Senin, 8 Juni 2026

Program Makan Bergizi Gratis

Susu Formula di MBG Bisa Picu Obesitas dan Diabetes, Ini Kata Peneliti TII

Peneliti TII mengingatkan distribusi susu dalam MBG berpotensi menimbulkan masalah gizi baru apabila tidak dilakukan dengan pengawasan

Tayang:
HO/IST/Sekretariat Presiden
TINJAU PROGRAM MBG - Presiden Prabowo Subianto meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 111 Jakarta pada Selasa, (2/6/2026). Peneliti Bidang Sosial TII, Made Natasya Restu Dewi Pratiwi, mengingatkan distribusi susu dalam MBG berpotensi menimbulkan masalah gizi baru apabila tidak dilakukan dengan pengawasan dan standar yang ketat. 

 

Ringkasan Berita:
  • Rencana distribusi susu formula dalam program makan bergizi (MBG) sebelumnya mendapat sorotan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
  • Kini kritik juga datang dari The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII).
  • Peneliti Bidang Sosial TII, Made Natasya Restu Dewi Pratiwi, mengingatkan distribusi susu dalam MBG berpotensi menimbulkan masalah gizi baru apabila tidak dilakukan dengan pengawasan dan standar yang ketat.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rencana distribusi susu formula dalam program makan bergizi (MBG) sebelumnya mendapat sorotan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Kini kritik juga datang dari The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII).

Baca juga: Mengganti Kepala BGN Tidak Menyelesaikan Penyakit Sistemik MBG

Peneliti Bidang Sosial TII, Made Natasya Restu Dewi Pratiwi, mengingatkan distribusi susu dalam MBG berpotensi menimbulkan masalah gizi baru apabila tidak dilakukan dengan pengawasan dan standar yang ketat.

Natasya mengatakan tujuan utama MBG adalah meningkatkan status gizi masyarakat. Namun, program tersebut harus memastikan menu yang dibagikan tidak menimbulkan dampak kesehatan yang tidak diinginkan.

Menurut Natasya, pemberian susu formula secara massal kepada bayi dan balita berpotensi meningkatkan risiko obesitas dan diabetes saat anak memasuki usia remaja.

"Dalam konteks bayi dan balita, pemberian susu formula secara massal berpotensi menurunkan cakupan ASI eksklusif, meningkatkan risiko obesitas, serta diabetes bagi bayi penerima susu saat memasuki usia remaja," ujar Natsaya dalam keterangannya, Senin (08/06/2026).

Selain itu, konsumsi susu formula dan produk pengganti ASI secara berlebihan disebut dapat mengganggu penyerapan zat besi.

Hal itu berisiko meningkatkan kerentanan anak terhadap anemia.

Natasya juga mengingatkan tidak semua anak memiliki toleransi yang baik terhadap produk susu.

"Sebagian anak mengalami intoleransi laktosa yang dapat menyebabkan diare, mual, muntah, dan gangguan pencernaan lainnya setelah mengonsumsi susu."

Baca juga: Pengamat: Penetapan Tersangka Dadan Cs Bisa Jadi Pintu Masuk Evaluasi Program MBG

Karena itu, ia menilai pemerintah harus memastikan standar yang ketat apabila tetap mendistribusikan susu dalam MBG.

Menurut Natsya, susu formula sebaiknya diberikan kepada kelompok yang memang membutuhkan berdasarkan rekomendasi dokter dan indikasi medis tertentu.

"Susu formula harusnya hanya diberikan kepada sasaran yang berisiko secara gizi, seperti pada ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK), anak yang mengalami 'wasting', dan 'stunting' berdasarkan rekomendasi dokter dan indikasi medis tertentu," pungkasnya.

Disurati IDAI dan Dibantah BGN

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved