Iran Vs Amerika Memanas
Rencana Jadi Mediator Iran-AS-Israel, Pengamat Sarankan Indonesia Ajak Rusia dan China, Mengapa?
Pengamat menilai Indonesia bisa mengajak Rusia dan China jika menjadi mediator konflik antara Iran, AS, dan Israel. Begini penjelasannya.
Ringkasan Berita:
- Pengamat hubungan internasional Unsri, Ferdiansyah Rivai, mengungkapkan Indonesia tidak bisa sendiri ketika menjadi mediator antara Iran, AS, dan Israel yang kini tengah berkonflik.
- Menurutnya, Indonesia tidak memiliki 'modal unik' yang bisa digunakan sebagai posisi nilai tawar.
- Rivai pun menyarankan agar Indonesia mengajak anggota BRICS seperti Rusia dan China untuk membicarakan perdamaian ketiga negara itu melalui pembahasan di Dewan Keamanan (DK) PBB.
TRIBUNNEWS.COM - Pengamat hubungan internasional Universitas Sriwijaya (Unsri), Ferdiansyah Rivai, menilai rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator terkait konflik Iran dengan AS dan Israel tidak bisa dilakukan sendiri.
Menurutnya, hal tersebut menjadi opsi paling masuk akal. Rivai mengatakan Indonesia bisa mendorong anggota aliansi ekonomi dan geopolitik, BRICS, untuk ikut berpartisipasi sebagai mediator.
Pasalnya, Rivai menganggap Indonesia tidak memiliki nilai tawar lebih ketika menjadi mediator tunggal untuk mendamaikan ketiga negara tersebut.
Dia mengatakan Indonesia bisa mendorong anggota BRICS seperti Rusia dan China untuk mendorong agar kedua negara tersebut membawa konflik tersebut ke Dewan Keamanan (DK) PBB untuk diselesaikan.
"Yang paling masuk akal sebenarnya adalah Indonesia, entah secara bilateral atau melalui BRICS, mendorong China dan Rusia untuk membawa ini (konflik Iran, AS, dan Israel, ke Dewan Keamanan PBB. Kedua negara ini adalah anggota tetap dan memiliki hak veto, dan sejauh ini terlihat tidak ingin terlibat jauh ke dalam konflik," katanya kepada Tribunnews.com, Selasa (3/3/2026).
Rivai juga menjelaskan perlunya dukungan negara lain dalam mediasi karena berkaca dari gagalnya perundingan antara Iran dan AS yang dimediasi oleh Oman.
Baca juga: Konflik Iran Vs AS Makin Memanas, Bahlil Garansi Harga BBM Pertalite Tidak Akan Naik
Sehingga, Indonesia harus bisa belajar dari negosiasi yang gagal tersebut.
Diketahui, beberapa hari sebelum serangan terjadi pada Sabtu (28/2/2026) lalu, Iran dan AS sempat berunding terkait kepemilikan senjata nuklir.
Namun, ternyata, pasca perundingan tersebut, AS tetap melancarkan serangan ke Iran meski disebut ada kesepakatan di mana Iran mau mengolah uranium yang dimiliki untuk kebutuhan produksi bahan bakar alih-alih senjata nuklir.
Hal ini sempat disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Oman sekaligus mediator perundingan Iran-AS, Badr Albusaidi.
"Yang perlu menjadi catatan, beebrapa hari sebelum terjadi invasi, Iran dan Amerika sedang melakukan pertemuan yang dimediasi oleh Oman terkait kepemilikan nuklir."
"Jadi dibilang, serangan kemarin adalah bentuk kegagalan dari mediasi. Kalau begitu, kita perlu untuk bertanya lebih lanjut kepada Presiden: modal unik apa yang dia atau Indonesia punya untuk memediasi ini? Saya pribadi tidak bisa melihat itu," tuturnya.
Mengapa Indonesia Harus Ajak Rusia dan China?
Rivai mengungkapkan alasan paling masuk akal bagi Indonesia yakni mengajak Rusia dan China untuk mendorong pembahasan konflik di Iran ke DK PBB.
Selain sebagai sesama anggota BRICS, kedua negara tersebut dinilai enggan untuk masuk lebih jauh ke dalam konflik tersebut.
China, kata Rivai, enggan untuk ikut terlibat karena tengah memperbaiki ekonomi yang mengalami kelebihan pasokan atau over supply di berbagai sektor.