Dari Ruang Redaksi ke Jalan Spiritual: Perjalanan Pengabdian Dar Edi Yoga
Bagi Dar Edi Yoga, hidup adalah perjalanan sunyi yang dijalani dengan kesadaran untuk memberi makna.
Kedekatannya dengan alam pun menjadi bagian penting dari pembentukan dirinya. Sejak muda, ia aktif dalam kegiatan kepencintaalaman, mendirikan Elpala SMA 68 Jakarta, dan bergabung dengan komunitas Top Ranger and Mountain Pathfinder (TRAMP) sejak 1985.
Ia juga pernah menjadi manajer pendakian empat puncak tertinggi dunia yang dilakukan pendaki tunadaksa asal Solo, Sabar Gorky. Baginya, gunung adalah ruang pembelajaran tentang kerendahan hati dan ketekunan. “Di sana kita belajar bahwa hidup adalah tentang kesungguhan langkah,” ujarnya.
Komitmennya pada kehidupan sosial juga terlihat dari berbagai inisiatif yang ia bangun.
Ia ikut mendirikan Beranda Ruang Diskusi sebagai ruang perjumpaan lintas profesi dan gagasan.
Ia juga terlibat dalam Vox Point Indonesia, FORMAS, dan PERWATUSI, serta kini mengemban amanah sebagai Sekretaris Yayasan Gardu 08 Indonesia. Pada 4 Desember 2025, ia menggagas pagelaran sendratari di Gunung Padang sebagai upaya merawat warisan budaya dan sejarah bangsa.
Dalam kehidupan iman, Dar Edi Yoga aktif melayani umat Katolik, khususnya di lingkungan Keuskupan yang menaungi komunitas TNI-Polri, serta menjadi peserta SAGKI 2025. Sejak era 1990-an, ia juga turut membangun komunitas Karyawan Muda Katolik di Gereja Katedral Jakarta dan Kelompok Meditasi Keluarga Kudus.
Meski menjalani banyak peran, Dar Edi tetap memandang hidup secara sederhana. Baginya, ukuran kehidupan bukan pada capaian, melainkan kedalaman makna yang diberikan kepada sesama. “Hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita capai, tapi seberapa dalam kita memberi,” tuturnya.
Bagi Dar Edi Yoga, pengabdian adalah perjalanan panjang yang ditempuh dengan kesetiaan—tenang, konsisten, dan jauh dari kegaduhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dar-edi-y.jpg)