Ibas: Indonesia Harus Kuat Hadapi Gejolak Global, APBN jadi Pelindung Rakyat
Ibas tegaskan strategi fiskal, energi, dan perlindungan sosial kunci hadapi gejolak global demi stabilitas dan kesejahteraan rakyat
Selain itu, Wakil Ketua Dewan Penasihat KADIN ini juga menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal, penguatan diplomasi ekonomi, serta peningkatan investasi di sektor energi dan pangan.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai krisis, mulai dari krisis 1998, krisis global 2008, hingga pandemi Covid-19.
Baca juga: Mudik Aman, Silaturahmi Nyaman: Ibas Melepas 500 Perantau Pulang Kampung
Dari pengalaman tersebut, Indonesia memiliki modal kuat untuk menghadapi tantangan global saat ini.
“Negara yang kuat bukan yang bebas dari krisis, tetapi yang mampu merespons krisis dengan cepat, tepat, dan berpihak pada rakyat,” kata Edhie Baskoro.
Anggota Dapil Jawa Timur VII ini mengajak seluruh peserta diskusi untuk memberikan pandangan strategis, masukan kritis, serta rekomendasi kebijakan yang konkret dan implementatif.
“Masukan hari ini akan menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan di parlemen, pengawalan APBN, dan penguatan strategi nasional kita,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kunci menghadapi tantangan global adalah keberanian dalam mengambil kebijakan, ketepatan strategi, dan kekuatan sinergi nasional.
“Dari global shock menuju national resilience, dari tantangan menuju kesempatan,” tutup Ibas.
Diskusi juga diperkaya oleh pandangan para akademisi dan pakar. Prof. Hikmahanto Juwana, SH., LL.M., Ph.D., Guru Besar Hukum Internasional UI, mempertanyakan efektivitas sistem global dalam menjamin kepatuhan antarnegara.
“Apa yang bisa memastikan, jika terjadi kesepakatan, tidak akan ada pelanggaran lagi?”
Sementara Prof. Yon Machmudi, Ph.D., Guru Besar Sejarah dan Geopolitik Timur Tengah UI, menyoroti keterkaitan konflik Iran dengan dinamika di Gaza sebagai pola baru konflik global.
Hal ini diperkuat dengan pandangan Anggota Fraksi Partai Demokrat Rizki Natakusumah menekankan pentingnya ketahanan strategis nasional.
“Indonesia mengusulkan sebagai mediator, itu kita apresiasi. Kita harus membangun strategic resilience negara kita sendiri," ujarnya.
Dari perspektif energi, Dr. Ir. Rudy Laksmono W, M.T., Pakar Ketahanan Energi Universitas Pertahanan, mengingatkan, bahwa subsidi terus membengkak, sedangkan produksi nasional Indonesia masih di jauh dibawah konsumsi harian.
Hal ini senada dengan tanggapan Sekretaris Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan, yang menyoroti tekanan subsidi energi yang signifikan dan menjaga agar harga minyak dengan efisiensi nasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ibas22222222.jpg)