Senin, 1 September 2025

Demo di Jakarta

Seruan Damai Pascademo, Pemerhati Sosial: Jangan Biarkan Emosi Mengalahkan Akal Sehat

Kesaksian dari lapangan juga menyebut adanya provokator yang sengaja menyalakan api kerusuhan. 

Penulis: Wahyu Aji
Editor: Eko Sutriyanto
TRIBUNNEWS/RINA AYU
MOBIL TERBAKAR - Warga mengambil sisa-sisa mobil yang terbakar di depan Polres Jakarta Timur, Sabtu (30/8/2025). Puuhan mobil yang terpakir di depan Polres Jakarta Timur terbakar saat bentrokan pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari. TRIBUNNEWS/RINA AYU 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Aksi demonstrasi besar di depan Gedung DPR RI pada akhir Agustus 2025 yang diikuti ribuan orang dari berbagai elemen masyarakat berubah menjadi insiden yang memprihatinkan. 

Unjuk rasa penolakan tunjangan DPR yang dinilai berlebihan hingga seruan lembaga legislatif tersebut dibubarkan, berubah ricuh hingga menewaskan Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas terlindas kendaraan taktis polisi. 

Sementara 14 orang dirawat di RS Pelni, ratusan orang ditangkap, dan sejumlah fasilitas umum rusak akibat pembakaran maupun pelemparan.

Kesaksian dari lapangan juga menyebut adanya provokator yang sengaja menyalakan api kerusuhan. 

Aksi ini mengingatkan pada taktik lama dari zaman penjajahan: divide et impera atau pecah belah untuk menguasai. 

Di tengah kabar duka ini, suara persatuan datang dari Raden Dymasius Yusuf Sitepu, alumni National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU). 

Baca juga: Tangis Sri Mulyani di Polda Jateng, Anak Hilang Semalaman Ternyata Diamankan Polisi Saat Demo Ricuh

Pria yang lahir di Jawa Tengah ini prihatin karena sebagian energi justru tersalurkan ke arah yang salah.

“Keluarga saya dari kalangan ekonomi kebawah, sempat susah secara ekonomi. Berjuang dan tahu rasanya apa itu kelaparan. Saya besar di Pejompongan sekitar Bendungan Hilir. Saya mendukung aspirasi perubahan positif rakyat Indonesia. Tapi saya sedih ketika ada pembakaran mobil, penjarahan,” ujar Dymasius ditulis, Minggu (31/8/2025).

Menurutnya, bangsa Indonesia harus kembali mengingat semangat Bhinneka Tunggal Ika yang mempersatukan keberagaman. 

“Indonesia sudah jauh lebih pintar. Jangan biarkan tragedi 1998 terulang kembali. Merdeka!” tegasnya.

Bagi Dymasius, semangat “warga jaga warga” adalah kunci. 

"Energi besar rakyat harus diarahkan pada perubahan positif, bukan perpecahan," katanya.

Pemilik gelar BEng in Engineering Science, Computational Engineering Science (Com Eng Sci) ini juga menekankan bahwa tulisannya lahir dari inisiatif pribadi, tanpa titipan atau utusan siapapun.

Diberitakan, aksi unjuk rasa dimulai di berbagai kota, dipicu oleh isu tunjangan DPR dan ketidakpekaan elite politik terhadap kondisi rakyat dimulai pada Senin 25 Agustus 2025.

Aksi penyampaian pendapat kembali terjadi pada Kamis 28 Agustus 2025. 

Halaman
12
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan