Kamis, 11 Juni 2026

HUT & Rakernas PDIP 2026

Pidato Lengkap Megawati Soekarnoputri di Rakernas PDIP, Singgung Bencana dan Imperialisme Modern

Menurut Megawati, sejumlah undang-undang dan regulasi justru membuka ruang bagi eksploitasi alam secara berlebihan. 

Tayang:
Tribunnews.com/Dok. PDIP/ Monang Sinaga
HUT DAN RAKERNAS PDIP - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri saat membuka pidatonya dalam rangka HUT ke-53 dan Rakernas I Tahun 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026). Berikut ini pidato lengkap Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam pidato politiknya di perayaan HUT ke-53 Partai sekaligus pembukaan Rakernas. 
Ringkasan Berita:
  • Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politiknya dalam peryaataan HUT ke-53 Partai
  • Megawati turut menyoroti sejumlah hal yang menjadi perhatian global dan dunia
  • Megawati menyoroti soal kebijakan pemerintah turut menjadi salah satu faktor penyebab bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politiknya dalam peryaataan HUT ke-53 Partai sekaligus pembukaan Rakernas I di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Dalam kesempatan itu, Megawati turut menyoroti sejumlah hal yang menjadi perhatian global dan dunia.

Baca juga: HUT ke-53 PDI Perjuangan, Megawati Serahkan Potongan Tumpeng kepada Sejumlah Tokoh PDIP

Secara khusus, Megawati menyoroti soal kebijakan pemerintah turut menjadi salah satu faktor penyebab bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera. 

"Kita harus berani jujur. Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan," kata Megawati.

Baca juga: HUT ke-53 PDIP, Megawati Teken Akta Notaris Pendirian Kantor Megawati Institute

Menurut Megawati, sejumlah undang-undang dan regulasi justru membuka ruang bagi eksploitasi alam secara berlebihan. 

Kebijakan tersebut, kata dia, memberi kemudahan bagi konsesi besar yang berujung pada kerusakan lingkungan.

Tak hanya itu, dalam skala global, menegaskan ihwal intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela sebagai bentuk neokolonialisme dan imperialisme modern. 

“Tindakan tersebut merupakan wujud neokolonialisme dan imperialisme modern, yang mengingkari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip dasar hubungan antarbangsa,” kata Megawati di acara HUT ke-53 PDIP dan Rakernas I Tahun 2026 di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (10/1/2026)

Bangsa Indonesia, tegas Megawati, menolak tatanan internasional yang membenarkan dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain. 

“Demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata, keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak, dan peradaban tidak dibangun di atas penghinaan terhadap martabat bangsa,” tuturnya.

Megawati juga mengingatkan, sejak Konferensi Asia Afrika yang digagas Presiden pertama RI Soekarno, Indonesia memiliki sikap konsisten menentang imperialisme dalam segala bentuknya.

Karena itu, PDI Perjuangan, lanjut Megawati, menyerukan agar setiap konflik internasional diselesaikan melalui dialog, diplomasi, dan mekanisme hukum internasional.

Sementara, Megawati juga menyatakan politik harus dijalankan sebagai alat pengabdian kepada rakyat, bukan sekadar sarana mengejar jabatan atau popularitas. 

Dia menyampaikan bahwa politik sejatinya merupakan tanggung jawab moral dan sejarah, bukan ruang untuk kepentingan pribadi.

Presiden Kelima RI ini mengingatkan seluruh kader PDI Perjuangan agar menjadikan setiap langkah politik sebagai bentuk pengabdian, bukan sekadar upaya meraih kekuasaan.

“Seorang pejuang sejati tidak mengejar popularitas, melainkan tanggung jawab; tidak mencari pujian, melainkan pengabdian,” kata Megawati.

Baca juga: PDIP Resmi Luncurkan Maskot ‘Barata’ di HUT ke-53, Bermakna ‘Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat’

Menurut Megawati, politik yang kehilangan dimensi moral akan menjauh dari rakyat dan melupakan tujuan dasarnya sebagai alat untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama. 

Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya mengembalikan politik pada nilai-nilai gotong royong dan keberpihakan kepada rakyat.

Megawati juga menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang kader tidak ditentukan oleh banyaknya jabatan yang pernah diduduki. 

Sejarah, kata dia, akan menilai sikap politik seseorang berdasarkan keberpihakannya pada kebenaran ketika menghadapi ujian.

“Sejarah tidak akan bertanya berapa jabatan yang pernah kalian duduki. Sejarah akan bertanya, di pihak siapa kalian berdiri ketika kebenaran diuji,” jelasnya.

Sebagai informasi, dalam rangkaian HUT ke-53 dan Rakernas I ini, DPP PDIP mengusung tema "Satyam Eva Jayate" dengan subtema "Di Sanalah Aku Berdiri, Untuk Selama-lamanya".

Satyam Eva Jayate adalah semboyan berbahasa Sanskerta yang berarti "Kebenaran akan Menang". 

Sementara subtema "Di Sanalah Aku Berdiri, Untuk Selama-lamanya" dikutip dari lagu kebangsaan Indonesia Raya karya W.R. Supratman, yang menggambarkan daya tahan (resilience) yang menyertai kebenaran tersebut.

Rangkaian agenda dimulai dari Pembukaan HUT ke-53 PDIP pada 10 Januari dan dilanjutkan dengan Rakernas hingga 12 Januari 2026. Agenda ini dihadiri oleh pengurus pusat, pengurus daerah (Ketua, Sekretaris, Bendahara) tingkat provinsi/kabupaten/kota, anggota DPR RI Fraksi PDIP, DPRD, serta kepala daerah/wakil kepala daerah dari PDIP

Rakernas ini merupakan tindak lanjut strategis dari hasil Kongres VI PDIP yang dilaksanakan pada Agustus 2025 lalu.

Berikut ini pidato lengkap Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam pidato politiknya di perayaan HUT ke-53 Partai sekaligus pembukaan Rakernas I di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Baca juga: HUT ke-53 PDI Perjuangan, Megawati Serahkan Potongan Tumpeng kepada Sejumlah Tokoh PDIP

Assalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh, Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swasti Astu, Namo Budaya, Salam Kebajikan, Rahayu.

Marilah terlebih dahulu kita pekikkan salam nasional kita, Salam Pancasila!!! Merdeka!!!

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Para kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di seluruh penjuru Tanah Air, Para Kawan Juang PDI Perjuangan, Dan seluruh Rakyat Indonesia yang saya cintai.

Sebelum saya menyampaikan pidato politik ini, izinkan saya, atas nama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas bencana hidrometeorologi yang menimpa saudara-saudara kita di Provinsi Aceh,

Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Doa dan solidaritas kita panjatkan bagi para korban, serta kekuatan dan ketabahan bagi seluruh keluarga yang terdampak.

Hari ini, kita memperingati Hari Ulang Tahun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang ke-53, sekaligus melaksanakan Rapat Kerja Nasional I Tahun 2026. Bagi saya, peringatan ini bukan sekadar peristiwa seremonial atau rutinitas politik tahunan, melainkan momentum ideologis untuk melakukan refleksi mendalam, termasuk kritik dan otokritik atas kerja-kerja kepartaian yang telah kita jalankan.

Hari Ulang Tahun Partai tidak hanya mengajak kita menoleh ke belakang untuk menghargai sejarah perjuangan, tetapi juga menatap ke depan untuk menegaskan kembali arah, tujuan, dan cita-cita Partai. Inilah saatnya memperkuat agenda strategis, menajamkan garis kebijakan, serta mempertegas sikap politik Partai dalam menghadapi tantangan zaman—mulai dari krisis geopolitik, krisis demokrasi, ketimpangan sosial, hingga krisis ekologis yang kian mengancam keselamatan rakyat dan masa depan bangsa.

Pada akhirnya, makna terdalam dari peringatan Hari Ulang Tahun Partai adalah pertanggungjawaban moral kepada rakyat. Partai lahir dari rahim akyat, tumbuh oleh kepercayaan rakyat, dan hanya akan bermakna jika setia mengabdi kepada rakyat. Legitimasi Partai tidak ditentukan oleh usia organisasi atau jumlah kursi kekuasaan, melainkan oleh keberpihakan nyata kepada rakyat dan kebenaran sejarah.

Saudara-saudara sekalian, Di tengah krisis global, dunia kembali dihadapkan pada praktik lama yang seharusnya ditinggalkan: intervensi, pemaksaan kehendak, dan penggunaan kekuatan militer terhadap negara berdaulat.

Saya menyampaikan sikap tegas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan terhadap setiap bentuk intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela, termasuk penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya melalui operasi militer yang telah memicu kecaman internasional sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional.

Tindakan tersebut merupakan wujud neokolonialisme dan imperialisme modern, yang mengingkari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip dasar hubungan antarbangsa. Bangsa Indonesia menolak tatanan internasional yang membenarkan dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain. Demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata, keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak, dan peradaban tidak dibangun di atas penghinaan terhadap martabat bangsa.

Sejak Konferensi Asia Afrika digagas Bung Karno, Indonesia konsisten menentang imperialisme dalam segala bentuknya. Karena itu, PDI Perjuangan menyerukan penyelesaian konflik internasional melalui dialog, diplomasi, dan hukum internasional, bukan melalui kekerasan yang hanya memperpanjang penderitaan rakyat sipil.

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, Hari ini, umat manusia sedang menghadapi ancaman terbesar sepanjang sejarah peradabannya. Untuk pertama kalinya, bumi yang kita huni menjadi lebih panas dibandingkan seratus ribu tahun terakhir. Badai, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan datang silih berganti, menghantam kehidupan manusia tanpa memandang batas negara, ideologi, maupun kelas sosial.

Tahun 2023 mencatatkan diri sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah umat manusia, diperparah oleh fenomena El Niño yang mengguncang sendi-sendi kehidupan global. Memasuki tahun 2024, suhu global bahkan telah melampaui ambang satu setengah derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri—sebuah batas kritis yang selama ini diperingatkan oleh ilmu pengetahuan.

Dan di negeri kita sendiri, pada 23 November 2025, hujan ekstrem telah memicu bencana ekologis dan kemanusiaan berskala besar. Puluhan kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat lumpuh. Ribuan nyawa melayang, ratusan dinyatakan hilang, dan ratusan ribu rakyat terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya.

Bagi saya, bencana ini bukan peristiwa alam semata. Ini adalah peringatan sejarah. Ini adalah isyarat keras tentang masa depan yang jauh lebih katastrofik, apabila umat manusia gagal mengubah arah peradabannya—gagal menghentikan pemanasan global, gagal mengubah cara memperlakukan alam, dan gagal menempatkan keselamatan rakyat di atas logika kapitalisme yang eksploitatif.

Yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda. Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan. Banyak di antara mereka merasa bahwa generasi sebelumnya telah gagal merawat bumi, dan bahwa hari esok justru tampak lebih menakutkan daripada hari ini.

Ilmu pengetahuan pun memberikan peringatan keras. Kita sedang mendekati titik-titik kritis yang mungkin tidak dapat dipulihkan: suhu laut meningkat, es mencair ke titik terendah, dan keanekaragaman hayati merosot tajam. Sebagian ilmuwan bahkan menyebut fase ini sebagai awal keteruraian besar peradaban manusia. 

Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah kita akan diam, ataukah kita akan mengubah arah sejarah?

Saudara-saudara sekalian, Bencana yang kita saksikan, khususnya di Sumatera, bukan hanya kehendak alam, melainkan juga akibat langsung dari ulah manusia. 

Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan—sebagai spons alam penyerap air—telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis.

Akibatnya jelas dan nyata. Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap. Air kehilangan fungsinya sebagai sumber kehidupan, lalu berubah menjadi kekuatan penghancur. Ia menghantam hilir, menyapu pemukiman, lahan pertanian, dan kehidupan rakyat kecil yang bahkan tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Inilah krisis peradaban ekologis— ketika manusia menempatkan dirinya sebagai penguasa alam, bukan sebagai bagian dari kesatuan kehidupan.

Kita harus berani jujur. Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan. Undang-undang dan regulasi yang memberi karpet merah pada konsesi besar telah membuka jalan bagi deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem. Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban.

Bung Karno telah mengingatkan kita sejak awal Republik berdiri. Tahun 1946, beliau berkata dengan sangat sederhana namun mendalam: “Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber. Tidak ada sumber, tidak ada air.” Hari ini, kebenaran itu terbukti secara tragis.

Saudara-saudara, kader Partai yang saya banggakan, Bangsa Indonesia tidak miskin nilai. Kita memiliki kearifan lokal yang jauh lebih maju daripada logika kapitalisme yang memisahkan manusia dari alamnya. Di Bali, kita mengenal Tri Hita Karana—jalan kebahagiaan yang lahir dari tiga keseimbangan: hubungan manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan sesamanya. Dalam pandangan ini, bumi dihormati sebagai satu ekosistem kehidupan, bukan objek eksploitasi.

Di tanah Jawa, kita mengenal Memayu Hayuning Bawana—memperindah bumi dan alam semesta. Bumi diperlakukan sebagai Ibu, langit sebagai Bapak, dan manusia adalah anak, bukan penguasa. Anak yang baik adalah anak yang merawat, bukan yang merusak. Bumi akan tersenyum bila dirawat, dan ketika bumi tersenyum, manusia akan memperoleh keselamatan.

Karena itu, peradaban yang maju bukan diukur dari gedung tinggi, melainkan dari cara ia memperlakukan bumi. Siapapun yang mencintai bumi, bumi akan berbicara dengan memberikan keselamatan kehidupan. Maka, jalan perjuangan Partai harus berpihak pada kelestarian ekologi. 

Inilah pesan Tri Hita Karana. Inilah pesan Memayu Hayuning Bawana. Dan inilah pesan Pancasila.

Tema Rakernas I Partai Tahun 2026, Satyam Eva Jayate—kebenaran pasti akan menang, harus kita maknai sebagai keberanian berdiri di pihak kebenaran ekologis, sosial, dan ideologis. 

Subtema “Di Sanalah Aku Berdiri, Untuk Selama-Lamanya” adalah ikrar bahwa PDI Perjuangan berdiri bersama rakyat dan bumi, bukan bersama kekuasaan yang melupakan tanggung jawab sejarahnya.

Karena itu, saya tegaskan: kader PDI Perjuangan harus menjadi Pandu Ibu Pertiwi. Pandu adalah penunjuk jalan. Pandu adalah penjaga arah. Pandu adalah mereka yang berjalan paling depan saat jalan gelap, dan paling belakang saat rakyat harus dilindungi. Kader tidak boleh menjadi bagian dari kerusakan alam dan penderitaan rakyat.

Menjadi Pandu Ibu Pertiwi berarti menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, antara kekuasaan dan moral, antara pembangunan dan keadilan. Berani mengatakan tidak pada kebijakan yang merusak bumi. Berani melawan keserakahan yang mengorbankan rakyat. Dan berani berdiri tegak di atas kebenaran, apa pun konsekuensinya.

Anak-anakku, jangan pernah takut pada kebenaran. Kebenaran adalah api yang menyucikan. Kader PDI Perjuangan harus berani disucikan oleh kebenaran itu—berani mengakui kesalahan, berani memperbaiki diri, dan berani berdiri tegak meski sendirian. Seorang pejuang sejati tidak mengejar popularitas, melainkan tanggung jawab; tidak mencari pujian, melainkan pengabdian.

Anak-anakku sekalian, bangsa ini membutuhkan teladan, bukan sekadar kata- kata. Politik harus kembali menjadi politik moral, politik gotong royong, politik pengabdian. Jadikan setiap langkah politik kita sebagai tanggung jawab sejarah.

Menjadi kader PDI Perjuangan bukan sekadar mengenakan seragam merah atau mengutip nama Bung Karno. Menjadi kader berarti menghidupi nilai perjuangan dalam pikiran, tindakan, dan hati nurani.

Anak-anakku, hari ini saya berdiri di hadapan kalian bukan hanya sebagai Ketua Umum Partai, tetapi sebagai seorang ibu yang mengingatkan anak-anak ideologisnya bahwa jalan perjuangan ini panjang, berat, dan hanya dapat ditempuh oleh mereka yang berjiwa teguh dan berhati bersih.

Sejarah tidak akan bertanya berapa jabatan yang pernah kalian duduki. Sejarah akan bertanya: di pihak siapa kalian berdiri ketika kebenaran diuji? Di sanalah nilai kader diukur. Di sanalah kehormatan perjuangan ditentukan.

Mari kita jadikan peringatan HUT Partai ke-53 ini sebagai titik penguatan tekad dan disiplin ideologis. Satukan pikiran, satukan langkah, dan satukan keberanian. Rawat bumi, lindungi Rakyat, dan jaga marwah politik sebagai alat pengabdian.

Dirgahayu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ke-53. Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridai perjuangan kita. Satyam Eva Jayate.

Terima kasih.

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh.Om Santi Santi Santi OmNamo Buddhaya Merdeka !!!

Megawati Soekarnoputri

KETUA UMUM PDI PERJUANGAN

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved