Banjir Bandang di Sumatera
Update Jumlah Korban Bencana di Sumatra: 1.059 Tewas, 192 Jiwa Masih Hilang
Update informasi terkait jumlah korban jiwa dalam bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Ringkasan Berita:
- Update informasi terkait jumlah korban jiwa dalam bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumut, dan Sumbar, Rabu (16/12/2025).
- Abdul Muhari menyebut, jumlah korban jiwa bertambah enam orang sehingga total keseluruhan menjadi 1.059 orang.
- Kemudian, sebanyak 192 jiwa masih hilang, berkurang delapan orang dari hari Selasa (16/12/2025) kemarin.
TRIBUNNEWS.COM - Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi (Kapusdatin) Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, memberikan update informasi terkait jumlah korban jiwa dalam bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar), Rabu (17/12/2025).
Abdul Muhari menyebut, jumlah korban jiwa bertambah enam orang sehingga total keseluruhan menjadi 1.059 orang.
"Per hari ini, ditemukan tambahan enam jasad. Di Aceh Utara, 2 jiwa dan di Sumut, Tapanuli Tengah, 4 jiwa. Sehingga rekapitulasi korban meninggal per hari ini berjumlah 1.059 jiwa," terangnya dalam konferensi pers, Rabu.
Kemudian, sebanyak 192 jiwa masih hilang, jumlah berkurang delapan orang dari hari Selasa (16/12/2025) kemarin.
"Untuk jumlah korban hilang, total tiga provinsi sebelumnya 200 jiwa, hari ini 192 jiwa," ucap Abdul.
Sementara itu, jumlah pengungsi pada hari Selasa ada sebanyak 606.040 orang. Kini sudah berkurang sehingga totalnya 577.600 jiwa.
Pengamat Bicara soal Status Bencana Nasional
Sebelumnya, arsitek sekaligus pendiri Rujak Urban Centre for Urban Studies, Marco Kusumawijaya, menyoroti status peristiwa banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra belum ditetapkan sebagai Bencana Nasional.
Menurut Marco, dibutuhkan nyali besar seorang negarawan untuk menetapkan status bencana nasional, termasuk untuk banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra.
Pasalnya, saat status tersebut ditetapkan, kata Marco, negara harus terbuka, dan dibutuhkan orang-orang yang bisa dipercaya untuk benar-benar membantu, bukan melakukan hal lain selain menolong.
"Saya tidak bisa menduga apa yang ada di isi kepala Prabowo, tetapi menurut saya begini, untuk menetapkan status darurat bencana nasional itu perlu nyali besar," kata Marco, dikutip dari tayangan yang diunggah di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Selasa.
"Karena Anda harus berani membuka negara Anda. Lalu, Anda harus punya kepercayaan kepada orang bahwa orang memang datang untuk membantu, bukan untuk aneh-aneh gitu."
Baca juga: Pemerintah Siap Bangun 2.603 Hunian Tetap bagi Korban Banjir Sumatra, Menteri PKP: Uangnya Non APBN
"Kemudian, Anda mungkin harus percaya kepada tim yang Anda bisa tunjuk untuk menangani ini. Nah, itu perlu nyali besar menurut saya."
Akan tetapi, Marco menegaskan bahwa dari pernyataan ini, dirinya tidak berarti menyebut Prabowo tidak punya nyali besar untuk menetapkan status bencana nasional.
"[Prabowo punya nyali besar] itu saya tidak tahu. Jadi jangan dulu, saya cuma bisa mengatakan, 'untuk menetapkan status itu perlu nyali besar seorang seorang negarawan', gitu."
Lebih lanjut, Marco menegaskan, polemik penetapan status bencana nasional untuk banjir bandang di Sumatra merupakan momen di mana nyali Prabowo dipertaruhkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Foto-udara-banjir-bandang-merendam-permukiman-dan-sawah-di-Aceh-Tengah-Aceh.jpg)