Jumat, 24 April 2026

Banjir Bandang di Sumatera

Mendagri: Pemerintahan Sumbar Sudah Normal, Sejumlah Daerah di Sumut dan Aceh Masih Perlu Atensi

Secara umum roda pemerintahan dan layanan dasar di sebagian besar daerah sudah kembali berjalan, sejumlah kabupaten/kota yang memerlukan perhatian

Penulis: Chaerul Umam
Editor: Erik S
Tribunnews.com/Chaerul Umam
EVALUSAI PENANGANAN BENCANA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, memaparkan perkembangan terbaru indikator pemulihan pascabencana di sejumlah wilayah Sumatera. Hal itu disampaikannya dalam rapat evaluasi penanganan pascabencana Sumatera, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026). 

Tito juga menyoroti kondisi di Tapanuli Tengah yang kembali terdampak banjir.

“Mulai ada kantor kecamatan yang rusak, kemudian ada puskesmas yang belum beroperasi penuh, kemudian ada fasilitas pendidikan khususnya SD. Akses darat karena kemarin banjir lagi itu mulai jalan provinsi, kabupaten/kota, desa dan juga jembatan yang terdampak kembali,” katanya.

Gangguan juga terjadi pada listrik dan jaringan PDAM di sejumlah desa, serta jaringan internet akibat pemadaman listrik.

“Di Tapanuli Tengah juga listrik ada beberapa desa yang terdampak, PDAM juga jaringannya ada yang rusak. Jaringan internet terganggu karena listrik padam, tapi gas elpiji dan SPBU alhamdulillah lancar. Sungai di Tapanuli Tengah kemarin jebol lagi dan masih banyak sedimen dan perlu dibangun sabodam,” kata Tito.

Baca juga: Penampakan Hunian Sementara di Kecamatan Ketol Aceh Tengah untuk Penyintas Banjir Sumatera


Sementara di Tapanuli Utara, sejumlah fasilitas pendidikan seperti PAUD, SD, dan SMP masih terdampak meskipun sudah beroperasi. Beberapa jalan kabupaten/kota dan jembatan juga perlu perbaikan.

Ia menambahkan, untuk 15 kabupaten/kota lainnya, secara umum kondisi sudah kembali normal dan beroperasional.

“Dari segi pemerintahan, fasilitas kesehatan, sarana prasarana pendidikan, akses darat, ekonomi, pasar, restoran, rumah ibadah, SPBU, listrik, PDAM, internet, gas elpiji dan lain-lain, untuk 15 kabupaten/kota tidak masalah lagi artinya bisa beroperasional,” tegasnya.


Mantan Kapolda Metro Jaya itu juga menekankan ada tiga wilayah sungai yang perlu perhatian karena sedimentasi dan tumpukan kayu, yakni di Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan.


Aceh: Mayoritas Hijau, Tujuh Daerah Perlu Atensi

Di Provinsi Aceh, Tito menyebut sebagian besar daerah sudah masuk kategori normal.

“Untuk Aceh, sudah normal 10, sebagaimana dalam data yang berwarna hijau artinya normal. Tapi yang ada kuningnya perlu catatan, mendekati normal satu kabupaten/kota yaitu Bener Meriah. Bener Meriah ini ada problema yaitu jalan kabupaten/kota dan jalan desanya bermasalah,” ujarnya.

Terdapat tujuh kabupaten/kota yang memerlukan atensi khusus, di antaranya Bireuen, Nagan Raya, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya.

Di Bireuen, masalah utama terdapat pada sarana pendidikan, jembatan, masjid, PDAM, serta sungai.

“Di Kabupaten Bireuen ini sarana pendidikannya hampir semuanya terdampak, akses jalan darat kabupaten/kota, nasional oke, provinsi oke, dan jembatan di Bireuen. Kemudian rumah ibadah masjid serta PDAM dan juga sungai,” kata Tito.

Tito menyebut, di Nagan Raya hanya menghadapi persoalan sungai. Sementara di Aceh Timur, banyak fasilitas pendidikan mulai dari SD hingga madrasah dan SMA terdampak.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved