Minggu, 26 April 2026

Ilmuwan Indonesia Menembus Batas Riset, Padukan Sains, Hukum dan Etika

Perjalanan ilmiahnya dimulai dari riset di NASA tentang kesehatan astronot, lalu berlanjut di University of California San Francisco. 

ISTIMEWA
Raymond R. Tjandrawinata, Ilmuwan tanah air menunjukkan kiprahnya di panggung dunia. 

Ringkasan Berita:
  • Perjalanan Ilmuwan Indonesia menunjukkan jika riset tak terbatas di laboratorium.
  • Polanya mirip dengan sejumlah tokoh dunia yang juga menolak berhenti di batas laboratorium.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perjalanan ilmuwan Indonesia, Prof. Raymond menunjukkan jika riset, tak sekadar dari dalam laboratorium namun selesai begitu saja.

Lebih dari itu, Prof Raymond R Tjandrawinata bisa menempatkan riset lebih dari batasan dinding laboratorium akan membuat sains yang kuat dengan landasan hukum dan etika akan berhenti.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Planet Mirip Bumi Berpotensi Layak Huni Berjarak 146 Tahun Cahaya

Pada 20 April 2026, Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) menerbitkan Piagam No. 12691/R.MURI/IV/2026 dan menetapkan Prof. Raymond sebagai peneliti Indonesia dengan publikasi Scopus dan paten terbanyak di bidang ilmu biomedis interdisipliner. Rekor itu sendiri sudah sangat besar. 

Ada satu kalimat dalam piagam MURI yang mungkin tidak langsung menjadi perhatian, tercetak dalam tanda kurung di bawah judul rekor utama: “dengan Mengintegrasikan Aspek Hukum, Farmasi, dan Etika.”

Baca juga: Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya Ada di Sumatra hingga Andaman

Aspek inilah yang membedakan Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica ini. 

Bukan sekadar ilmuwan produktif bukanlah volume karyanya, melainkan keyakinan yang membentuk seluruh pendekatannya pada dua aspek itu. 

Ada perjalanan riset yang cukup menarik dari perjalanan ini. Bahkan, kisah Prof. Raymond punya pola yang mirip dengan sejumlah tokoh dunia yang juga menolak berhenti di batas laboratorium.

Dari NASA ke Laboratorium

Perjalanan ilmiahnya dimulai dari riset di NASA tentang kesehatan astronot, lalu berlanjut di University of California San Francisco. 

Prof. Raymond pernah meneliti di NASA tentang osteoporosis pada astronot. 

Pengalaman ini mengingatkan pada kisah Dr. Joseph Kerwin, astronot sekaligus dokter yang membawa perspektif medis ke riset luar angkasa. 

Keduanya menunjukkan bahwa sains lintas disiplin bisa membuka wawasan baru: kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan dari konteks lingkungan ekstrem.

Baca juga: MIPA Bukan Sekadar Jadi Ilmuwan, GO dan FMIPA UI Kupas Strategi Lulus dan Prospek Karier Masa Depan

Kembangkan Biodiversitas

Titik balik datang ketika ia memutuskan kembali ke Indonesia. Di tengah peluang untuk melanjutkan karier ilmiah di Amerika Serikat, Prof. Raymond memilih pulang karena melihat persoalan yang jauh lebih penting untuk dikerjakan di dalam negeri.

Ia melihat peluang, Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar, tetapi riset farmasi berbasis biodiversitas lokal masih tertinggal jauh dari potensinya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved