Sabtu, 18 April 2026

Wamenkes Dante Saksono Sebut Teknologi AI Bisa Mempercepat Transformasi Layanan Kesehatan

Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa AI tidak seharusnya dilihat sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat sistem kesehatan.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Adi Suhendi
TRIBUNNEWS/M LUTFI
LAYANAN KESEHATAN - Potret Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono di studio Tribunnews, Jakarta, Rabu (19/11/2025). Ia mengatakan AI tidak seharusnya dilihat sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat sistem kesehatan. 

Ringkasan Berita:
  • Wamenkes menegaskan bahwa AI tidak seharusnya dilihat sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat sistem kesehatan
  • Teknologi seperti AI dinilai mampu mempercepat transformasi layanan kesehatan
  • Layanan kesehatan diharapkan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan penyakit sejak dini

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah wajah layanan kesehatan, termasuk di sektor laboratorium.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa AI tidak seharusnya dilihat sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat sistem kesehatan.

Menurut Dante, peran laboratorium kesehatan selama ini sangat krusial, terutama dalam memastikan diagnosis yang akurat bagi pasien.

“Sebagai klinisi, ada satu pertanyaan yang selalu disampaikan kepada saya setiap kali selesai memeriksa pasien, yaitu ‘hasil labnya seperti apa, Prof?’. Di situlah kepastian berada, di situlah diagnosis ditegakkan dan keputusan dapat diambil,” ujarnya saat membuka Seminar Nasional Ikatan Laboratorium Kesehatan Indonesia (ILKI) 2026 di Jakarta, dikutip Jumat (17/4/2026). 

Menurut dia, dalam perkembangannya, teknologi seperti AI dinilai mampu mempercepat transformasi layanan kesehatan.

Tidak hanya membantu proses diagnosis, tetapi juga mengubah pendekatan layanan menjadi lebih maju.

Baca juga: Wamenkes: Semua Dokter Internship di Seluruh Indonesia Dapat Vaksinasi Campak

“AI bukanlah ancaman, melainkan akselerator. AI menggeser paradigma layanan dari kuratif menjadi prediktif dan preventif. Namun, nurani dan tanggung jawab profesional tetap tidak tergantikan oleh teknologi apa pun,” tegasnya.

Dengan pendekatan prediktif dan preventif, layanan kesehatan diharapkan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan penyakit sejak dini.

Di sisi lain, Dante mengakui masih ada tantangan dalam pengembangan laboratorium kesehatan di Indonesia.

Salah satunya adalah kenaikan biaya reagen serta ketergantungan terhadap alat impor.

Baca juga: Wamenkes: Waktu Masak ke Konsumsi MBG Terlalu Lama Picu Keracunan Siswa di Jakarta Timur

Kondisi ini membuat sektor laboratorium dituntut lebih adaptif dalam menghadapi perubahan.

Menurutnya, pemimpin laboratorium harus mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa mengorbankan kualitas layanan.

“Pemimpin laboratorium masa kini harus AI-aware dan mampu menyusun peta jalan digitalisasi, tanpa mengorbankan mutu, serta tetap berlandaskan akreditasi dan standarisasi,” ujarnya.

Integrasi Data Jadi Kunci

Pemerintah juga terus mendorong integrasi data kesehatan melalui platform digital seperti SATUSEHAT dan Electronic Health Record (EHR).

Langkah ini dilakukan agar hasil pemeriksaan laboratorium tidak lagi terpisah-pisah, melainkan terhubung dalam satu sistem.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved