Mudik Lebaran 2026
Awal Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Kondusif, BMKG Minta Waspada Hujan dan Angin Kencang
Memasuki periode awal arus mudik Lebaran 2026, kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia secara umum diprakirakan masih relatif kondusif.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia secara umum diprakirakan masih relatif kondusif di masa awal arus mudik Lebaran 2026.
- BMKG mengingatkan agar pemudik meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang di sejumlah wilayah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Memasuki periode awal arus mudik Lebaran 2026, kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia secara umum diprakirakan masih relatif kondusif.
Namun masyarakat yang hendak melakukan perjalanan mudik tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang di sejumlah wilayah.
Baca juga: 3 Cara Mudah Cek Cuaca Jalur Mudik Lebaran 2026 dari BMKG, Bisa Pantau Rute Perjalanan
Peringatan ini disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai bagian dari pembaruan informasi cuaca selama masa awal pergerakan pemudik.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dalam menyikapi kondisi cuaca, tetapi tidak lengah terhadap kemungkinan perubahan yang dapat terjadi selama perjalanan mudik.
Ia menegaskan bahwa memantau perkembangan informasi cuaca menjadi langkah penting agar perjalanan dapat berlangsung lebih aman dan nyaman.
“Tetap pantau informasi cuaca darat, laut, dan udara yang terbarui untuk menyesuaikan rencana perjalanan mudik melalui berbagai kanal resmi BMKG,” kata Faisal pada siaran pers, Minggu (15/3/2026).
Dinamika Atmosfer
BMKG menjelaskan bahwa dinamika atmosfer saat ini masih cukup aktif di wilayah Indonesia.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) masih berlangsung di wilayah selatan dan timur Indonesia.
Kondisi tersebut juga diikuti oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial serta Gelombang Kelvin yang terjadi di sekitar wilayah Indonesia pada periode 13 hingga 20 Maret 2026.
Kombinasi fenomena atmosfer tersebut dinilai turut memperkuat proses pembentukan awan hujan di beberapa wilayah.
Selain itu, kelembapan udara yang relatif tinggi serta kondisi atmosfer yang cukup labil juga menjadi faktor yang mendukung terbentuknya hujan.
BMKG memprakirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dapat terjadi pada periode 14 hingga 17 Maret 2026.
Wilayah yang berpotensi mengalami kondisi tersebut antara lain sebagian daerah di Sumatera serta wilayah Jawa bagian tengah dan timur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Jakarta-Diguyur-Hujan-Lebat-Sejumlah-Kawasan-Tergenang-Banjir_20260122_112144.jpg)