Iran Vs Amerika Memanas
Dubes Iran Sebut Isu Perpecahan Sunni dan Syiah Diinisiasi oleh Israel
Duta Besar Republik Islam Iran Mohammad Boroujerdi menyampaikan bahwa perpecahan antar-mahzab sebenarnya diinisiasi oleh Israel.
"Di sini saya juga mengucapkan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah Republik Indonesia yang setelah orang Amerika-Israel melawan Iran, memiliki kesediaan, memiliki kesiapan, menyatakan kesediaannya untuk menjembatani bagi terwujudnya perdamaian untuk menjadi fasilitator dalam terciptanya perdamaian di wilayah tersebut," ungkapnya.
Warga AS Ingin Perang Segera Berakhir
Di sisi lain, mayoritas warga Amerika Serikat menginginkan konflik dengan Iran segera diakhiri, seiring meningkatnya kelelahan publik terhadap perang yang memasuki bulan kedua.
Survei yang dirilis Reuters dan Ipsos mencatat sekitar 66 persen warga Amerika mendukung percepatan akhir perang, bahkan jika tujuan militer belum sepenuhnya tercapai.
Sementara itu, survei Economist/YouGov menunjukkan 59 persen responden menentang perang secara keseluruhan, dengan hanya 28 persen yang menyatakan dukungan.
Hasil serupa juga terlihat dalam jajak pendapat AP-NORC, di mana 60 persen responden menilai tindakan militer Amerika Serikat telah melampaui batas.
Data ini mencerminkan meningkatnya tekanan publik terhadap pemerintah untuk segera mencari jalan keluar dari konflik.
Penentangan publik paling kuat terlihat pada rencana pengiriman pasukan darat ke Iran.
Dalam ketiga survei tersebut, antara 62 hingga 76 persen responden menyatakan tidak setuju dengan langkah tersebut.
Bahkan, dalam survei Ipsos, sebanyak 86 persen warga mengaku khawatir terhadap risiko yang dapat mengancam keselamatan personel militer jika operasi darat dilakukan.
Kekhawatiran ini mempertegas bahwa masyarakat Amerika tidak menginginkan keterlibatan militer yang lebih dalam.
Di tengah situasi tersebut, publik juga menunjukkan skeptisisme terhadap proses diplomasi.
Sekitar 46 persen responden meragukan bahwa negosiasi damai benar-benar berlangsung, sementara 59 persen menilai penyelesaian konflik dalam waktu dekat sulit tercapai.
Hanya sekitar 30 persen responden yang menyatakan puas terhadap penanganan konflik oleh pemerintah, menunjukkan rendahnya tingkat kepercayaan terhadap arah kebijakan saat ini.
(Tribunnews.com/Deni/Namira)