Ijazah Jokowi
Hadirkan 3 Guru Besar, Dokter Tifa Tegaskan Penelitiannya soal Ijazah Jokowi Bukan Abal-abal
Prof Zaenal menyatakan bahwa riset ilmiah dari Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Dokter Tifa berbasis neuroscience (ilmu sistem saraf otak manusia).
Ringkasan Berita:
- Dokter Tifa mengatakan, Profesor Zaenal Muttaqin telah menyatakan bahwa dirinya memiliki kualifikasi sebagai seorang neuroscience behavior.
- Prof Zaenal sendiri menyatakan bahwa riset ilmiah dari Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Dokter Tifa berbasis neuroscience (ilmu sistem saraf otak manusia).
- Terkait perkara Roy Suryo cs ini, Prof Tono mengklaim apa yang dilakukan Roy Suryo cs sudah sesuai dengan kaedah-kaedah saintifik.
TRIBUNNEWS.COM - Tersangka kasus pencemaran nama baik Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa, menghadirkan 3 guru besar sebagai saksi ahli meringankan terkait laporan kasus tudingan ijazah eks Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Dokter Tifa, hari ini, Selasa (20/1/2026) dijadwalkan menghadirkan saksi meringankan untuk diperiksa di Polda Metro Jaya.
Tiga guru besar itu adalah Prof. Dr. Ir. Tono Saksono M.Sc, Ph.D (Ahli Fotogrametri/Ahli Digital Image Processing), Prof. Henry Subiakto (Ahli Ilmu Komunikasi dan UU ITE), dan Prof. dr. Zaenal Muttaqin Ph.D (Ahli Bedah Saraf Neuroscience).
Dokter Tifa mengatakan, Profesor Zaenal Muttaqin telah menyatakan bahwa dirinya memiliki kualifikasi sebagai seorang neuroscience behavior.
"Profesor Zaenal Muttaqin, beliau memberikan penjelasan bahwa saya Dokter Tifa memang betul-betul mendapatkan pendidikan serta memiliki kualifikasi sebagai seorang neuroscience behavior (ilmu saraf perilaku) yang memberikan riset atau penelitian saya," jelasnya, Selasa, dikutip dari YouTube Kompas TV.
"Tadi masyarakat sudah mendengarkan sendiri ya, bagaimana kualifikasi seorang Profesor Zaenal Muttaqin, ahli neuroscience bedah saraf yang sangat-sangat ternama dan mungkin paling ternama, beliau alhamdulillah dengan rendah hati bersedia untuk menjadi ahli saya," sambungnya.
Prof Zaenal sendiri menyatakan, riset ilmiah dari Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Dokter Tifa berbasis neuroscience (ilmu sistem saraf otak manusia).
"Jadi disebutkan di situ banyak sekali tentang organ di otak, di dalam otak itu ada motorik kemudian sensorik dan ada bagian otak yang menjadi pusat perilaku kita yang disebut limbik sistem," ucapnya, Selasa.
Lebih jauh lagi, kata Prof Zaenal, riset ilmiah itu juga ada amigdala dan hippocampus yang mengatur dan mengelola memori sepanjang hidup, yang biasanya disebut memori autobiografis, perjalanan hidup dari mulai lahir anak-anak SD, SMP, SMA hingga saat ini.
Saksi ahli selanjutnya adalah Profesor Tono Saksono, seorang ahli digital forensik.
"Berikutnya yang kedua tadi yang teman-teman sudah bisa melihat ya, Prof. Tono Saksono ya, beliau adalah seorang ahli digital forensik yang memang kami bertiga ini sama-sama menggunakannya."
Baca juga: Roy Suryo Tak Terima Penerbitan SP3 untuk Eggi dan Damai Sangat Cepat: Sebenarnya Cacat
"Kalau saya menggunakannya dalam konsep assessment assistance, saya menggunakan facial action coding system dan itu nanti juga bisa dijelaskan kepada penyidik oleh Prof Tono Saksono ya," katanya.
Oleh karena itu, Dokter Tifa mengatakan, penelitian terkait ijazah Jokowi dalam buku Jokowi's White Paper itu tidak abal-abal.
"Jadi saya tidak abal-abal, saya tidak asal-asalan ya dalam melakukan penelitian terkait dengan yang saya muat dalam Jokowi's White Paper terkait dengan ijazah Jokowi dan perilaku beliau selama 2014 sampai 2024 yang menjadi kajian saya," tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Dokter-Tifa-dan-Joko-Widodo.jpg)