Demo di Jakarta
3 Saran untuk Prabowo dari Peneliti Kebijakan Publik, Singgung Kader Parpol Bermasalah
Presiden Prabowo Subianto pun mendapat saran dari peneliti kebijakan publik di tengah marak aksi demo, singgung kader parpol bermasalah
Penulis:
Facundo Chrysnha Pradipha
Editor:
Sri Juliati
Aksi massa ini dipicu oleh serangkaian kebijakan yang dianggap merugikan rakyat kecil, terutama di sektor ekonomi dan ketenagakerjaan.
Para demonstran, yang terdiri dari buruh, mahasiswa, dan masyarakat umum, menuntut penghapusan sistem outsourcing yang dianggap eksploitatif, kenaikan upah minimum untuk mengatasi inflasi dan biaya hidup yang tinggi, serta penghentian pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Selain itu, tuntutan mencakup pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset untuk memberantas korupsi, revisi Undang-Undang Pemilu guna mencegah manipulasi politik, dan penghapusan tunjangan mewah bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang tertekan.
Menurut data dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), sekitar 70 persen pendapatan buruh habis untuk biaya pendidikan dan kebutuhan dasar, sementara anggota DPR menerima tunjangan yang mencapai miliaran rupiah per tahun.
Hal ini menciptakan kesenjangan sosial yang dalam, di mana rakyat merasa "hidup dari ampas negara" sementara elite politik menikmati kemewahan.
Demonstrasi juga didorong oleh ketidakpuasan atas lambannya reformasi pajak perburuhan dan kegagalan pemerintah dalam melindungi hak-hak pekerja, seperti yang terlihat dalam aksi buruh pada 28 Agustus 2025 yang kemudian diambil alih oleh mahasiswa.
Eskalasi aksi ini sering kali berujung ricuh karena penggunaan gas air mata dan water cannon oleh aparat, yang dianggap sebagai bentuk represi negara terhadap hak konstitusional untuk menyampaikan pendapat.
Tragedi Kematian Affan Kurniawan
Puncak tragedi terjadi pada malam 28 Agustus 2025 di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, ketika aksi demonstrasi membubarkan diri namun berubah menjadi bentrokan sengit.
Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) berusia 21 tahun, tewas setelah terlindas kendaraan taktis Brigade Mobil (Brimob) jenis Barracuda.
Berdasarkan rekaman video amatir yang viral di media sosial, mobil tersebut melaju kencang di tengah kerumunan massa tanpa menghentikan laju meski korban telah jatuh.
Affan sempat dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengan luka parah, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Insiden ini juga melibatkan korban lain, Umar Amaruddin, seorang driver ojol asal Sukabumi yang terluka parah dan kini dirawat di rumah sakit.
Ketua Asosiasi Pengemudi Ojol Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, membenarkan kejadian tersebut dan menuntut keadilan, menyebutnya sebagai bukti rapuhnya perlindungan bagi pekerja informal.
Tragedi ini memicu gelombang solidaritas dari komunitas ojol nasional, dengan aksi demo lanjutan pada 29 Agustus 2025 di berbagai kota, termasuk Solo dan Bandung, yang berpotensi melumpuhkan layanan transportasi online.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.