Buku 'Filsafat Cinta', Kegelisahan Werdhi Sutisari Melihat Begitu Banyak Orang Terluka oleh Cinta
Betapa cinta yang tidak dipahami dengan benar justru berujung pada frustrasi, kehancuran masa depan, hingga perceraian.
Ringkasan Berita:
- Bukan semata dari kajian akademik, tapi juga pengalaman hidup yang dijalani Werdhi Sutisari
- Dorongan utama menulis Filsafat Cinta berangkat dari kegelisahannya melihat begitu banyak orang terluka oleh cinta
- Proses penulisan buku ini adalah perjalanan menyelaraskan pengalaman hidup dengan teori-teori filsafat
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peluncuran buku Filsafat Cinta menjadi momen personal sekaligus reflektif bagi penulis dan juga akademisi, Werdhi Sutisari.
Sosok yang akrab disapa Tisa itu mengungkapkan bahwa buku terbarunya lahir bukan semata dari kajian akademik, melainkan dari pengalaman hidup yang ia jalani sendiri.
Dari kegagalan, perpisahan, hingga perenungan panjang tentang makna cinta, Tisa menuangkannya dalam buku terbarunya itu.
Dalam peluncuran buku tersebut, Tisa menuturkan bahwa dorongan utama menulis Filsafat Cinta berangkat dari kegelisahannya melihat begitu banyak orang terluka oleh cinta.
Baca juga: Moderasi Beragama dan Filsafat Cinta Jadi Tema dalam Seminar di FIT UIN Surakarta
Ia menyaksikan betapa cinta yang tidak dipahami dengan benar justru berujung pada frustrasi, kehancuran masa depan, hingga perceraian.
Pengalaman pribadinya menghadapi kegagalan hubungan membuatnya tidak menyalahkan pasangan, melainkan mengajak diri sendiri untuk bercermin dan mencari kesalahan dari dalam.
“Ketika saya menulis buku ini, saya merasa ini harus dimengerti. Jangan sampai orang patah hati lalu frustrasi dan menghancurkan masa depannya," ujar Werdhi Sutisari di kawasan Bogor Jawa Barat, Minggu (14/12/2025).
"Semua percintaan harus dijalani dengan kesadaran,” ujar Tisa.
Pemilik nama lengkap Prof. Dr. Werdhi Sutisari, SH., M.H., PhD itu mengaku, proses penulisan buku ini adalah perjalanan menyelaraskan pengalaman hidup dengan teori-teori filsafat.
Kedua hal itu kemudian membantunya memahami di mana letak kekeliruan dalam memaknai cinta.
Lewat Filsafat Cinta, Tisa tidak membatasi cinta hanya pada relasi laki-laki dan perempuan.
Ia mengulas gagasan para filsuf tentang cinta, mulai dari Eros yang kerap disalahartikan sebagai sekadar gairah dan hasrat, Philia sebagai cinta persahabatan, hingga Agape yang ia sebut sebagai bentuk cinta tertinggi.
Pemahaman itulah yang menurut Tisa, sering luput dalam relasi modern. Banyak orang terjebak pada posesif, kemelekatan, dan nafsu, lalu kecewa ketika ekspektasi tidak terpenuhi.
Ia menilai, kesalahan memahami cinta menjadi salah satu pemicu tingginya angka perceraian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Filsafat-Cinta-1-15122025.jpg)