Sabtu, 11 April 2026

Dari Padang ke Kampus Global: Jalan Salma Putri Menjadi Generasi Neuroscience

Salma Putri Insani menapaki jalur yang tak banyak dipilih pelajar dari daerah: neuroscience, cabang ilmu yang mempelajari sistem saraf.

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Wahyu Aji
Istimewa
BEASISWA KAMPUS GLOBAL - Salma Putri Insani, penerima Beasiswa Amartha sekaligus ASEAN Chairman pada Model ASEAN Meeting di Albukhary International University. Salma yag berasal dari Lubuk Kilangan, Padang, menekuni neuroscience dan diterima di University of Melbourne serta University of Toronto sebelum memilih Albukhary International University 

Ringkasan Berita:
  • Salma Putri Insani dari Lubuk Kilangan, Padang, menekuni neuroscience dan diterima di University of Melbourne serta University of Toronto sebelum memilih Albukhary International University.
  • Ia memadukan neuroscience dan computer science untuk mendalami riset otak berbasis AI dan analisis data.
  • Dengan tekad meraih beasiswa penuh, Salma membuktikan pelajar dari daerah mampu menembus pendidikan global.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dari Lubuk Kilangan, Padang, Sumatera Barat, Salma Putri Insani menapaki jalur yang tak banyak dipilih pelajar dari daerah: neuroscience, cabang ilmu yang mempelajari sistem saraf dan cara kerja otak manusia.

Ia diterima di sejumlah universitas luar negeri, termasuk University of Melbourne dan University of Toronto, sebelum akhirnya memilih melanjutkan studi di Albukhary International University.

Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan kesesuaian program studi dengan minat risetnya serta lokasi yang relatif dekat dengan Indonesia.

Di balik capaian tersebut, ada perjalanan panjang yang dibangun sejak bangku sekolah. Ketertarikan Salma pada neuroscience tumbuh dari kegelisahan sederhana: mengapa kemampuan anak sering kali dinilai semata dari angka dan peringkat?

Ia melihat bagaimana lingkungan dapat membentuk cara anak memandang dirinya sendiri. Bagi Salma, otak manusia jauh lebih kompleks dan adaptif dibanding sekadar hasil ujian.

“Aku ingin memahami bagaimana otak bekerja, bagaimana ia memproses informasi, dan bagaimana lingkungan memengaruhi perkembangan seseorang,” ujarnya kepada wartawan belum lama ini.

Untuk memperkuat fondasi ilmiahnya, Salma memilih mendalami computer science.

Ia menyadari bahwa riset otak modern kini tidak bisa dilepaskan dari kemajuan teknologi, terutama dalam analisis data, kecerdasan buatan (AI), dan pemodelan sistem saraf.

Perkembangan global menunjukkan integrasi kuat antara neuroscience dan komputasi.

Banyak penelitian mutakhir menggunakan machine learning untuk memetakan aktivitas otak, memahami pola kognitif, hingga mengembangkan pendekatan baru dalam pendidikan dan kesehatan mental.

Bagi Salma, memahami sisi teknis melalui ilmu komputer adalah langkah strategis untuk memasuki dunia riset otak yang semakin berbasis data.

“Neuroscience sekarang sangat dekat dengan teknologi. Aku ingin punya hard skill yang benar-benar kuat supaya bisa masuk ke riset yang lebih dalam,” katanya.

Perjalanan Panjang dan Tekad Mandiri

Perjalanan menuju kampus luar negeri bukan proses instan. Salma mendaftar ke puluhan universitas di Kanada, Malaysia, dan Australia.

Di tengah proses itu, ia sempat menghadapi kekecewaan ketika beberapa program beasiswa yang diincarnya tidak membuka pendaftaran.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved