Kunjungan Presiden Ke Luar Negeri
Momen Prabowo Kenang Peran Ayahnya dalam Hubungan Bilateral Indonesia-AS
Prabowo di Gala Iftar Washington kenang peran Soemitro dan jamin investasi aman. Indonesia disebut disiplin fiskal dan siap bangkit.
Prabowo menjelaskan, sikap disiplin ini telah menjadi budaya politik Indonesia. Meski terjadi pergantian pemerintahan, komitmen terhadap kewajiban keuangan negara selalu dijaga, bahkan ketika pemimpin baru berasal dari kubu politik yang berbeda.
“Bahkan pemerintahan-pemerintahan berikutnya akan selalu menghormati utang dari pemerintahan sebelumnya, meskipun mereka mungkin merupakan lawan politik yang keras satu sama lain. Tradisi dalam masyarakat kami adalah menghormati kewajiban kami,” tegasnya.
Di hadapan para investor, Prabowo juga menegaskan bahwa Indonesia kini memasuki fase kebangkitan ekonomi yang lebih nyata. Ia menyebut dunia internasional mulai mengakui kekuatan fondasi ekonomi nasional yang terus tumbuh stabil.
“Saya rasa dunia kini mengakui bahwa kami memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Indonesia bukan lagi raksasa yang tertidur. Kami mulai bangun,” lanjutnya.
Selain mempromosikan stabilitas ekonomi, Prabowo turut menekankan komitmen pemerintahannya dalam memberantas korupsi dan penyelundupan demi menciptakan iklim usaha yang sehat dan berkelanjutan.
“Kami bertekad menciptakan suasana kepastian dalam proses hukum. Inilah yang akan menambah iklim stabilitas sosial, politik, dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kegiatan bisnis,” pungkasnya.
Pernyataan Prabowo ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia ingin memperkuat posisinya sebagai mitra strategis dan tujuan investasi utama bagi dunia, khususnya bagi pelaku usaha Amerika Serikat.
Baca juga: Bertemu Pengusaha AS, Prabowo Cari Mitra Jangka Panjang Bangun Industri Modern di RI
Mengenal Soemitro Djojohadikusumo, Ayah Prabowo
Soemitro Djojohadikusumo (1917–2001) merupakan salah satu ekonom dan politikus paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.
Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Industri, Menteri Keuangan, serta Menteri Riset pada era Orde Lama hingga Orde Baru, sekaligus menjadi Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1951–1957). Ia juga dikenal sebagai ayah Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto.
Soemitro menempuh pendidikan ekonomi di Rotterdam, Belanda, dan meraih gelar doktor pada masa Perang Dunia II.
Setelah kembali ke Indonesia, ia berperan dalam diplomasi kemerdekaan, termasuk dalam delegasi Indonesia di PBB dan Konferensi Meja Bundar.
Dalam karier pemerintahan, Soemitro mencetuskan Program Benteng dan mendorong industrialisasi serta investasi asing untuk memperkuat ekonomi nasional.
Namun, pandangannya yang pro-investor membuatnya mendapat tekanan politik pada masa Soekarno hingga akhirnya terlibat dalam gerakan PRRI dan hidup di luar negeri selama hampir satu dekade.
Pada era Soeharto, ia kembali ke Indonesia dan dipercaya menjadi menteri serta mentor bagi banyak teknokrat.
Setelah tak lagi menjabat, ia tetap aktif mengkritik kebijakan ekonomi dan menyoroti kerentanan struktur ekonomi Indonesia menjelang krisis 1997–1998.
Soemitro wafat pada 9 Maret 2001 di Jakarta dalam usia 84 tahun dan dimakamkan di TPU Karet Bivak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Prabowo-Subianto-Menghadiri-Business-Summit.jpg)