Kamis, 16 April 2026

Banjir Solo Raya, Dokter Anak Soroti Perubahan Iklim dan Dampak bagi Kesehatan Publik

Banjir yang melanda sejumlah wilayah dinilai bukan sebagai kejadian tak terduga, melainkan konsekuensi dari perubahan iklim yang telah diprediksi.

Penanganan baru dilakukan setelah bencana terjadi, bukan melalui langkah pencegahan.

“Dalam konteks krisis iklim, mitigasi dan kesiapsiagaan adalah kunci utama,” tegasnya.

Perlu Penataan Kota Berbasis Lingkungan

Sebagai solusi, Ardi mendorong sejumlah langkah strategis, mulai dari penataan kota berbasis lingkungan, peningkatan sistem drainase, hingga pengendalian alih fungsi lahan.

Selain itu, diperlukan sistem peringatan dini berbasis teknologi, edukasi kebencanaan, serta integrasi kurikulum perubahan iklim dan kesehatan di sekolah.

Penguatan sistem kesehatan juga dinilai penting, termasuk melalui pemantauan penyakit berbasis iklim dan peningkatan layanan kesehatan primer.

Ia menekankan, perubahan iklim harus segera ditangani secara serius karena dampaknya tidak hanya berupa bencana, tetapi juga ancaman terhadap kesehatan dan masa depan generasi.

“Perubahan iklim itu nyata. Banjir di Solo adalah bukti, bukan sekadar peringatan lagi,” pungkasnya.

Banjir di Solo dan Sekitarnya

BANJIR - Banjir merendam Jalan Mojolaban Sukoharjo, puluhan motor mogok saat menerjang genangan air setinggi lutut.
BANJIR - Banjir merendam Jalan Mojolaban Sukoharjo, puluhan motor mogok saat menerjang genangan air setinggi lutut. (HO/IST)

Diketahui, hujan lebat yang terjadi pada Selasa sore hingga Rabu dinihari membuat sejumlah wilayah di Solo Raya banjir.

Mulai dari Kota Solo, Kabupaten Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, dan Klaten.

Di Sukoharjo, banjir melanda wilayah Dusun Keden RT 01 RW VII, Desa Gentan, Kecamatan Baki.

Sebanyak 108 kepala keluarga (KK) terdampak.

Salah satu warga, Wawan Juniadi, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas tinggi mulai turun sekitar pukul 14.00 WIB dan terus berlanjut hingga Rabu sekitar pukul 02.00 WIB.

“Hujan mulai turun siang hari dan terus berlangsung sampai sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Air mulai naik sekitar pukul 18.00 WIB, terus meninggi hingga warga akhirnya mengungsi pada malam hari,” ujarnya, Rabu, dilansir Tribun Solo.

Genangan air mulai meningkat pada sore hari dan semakin tinggi hingga memaksa warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Menurut Wawan, ketinggian air banjir di Sukoharjo cukup signifikan. Pada puncaknya, air mencapai selutut orang dewasa, bahkan di beberapa titik mencapai 80 sentimeter hingga 1 meter.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved