Kamis, 4 Juni 2026

Wacana Pilkada Melalui DPRD

Benny Harman: Pilkada Lewat DPRD Bukan Solusi, Demokrasi Bisa Mundur

Benny Harman kritik wacana pilkada DPRD. Demokrasi dinilai mundur, rakyat dirugikan, politik uang justru dari politisi, bukan rakyat.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Fersianus Waku
Tribunnews/Jeprima
Warga menggunakan hak pilihnya di TPS 019, Desa Bojong Koneng, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/11/2024). KPU menargetkan tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada Serentak 2024 mencapai 82 persen. Tribunnews/Jeprima 

Ringkasan Berita:
  • Benny Harman: pilkada DPRD bukan solusi, masalah klasik berulang.
  • Saiful Mujani: politik uang bersumber dari politisi, bukan rakyat.
  • Survei SMRC tunjukkan mayoritas rakyat menolak pilkada DPRD.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Anggota Badan Legislasi DPR RI, Benny Kabur Harman, menegaskan wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bukanlah solusi.

Ia menilai mekanisme itu berisiko membuat demokrasi mundur, mempertahankan masalah klasik, dan merugikan hak rakyat memilih langsung.

Pernyataan Benny ini membuka kembali perdebatan lama yang penuh kontroversi, dan membuat publik bertanya: apakah pilkada lewat DPRD benar-benar jalan keluar atau justru jebakan politik?

Masalah Klasik Pilkada

Benny Kabur Harman menilai pilkada lewat DPRD justru berpotensi mempertahankan masalah klasik seperti tingginya biaya politik, praktik politik uang, dan lemahnya netralitas aparatur negara.

“Menurut saya, kembali ke pilkada oleh DPRD itu bukan solusi,” kata Benny kepada wartawan, Senin (5/1/2026).

Selain duduk di Baleg, Benny juga anggota Komisi III DPR RI dan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat.

Ia mendorong perbaikan Undang-Undang Pilkada agar norma hukum lebih jelas dan memiliki daya paksa. 

“Buat UU Pilkada yang lebih baik. Norma harus jelas dan tegas, dengan sanksi tegas bagi pelanggar,” ujarnya.

Peran Negara dalam Biaya Politik

Benny menekankan negara seharusnya mengambil peran lebih besar dalam membiayai pelaksanaan pilkada.

“Jika tujuan demokrasi adalah kesejahteraan rakyat dan lahirnya pemimpin berkualitas, anggaran tidak boleh jadi alasan untuk mundur dari pemilihan langsung,” ucapnya.

Ia juga mengajak masyarakat tetap optimistis.

“Jangan pernah putus asa berjuang untuk rakyat. Politik itu harus riang gembira,” imbuhnya.

Politik Uang dari Politisi

Pendiri Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Saiful Mujani, menilai alasan politisi yang menyebut pilkada langsung rawan politik uang adalah tuduhan keliru.

Politik uang merujuk pada praktik pemberian uang untuk memengaruhi pilihan politik.

“Politisi itu sumber politik uang, bukan rakyat. Yang nyebar uang itu calon nggak pantas, nggak kompeten, maksa ingin menang,” tulis Saiful di akun X, Senin (29/12/2025).

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved