Rabu, 20 Mei 2026

Tona Sian Huta Angkat Opera Batak ke Panggung Nasional

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga menegaskan pagelaran Tona Sian Huta angkat Opera Batak ke panggung nasional.

Tayang:
Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Wahyu Aji
HO/IST
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga menegaskan bahwa gelaran Tona Sian Huta, Opera dan Konser Musik yang akan berlangsung pada 11 Juli 2026 di Gedung Jetun Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, bukan sekadar pertunjukan seni melainkan langkah strategis untuk menguatkan identitas budaya sebagai fondasi pengembangan pariwisata di kawasan Danau Toba. 
Ringkasan Berita:

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga menegaskan bahwa gelaran Tona Sian Huta, Opera dan Konser Musik yang akan berlangsung pada 11 Juli 2026 di Gedung Jetun Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, bukan sekadar pertunjukan seni melainkan langkah strategis untuk menguatkan identitas budaya sebagai fondasi pengembangan pariwisata di kawasan Danau Toba.

Acara bertajuk Tona Sian Huta itu digagas oleh Persatuan Artis Batak Indonesia (PARBI) bersama Ketua Umum Charlie Hutasoit dan didukung penuh oleh Lamhot Sinaga.

Kegiatan ini diproyeksikan menjadi salah satu pergelaran budaya terbesar yang pernah digelar di wilayah Tapanuli Utara, sekaligus mencatat sejarah baru dalam dunia pertunjukan seni Batak di daerah tersebut.

Menurut Lamhot, kawasan Danau Toba tidak cukup hanya mengandalkan panorama alam untuk menarik wisatawan.

Ia menilai, daya tarik utama yang membedakan Danau Toba dengan destinasi lain justru terletak pada kebudayaan Batak yang hidup, otentik, dan diwariskan lintas generasi.

“Tona Sian Huta adalah bukti bahwa budaya Batak bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi nafas utama yang harus menjadi penggerak pariwisata Danau Toba ke depan. Kita ingin wisatawan datang bukan hanya melihat danau, tetapi merasakan jiwa kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Lamhot Sinaga, Selasa (19/5/2026).

Ia mengatakan, pengembangan destinasi super prioritas seperti Danau Toba membutuhkan agenda budaya berskala besar yang rutin digelar agar tercipta alasan kuat bagi wisatawan untuk datang, tinggal lebih lama, dan membelanjakan uangnya di daerah.

Lamhot juga menambahkan, sektor pariwisata memiliki efek domino yang luas terhadap perekonomian masyarakat, terutama pelaku usaha kecil di sekitar kawasan wisata.

Karena itu, menurut dia, event budaya seperti Tona Sian Huta harus dilihat sebagai investasi sosial dan ekonomi, bukan sekadar hiburan.

“Setiap pertunjukan besar akan menggerakkan hotel, transportasi, kuliner, UMKM, hingga ekonomi kreatif lokal. Inilah model pembangunan yang berbasis budaya tetapi berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” kata Lamhot.

Dalam pagelaran tersebut, penonton akan disuguhkan perpaduan opera Batak, konser musik, pertunjukan seni tradisional, serta sajian visual modern yang dikemas untuk menjangkau generasi muda.

Konsep ini dirancang agar kebudayaan Batak dapat tampil lebih segar tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.

Selain panggung utama, penyelenggara juga menghadirkan tenant UMKM yang menampilkan berbagai produk lokal, mulai dari kuliner khas Batak, ulos, kriya, hingga kerajinan tangan masyarakat sekitar kawasan Danau Toba.

Lamhot juga menyebut keterlibatan UMKM menjadi bagian penting dari acara tersebut. Menurut dia, budaya tidak bisa dipisahkan dari aktivitas ekonomi masyarakat.

Ketika budaya dipentaskan, maka produk lokal juga harus mendapat ruang untuk berkembang.

Sementara itu, Ketua Umum PARBI Charlie Hutasoit mengatakan Tona Sian Huta lahir dari keinginan untuk menghadirkan kebanggaan kolektif masyarakat Batak terhadap tanah leluhurnya.

Charlie menilai Tapanuli Utara memiliki posisi penting dalam sejarah kebudayaan Batak, sehingga sangat layak menjadi tuan rumah pergelaran besar yang menyatukan seni, musik, dan tradisi dalam satu panggung kolosal.

“Tona Sian Huta kami hadirkan sebagai gerakan kebudayaan. Ini bukan hanya konser, tetapi momentum menghidupkan kembali rasa memiliki terhadap budaya Batak dan menjadikannya kekuatan ekonomi yang nyata,” ujar Charlie Hutasoit.

Ia mengatakan, pihaknya juga menargetkan kehadiran diaspora Batak dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri.

Kehadiran diaspora dinilai penting untuk mempererat ikatan emosional dengan kampung halaman sekaligus memperluas promosi pariwisata Danau Toba secara organik.

Menurut Charlie, selama ini masyarakat Batak memiliki kekuatan jejaring diaspora yang besar. Jika potensi itu disatukan melalui event budaya, maka promosi pariwisata Sumatera Utara akan jauh lebih efektif.

Acara Tona Sian Huta juga mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, serta Kementerian Koperasi dan UMKM Republik Indonesia.

Dukungan tersebut diarahkan untuk mendorong pengembangan budaya sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif nasional.

Penyelenggara berharap Tona Sian Huta dapat menjadi agenda tahunan yang masuk dalam kalender event budaya unggulan Sumatera Utara.

Dengan skala pertunjukan yang besar, acara ini diyakini dapat memperkuat citra Danau Toba sebagai destinasi wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya yang autentik.

Bagi Lamhot Sinaga, Tona Sian Huta menjadi contoh bahwa masa depan pariwisata Danau Toba tidak bisa dilepaskan dari penguatan budaya lokal.

Baca juga: Indonesia Tawarkan Investasi Pariwisata Danau Toba di Forum Bisnis Dubai 2025

"Ketika budaya Batak ditempatkan sebagai pusat narasi, maka Danau Toba akan memiliki daya saing yang lebih kuat di tingkat nasional maupun internasional," pungkasnya.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved