Gabriela Irvine Dharma
BENSIN OPLOSAN - Imbas praktik culas bos Pertamina Patra Niaga mengoplos Pertalite menjadi Pertamax di SPBU Palmerah, Jakarta Barat sepi kendaraan bermotor yang mengisi BBM jenis Pertamax, Rabu(26/2/2025). Antrean justru terlihat mengular untuk mengisi BBM jenis Pertalite. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi XII DPR RI mempertanyakan pihak PT Pertamina (Persero) soal mekanisme yang digunakan PT Pertamina dalam menentukan RON (Research Octane Number) pada bahan bakar minyak (BBM). 

Hal itu disampaikan pihak DPR menyusul temuan Kejaksaan Agung tentang adanya impor BBM RON 90 (setara Pertalite), 88, dan di bawah RON 92, yang selanjutnya dicampur atau dioplos agar menjadi BBM berkualitas RON 92 (setara Pertamax) di storage Pertamina Merak Banten. 

Temuan ini didapat Kejagung dari penyidikan kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina, Subholding, dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) pada 2018-2023, yang turut melibatkan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan.

Wakil Ketua Komisi XII DPR, Bambang Haryadi menegaskan, sangat penting untuk memahami proses verifikasi dan penetapan RON tersebut.

Bambang menyampaikan pertanyaan sekaligus kekhawatirannya itu dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Pertamina pada Rabu (26/2/2025).

"Salah satu yang kami dalami adalah terkait skema penentuan RON ini, bagaimana sistem verifikasinya,” kata Bambang.

Baca juga: Penampakan Rumah Mewah Raja Minyak Riza Chalid Digeledah Kejagung, Jendela Ditempeli Tanda Sita

Selain Pertamina, hadir juga sejumlah perusahaan swasta BBM, yakni Presdir Mobility Shell Indonesia, Presdir PT Aneka Petroindo Raya (BP-AKR), Presdir PT AKR Corporindo, Dirut PT Indomobil Prima Energi, dan Dirut PT Vivo Energy Indonesia.

Bambang mengatakan, kasus dugaan pengoplosan BBM RON 92 (Pertamax) menjadi RON 90 (Pertalite) bisa berdampak buruk pada publik. 

Dalam kasus ini, Pertalite yang seharusnya memiliki RON 90, ternyata dicampur dengan Pertamax yang memiliki RON 92, sebuah skandal yang bisa berakibat fatal bagi kendaraan yang menggunakannya.

Dampak dari pengoplosan ini sangat berisiko, terutama terhadap mesin kendaraan yang bisa mengalami kerusakan serius akibat kualitas bahan bakar yang tak sesuai.

“Kalau seandainya memang RON itu bisa dipalsukan, saya meyakini banyak kendaraan-kendaraan bermasalah," ujarnya.

Bambang mengaku segera mengundang pimpinan industri mobil di Tanah Air. 

“Kami ingin mendapat penjelasan apakah selama ini pernah ada kendala-kendala di kendaraan tersebut adanya korosi atau sejenisnya ya kan. Sehingga, tidak menjadi satu isu yang liar di masyarakat," kata dia.

Baca juga: Kejagung Dalami Peran Raja Minyak Riza Chalid Terkait Kasus Korupsi Minyak Mentah Rp 193 Triliun

Menurut legislator Gerindra itu, kepercayaan publik terhadap Pertamina bisa menurun karena kasus pengoplosan BBM yang bergulir saat ini. 

"Jangan sampai trust publik atas kasus hukum yang sedang berproses silakan saja, kami sangat mendukung penegakan hukum silahkan," tandasnya.

Kejagung Temukan Pertalite Dioplos jadi Pertamax

Halaman
12
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan