Tribunners / Citizen Journalism

Zonasi PPDB: Das Sollen, Das Sein

Menurut Pasal 16 Permendikbud No. 51/2018, PPDB dilaksanakan melalui jalur zonasi, prestasi, dan perpindahan tugas orang tua/wali.

Zonasi PPDB: Das Sollen, Das Sein
Ist/Tribunnews.com
Sumaryoto Padmodiningrat. 

Lantas, apa yang kemudian terjadi atau das sein? Banyak peserta didik pintar dengan prestasi akademik yang tinggi ternyata tidak dapat diterima di sekolah yang mereka harapkan karena terhalang oleh jarak tempat tinggal yang jauh dari sekolah.

Selain itu, juga terhalang Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Sistem akreditasi memang masih diterapkan di bawah Badan Akreditasi Nasional (BAN) Sekolah/Madrasah.

Ada sekolah berakreditasi A, B, dan C. Ini adalah bentuk favoritisme. Di lapangan, sekolah yang dikatakan favorit sangat khawatir akan menurunkan peringkat atau mutu sekolah ketika 50% siswa yang diterima dari 90% kuota PPDB sistem zonasi adalah siswa yang memiliki kemampuan rendah.

Tak pelak, penerapan sistem zonasi dalam PPDB pun memantik banyak protes, seperti yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur, di mana sekelompok masyarakat menggelar aksi demonstrasi di Kantor Walikota Surabaya, Kamis (20/6/2019) malam.

Aspirasi yang sama juga disampaikan sekelompok warga saat Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Surabaya, Kamis (20/6/2019). Mantan Walikota Surakarta dan Gubernur DKI Jakarta itu kemudian menginstruksikan Mendikbud Muhadjir Effendy untuk mengevaluasi sistem zonasi dalam PPDB.

Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang membidangi masalah pendidikan pun setali tiga uang, mendesak agar sistem zonasi dalam PPDB dievaluasi secara menyeluruh.

Seperti dilansir sebuah media, penerapan sistem zonasi mengharuskan calon peserta didik untuk menempuh pendidikan di sekolah yang memiliki radius terdekat dari domisili masing-masing. Peserta didik memiliki opsi maksimal tiga sekolah, dengan catatan sekolah tersebut masih memiliki slot siswa dan berada dalam wilayah zonasi siswa tersebut.

Seleksi calon peserta didik baru dilakukan dengan memprioritaskan jarak tempat tinggal terdekat ke sekolah dalam zonasi yang ditetapkan. Jarak tempat tinggal terdekat dimaksud adalah dihitung berdasarkan jarak tempuh dari kantor desa/kelurahan menuju ke sekolah.

Jika jarak tempat tinggal sama, maka yang diprioritaskan adalah calon peserta didik yang mendaftar lebih awal.

Halaman
1234
Editor: Hasanudin Aco
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved