Minggu, 10 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Konflik Palestina Vs Israel

Mengatasi 'Jalur Gaza' di Metropolitan

Prabowo di PBB serukan perdamaian abadi Palestina–Israel, menolak kebencian dan prasangka, akhiri konflik 77 tahun di Gaza.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Dok Pribadi
Andi Muhammad Jufri, Tenaga Ahli Wamen KPPPA /Tim Pemberdayaan Kegiatan Sinergisitas Antar KL- BNPT Tahun 2017-2024. 

Andi Muhammad Jufri, M.Si

  • Praktisi Pembangunan Sosial

Pendidikan : 

  • S1, Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas (1992-1998)
  • S2, Manejeman Pembangunan Sosial, Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia (2004 -2006)

Bekerja : 

  • Community Development Specialis di Yayasan Nurani Dunia (2006 -2014)
  • Tim Pembangunan Sosial Ruang Publik Terpadu Ramah Anak di DKI Jakarta (2014-2016)
  • Tim Leader Pemberdayaan Kegiatan Sinergisitas Antar Kementerian/Lembaga Program Penanggulangan Terorisme,  BNPT (2017 -2024)
  • Tenaga Ahli Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, KPPPA (2025 - sekarang)

Domisili :

  • Kelurahan Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang,Banten.

TRIBUNNEWS.COM - Pidato  Presiden Prabowo di depan sidang PBB (23 September 2025), menegaskan pentingnya perdamaian sejati, perdamaian tanpa kebencian, perdamaian tanpa prasangka, kepada kedua negara, Palestina dan Israel,  yang telah bertikai selama 77 tahun (1948 -sekarang). Lokasi pertikaian dan perang kedua negara berada di Jalur Gaza

Jalur Gaza adalah sebuah kawasan yang terletak di pantai timur Laut Tengah, bagian dari wilayah Negara Palestina, berbatasan dengan Mesir di sebelah barat daya dan Israel di sebelah timur dan utara.  Namun, jauh sebelum huru-hara antara Israel dan Palestina, Jalur Gaza punya sejarah panjang. Kawasan ini beberapa kali dikepung dan diduduki oleh beragam pihak sejak 4.000 tahun lampau, dari 

Mesir Kuno – ratusan tahun sebelum Masehi – hingga jatuh ke tangan Kesultanan Ottoman pada abad ke-16. Kawasan itu juga pernah ditaklukkan Alexander Agung, Kekaisaran Romawi, serta Jenderal Muslim, Amr ibn al-As,  hingga Inggris.  

Semoga pesan Presiden Prabowo mendukung Palestina Merdeka, sekaligus mengakui dan menjamin keselamatan serta keamanan Israel betul-betul dapat menjadi solusi dua keturunan Abraham (Palestina & Israel) hidup dalam rekonsiliasi, perdamaian, dan harmoni sebagai satu keluarga manusia. 

Jalur Gaza sangat melekat diingatan memori rakyat  Indonesia sebagai zona pertempuran Israel vs Palestina. Ingatan ini, bagi sebagian masyarakat, sering diplesetkan menjadi nama tempat atau lokasi rawan gangguan keamanan, rawan premanisme dan rawan tawuran.

Di Kota Semarang, misalnya, terdapat Jembatan yang dikenal sebagai Jembatan Jalur Gaza. Ketua Tim Elang Polsek Semarang Utara, Agus Supriyanto menyampaikan bahwa Jembatan Jalur Gaza sudah familiar dikenal karena tempat tersebut banyak terjadi tawuran remaja kampung, bahkan setiap malam antar remaja Kuningan dan Bandarharjo (Esposin, Semarang, 12 Juni 2024). Menurut Narto (warga RT 002 RW 005 Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara) bahwa  Jembatan Boom Lama, yang dikenal sebagai Jalur Gaza  ini adalah tempat favorit untuk tawuran antar kampung di Semarang Utara seperti Barutikung, Perbalan, Kuningan, Panggung, dan Tanjung Mas (warta.tirtoberita.com, 13 Juni 2024).  

Pada saat,   Presiden Prabowo Subianto, bertolak ke New York, Amerika Serikat untuk menghadiri Sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, (Jumat malam, 19 September 2025), suasana dini hari di Jembatan "Jalur Gaza" mencekam. Puluhan remaja dari dua kubu bentrok dan jembatan Boom Lama yang dikenal sebagai Jalur Gaza  kembali menjadi arena pertarungan sengit (joglosemar.news.com, 20 September 2025). 

Ketika Presiden Prabowo berpidato berapi-api di PBB terkait kedamaian di bumi Gaza, di saat yang sama,  Kandea, wilayah Tallo (jalur gazanya) metropolitan Makassar terbakar.  Ada 6 rumah terbakar. Ada warga terkenah panah di mata dan punggung saat melintasi jalan. Semua itu terjadi karena warganya saling melempar bom molotov, petasan dan panah busur. 

Peristiwa tawuran di Kandea ini, telah berlangsung selama 36 tahun (1989 -2025). Warga yang tawuran berasal dari  Lorong Lembo, Tinumbu Lorong 148, Kandea, Bunga Ejaya  Beru dan Kampung Layang. Mereka berada dalam satu lingkungan kelurahan yang sama. 

Sehari setelah Presiden Prabowo pidato di PBB, Jalur Gaza Bekasi, tepatnya di Jalan Raya Urip Sumoharjo Cikarang Utara,  mencekam, setelah tawuran pelajar pecah hingga menewaskan dua orang dan  melukai empat lainnya (Rabu malam,  24/9/2025). Bagi warga setempat, jalur ini bukan sekadar jalan raya. Mereka menyebutnya sebagai “Jalur Gaza”-nya Cikarang Utara, tempat di mana ketegangan, bentrokan, dan rasa waswas seolah tak pernah padam. Tawuran terjadi antar pelajar, antar gangster serta antar suporter Persija dan Persib (pilarind.id,25/9/2025). 

Peristiwa tawuran antar kampung yang turun menurun sehingga dikenal sebagai kawasan Jalur Gaza, juga terjadi di kota metropolitan Sumatera, Kota Medan. Tawuran sering terjadi antar warga  Lingkungan 11, Kelurahan Belawan Bahari dengan warga Kampung Kurnia dan Kampung Kolam. Para peserta tawuran sering menggunakan senapan angin dan senjata tajam, dan tidak segan membakar rumah warga.  Menurut warga, aksi tawuran di Medan Belawan tak bisa dicegah lagi dan sepertinya sudah menjadi ‘tradisi’ buruk. Sudah berkali-kali jabatan Kapolres Pelabuhan Belawan silih berganti namun tawuran antar warga selalu saja terjadi seolah-olah sudah menjadi tradisi (Waspada, 22 Agustus 2025)

Di Bogor, kota hujan, kawasan Jalur Gaza berada di lokasi tawuran antara kampung di Kecamatan Kemang dan Rancabungur. Tawuran pecah, bila ada pemantik. Misalnya, saling geber knalpot sepeda motor, kemudian  janjian adu gengsi dan kekuatan melalui tawuran. Aceng (bukan nama sebenarnya) salah satu warga setempat mengaku, tawuran antar kampung itu sudah mendarah daging dan hampir terjadi setiap pekan (Radar Bogor,20/8/2024)

Kawasan Jalur Gaza  yang menjadi lokasi tawuran puluhan tahun juga ada di Kota Cirebon.  Tepatnya adalah lokasi tawuran antar Kampung Kesunean Utara dan Cangkol, di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk. Penyebab tawuran biasanya berawal dari saling ejek antar pemuda. Kemudian juga, terdapat jembatan sungai sebagai batas kampung yang selama ini dikuasai oleh pemuda Cangkol sebagai tempat nongkrong. Di tempat inilah kerap menjadi permasalahan dan sumber percekcokan ketika para pemuda dua kampung tersebut saling bertemu (Cirebon, ANTARA News, 4 Juni 2010)

Kawasan Jalur Gaza juga ada di Ibu Kota Negara,  Jakarta. Tawuran antara warga Jalan Tambak, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, dan warga Gang Tuyul, Manggarai, Jakarta Selatan, sering kali terjadi, dan telah berlangsung turun temurun. Kawasan Jalur Gaza lainnya, adalah Johar Baru. Tawuran di Johar Baru seakan menjadi tradisi dan sudah turun menurun dari generasi ke generasi.

Mengapa Tawuran Ber- Regenerasi di Jalur Gaza

Tawuran merupakan manifestasi situasi yang diawali dengan kompetisi atau persaingan dengan tujuan berbeda, dan kemudian persaingan  semakin intens. Selanjutnya berkembang menjadi kekerasan verbal (kata-kata) dan kemudian kekerasan fisik. Mungkin pada awalya kekerasan yang terjadi dilakukan oleh individu atau kelompok kecil, namun kekerasan akan semakin melebar dan terbuka, seiring dampak terasakan dari tawuran tersebut. 

Bila tawuran telah menyebabkan terjadinya luka fisik, kecacatan, dan bahkan korban jiwa (meninggal dunia), kemudian juga  kerusakan atau kehilangan harta (pembakaran, penjarahan), maka spiral kekerasan akan semakin terasakan lebih mendalam dan lebih luas.  Bagi korban langsung (keluarga, sahabat, tetangga atau sekampung), spiral kekerasan ini, akan mendorong dan memperkuat solidaritas "tribalisme". Solidaritas yang membabi buta, fanatisme, dan menimbulkan sikap "kita melawan mereka". 

Pada situasi tersebut, tawuran dapat terjadi dengan  hal-hal sepele atau masalah kecil seperti tersenggol motor, saling mengejek, gangguan pada pacar atau anggota keluarga/kelompok,  ada suara mercon, dan lain-lainnya. 

Bila tawuran terjadi berkali-kali, dengan lawan yang sama, dan kedua belah pihak mengalami korban baik jiwa dan harta, maka solidaritas "tribalisme" semakin menebal dan memunculkan "dendam kusumat", yang tersosialisasi di lingkungan masing-masing kelompok/kampung  yang tawuran. Peristiwa tawuran akhirnya menjadi wadah "belajar" bersama secara informal anggota keluarga, anggota kelompok atau warga sebuah kampung dalam meregenerasi kekerasan (tawuran). Inilah sebabnya, disebuah tempat atau wilayah peristiwa tawuran dapat berlangsung puluhan tahun dari generasi ke generasi. 

Akar Masalah Tawuran di Jalur Gaza

Bila kita mendalami karakteristik peristiwa tawuran yang terjadi, kita melihat bahwa mereka yang tawuran berasal dari kelompok warga paling bawah (lower class). Mereka tinggal di kawasan padat penduduk dan bisa saja memiliki masalah sosial lainnya seperti terjadinya peredaran narkoba, kemiskinan, pengangguran dan lainnya. Kondisi lingkungan yang kurang layak atau buruk akan menumbuhkan pola pikir pesimistis,  egois (menang sendiri),  emosi negatif (stress)  dan mentalitas instan,  yang mendorong mudahnya terjadi kekerasan. 

Di kehidupan perkotaan, wilayah yang sering tawuran, tersebar kelompok yang memiliki solidaritas tinggi. Mereka biasa disebut geng. Dalam konteks persaingan dan kompetisi hidup, geng muncul sebagai strategi survival (bertahan hidup) karena dapat memberikan rasa memiliki dan identitas, perlindungan dari ancaman, serta keuntungan finansial atau kekuasaan yang tidak didapatkan di tempat lain seperti keluarga atau sekolah. 

Persaingan antar geng di sebuah wilayah dapat menjadi pemicu terjadinya tawuran antar kelompok geng yang kemudian melebar ke tawuran antar warga atau kampung (lokasi geng berada). Seringkali warga yang tidak tahu menahu, atau warga yang sebenarnya tidak mau tawuran terjadi, tidak berdaya dengan keberadaan geng pemicu tawuran ini. 

Di tengah berbagai permasalahan penyebab tawuran di atas, ada pihak yang sering ingin mengambil keuntungan dari kekacauan yang terjadi. Mereka adalah para pengedar narkoba (bandar), yang merasa aman dan lancar mengedarkan dan transaksi  narkoba di saat kekacauan terjadi.  Pada saat yang bersamaan, banyak pelaku tawuran  mengonsumsi narkoba sehingga mereka nekat dan berani membawa senjata. Pada saat tertentu, bisa saja tawuran sengaja dibuat untuk tujuan keuntungan bisnis narkoba. 

Di era kini, generasi kekerasan menjadikan tawuran sebagai ajang memperlihatkan siapa diantara mereka jagoan, siapa pemenang dan siapa kuat. Ada kepuasan Didukung dengan teknologi komunikasi, tawuran dapat direncanakan dengan perjanjian lokasi dan waktu tawuran. Para pihak kelompok yang tawuran memiliki admin dan sistem komunikasi dan hierarki yang tersusun secara informal, namun sangat efektif. 

Solusi

Presiden Prabowo dalam Pidatonya di PBB menyampaikan bahwa "Kita hidup pada masa ketika kebencian dan kekerasan seolah menjadi suara yang paling nyaring. Namun, di balik hiruk-pikuk itu, terdapat kebenaran yang lebih sunyi: setiap manusia merindukan rasa aman, ingin dihormati, ingin dicintai, dan ingin mewariskan dunia yang lebih baik bagi anak-anak mereka "

Presiden Prabowo telah meminta kepada dunia dan kita semua agar tidak diam, dan harus sekarang bertindak atas jeritan korban "jalur gaza". Perdamaian, kemakmuran, dan kemajuan bukanlah hak istimewa segelintir pihak, melainkan hak seluruh umat manusia. Mereka berhak mendapatkan hidup dalam keadilan yang layak. 

Pesan di atas, inspirasi bagi kita semua untuk menangani "Jalur Gaza" di Metropolitan negeri kita.  Kita mengapresiasi pihak kepolisian, bersama bersama TNI, Satpol PP, dan Tokoh masyarakat di masing -masing lokasi "Jalur Gaza", secara pro aktif dan responsif, melerai mereka yang bertikai ketika tawuran. Melakukan patroli dan mendirikan pos pengamanan di titik lokasi rawan di Jalur Gaza tersebut. Kemudian, menegakkan hukum bagi para aktor tawuran yang melanggar hukum. 

Kita juga memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan tokoh masyarakat, yang terus membina masyarakat, tidak pernah lelah menghimbau mereka yang sering bertikai.  Melakukan mediasi damai dan juga membuat kesepakatan membangun perdamaian pada setiap setelah tawuran. 

Pendekatan hukum dan keamanan yang telah dilakukan aparat keamanan di atas, serta pendekatan kepemimpinan yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah dan tokoh masyarakat, setidaknya dapat mencegah tawuran agar tidak terus berlangsung lama. Kemudian juga, secara bertahap para pemangku kepentingan dapat bekerjasama menangani "Jalur Gaza" lebih baik lagi. 

Untuk melengkapi kedua pendekatan di atas, perlu dikembangkan pendekatan hubungan (relationship approach)  antar personal dan antar kelompok yang selama ini terlibat tawuran.  

Seringkali komitmen para tokoh masyarakat untuk membangun perdamaian telah dilakukan, namun karena anggota kelompok tidak mengikuti apa kata pemimpin formal dan informal di wilayah mereka, maka tawuran dapat saja terus terjadi. 

Kita mengetahui bahwa di era kekinian, pendekatan kepemimpinan tidak bisa hanya menunjuk atau menyuruh (mobilisasi) karena kita tidak lagi menganut sistem patriarki.  Kita saat ini,  menganut sistem demokrasi, dimana pemimpin dituntut melayani masyarakat. Kesadaran akan hal ini, membuat masyarakat juga tidak mudah percaya kepada pemimpin.  Pada konteks inilah. Pendekatan hubungan antar personal dan kelompok perlu dilakukan dalam upaya transformasi tawuran menjadi damai. 

Transformasi tawuran menjadi damai diawali dari transformasi individu, transformasi kelompok dan transformasi hubungan antar individu dan kelompok. Pada ketiga proses tahapan transformasi tersebut, ada 3 hal yang ditransformasi : (1) Transformasi cara berpikir, yaitu mengubah cara pandang berbangga menjadi "jagoan" menjadi "malu melakukan kekerasan", (2) Tranformasi  Emphaty, yaitu menggugah perasaan dengan membayangkan derita korban kekerasan, dan (3)  Transformasi Prilaku, yaitu mengubah prilaku dengan menyalurkan energi pada kegiatan positif. 

Proses membangun perdamaian di "Jalur Gaza" ini, dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : 

1. Melakukan pemetaan aktor individu dan kelompok di kedua belah pihak yang terlibat tawuran. Pada setiap tawuran ada individu atau kelompok yang menjadi pelopor atau penggerak massa. Di antara mereka ada yang segani atau "dituakan" dan menjadi "leader". Sementara, ada juga kelompok (geng)  yang dominan menjadi pemicu tawuran. Pada pemetaan ini, diharapkan nama dan alamat aktor individu dan kelompok didapatkan.

2. Melakukan pendalaman dan pendekatan kepada Aktor individu dan Kelompok yang telah terpetakan di kedua pihak yang bertikai dalam tawuran

Pendalaman terkait informasi latar aktor baik individu maupun kelompok sangat penting agar dapat menentukan strategi pendekatan transformasi. Informasi terkait kegiatan sehari -hari aktor dan kelompok,  waktu ada di rumah bisa ditemui, tempat nongkrong dan waktu nongkrong,  hobby aktor dan hobby anggota kelompok, dan lain-lain perlu dikumpulkan. Data tersebut menentukan langkah dalam proses transformasi. 

Pendekatan ke aktor perlu dilakukan secara bertahap. Dapat melalui pihak ketiga seperti ketua RT, Ketua RW atau tokoh masyarakat lainnya. Pendekatan ini penting untuk meraih kepercayaan "trust" kepada aktor dan kelompok yang bertikai. Bisa juga secara langsung dengan gaya yang diyakini dapat diterima oleh mereka, para aktor dan kelompok. 

3. Melakukaan aksi sebagai "entry point" (titik masuk)  bangun "trust" kepercayaan

Dalam proses pendalaman dan pendekatan, kita berharap dapat menemukan bentuk atau jenis aksi awal yang dapat menjadi  "entry point" (titik masuk) di "Jalur Gaza". Aksi awal ini berbasis yang mudah dilakukan, menyenangkan dilaksanakan, melibatkan aktor dan anggota kelompok di lokasi kedua belah pihak yang bertikai. Aksi ini bisa berhubungan dengan penataan secara fisik tempat nongkrong atau tempat kegiatan atau apa saja yang menjadi kebutuhan prioritas yang ditemukan dan diinformasikan oleh aktor atau kelompok yang bertikai. 

Pada aksi awal ini hendaknya dilaksanakan secara gotong royong. Dukungan nasi ikan asing dan sayur lodeh, kopi, teh manis dan pisang goreng atau jenis minuman dan makanan lainnya, dapat menjadi kegembiraan bagi mereka para aktor dan anggota kelompok. Kebersamaan dalam hal positif ini, akan membantu membuka "mindset" mereka. 

Keberhasilan melakukan aksi, akan menjadi pondasi bangun kepercayaan lebih lanjut. Kepercayaan, modal awal melakukan transformasi hubungan ke arah perdamaian. 

4. Mendukung dan Memfasilitasi Kegiatan Aktor dan Anggota Kelompok serta Kelompoknya 

Setiap aktor dan anggota kelompok, ada kegiatan utama yang sering dilakukan. Dukungan dan fasilitasi sarana dan prasarana terkait kegiatan mereka, akan menumbuhkan harapan bagi mereka. Bila hobinya bermusik, dan membutuhkan alat musik, maka fasilitasi. Bila hobi berolahraga, fasilitasi sarana olahraga. Bila hobi kuliner ngopi, bantu sarana dan latih mereka kuliner. Bila hobi pelihara ikan, ternak, berkebun, fasilitasi sarana dan latih mereka budidaya ikan, beternak dan berkebun. Bila mereka hobi sablon, podcast, youtube, fotografi, dan lain-lain, segera fasilitasi sarana dan latih.  

Berbagai dukungan dan fasilitasi sarana dan pelatihan, adalah bukti keseriusan kita melakukan transformasi. Pada seluruh proses dukungan dan fasilitasi, betul-betul dilakukan secara partisipatif dan usulan mereka. Ketika sarana ingin dibeli, ikutkan mereka, aktor, anggota atau perwakilan kelompok langsung ke toko atau supermarket penjual. Keikutsertaan langsung memilih dan membeli kebutuhan  kepada siapapun yang dibantu akan meningkatkan kepercayaan "trust" mereka kepada tim yang sedang membangun perdamaian. 

5. Melaksanakan Workshop Membangun Budaya Damai

Proses 1-4 diharapkan sudah dapat merangkul aktor dan anggota kelompok yang biasa terlibat tawuran. Mereka yang sudah bisa diajak berdiskusi dan sudah ada semangat membangun wilayahnya dengan damai, maka diharapkan menjadi peserta workshop membangun budaya damai. Workshop ini diharapkan dapat membangun kesadaran kritis peserta begitu pentingnya hidup damai dan betapa ruginya berada dalam suasana konflik. Bentuk workshop dibuat senyaman mungkin, menggunakan sistem belajar aktif, dan memperhatikan kondisi calon peserta. 

Metode "cooperative and active learning" diterapkan dalam workshop. Peserta diajak berpikir dan mengeluarkan gagasan terkait masa depannya dan juga masa depan wilayahnya. Pemutaran film atau video juga dilakukan untuk membangun emphaty. Para peserta juga diajak merancang rencana yang akan dilakukan untuk masa depannya dan juga masa depan wilayahnya. 

Proses tahapan  1-5 di atas, merupakan kegiatan transformasi yang dilakukan ke masing - masing pihak yang bertikai dan dilakukan secara paralel. 

6. Melaksanakan Workshop Membangun Budaya Damai Lintas Kelompok/Wilayah

Dengan asumsi proses tahapan 1-5 berjalan lancar di masing-masing pihak yang bertikai dalam tawuran, maka selanjutnya, pada tahapan 6, dapat dimulai membangun hubungan antar group berbeda wilayah (antara pihak yang berkonflik). Pelaksanan kegiatan ini harus betul-betul dirancang dengan baik dan tidak perlu digembor-gemborkan di media. Pemilihan peserta harus berdasar dari hasil transformasi tahap 1-5 di atas. Peserta juga tidak mesti banyak. Cukup 25-30 orang. Mereka yang terpilih diharapkan menjadi "champion" pembangun perdamaian di wilayah "Jalur Gaza". 

Pada workshop ini, metode yang digunakan juga  "cooperative and active learning". Diskusi, pemutaran video dan film juga dilakukan. Kemudian peserta juga mulai diajak memikirkan dan merancang aksi bersama di kawasan "Jalur Gaza".  

Untuk pematangan kebersamaan dan komitmen bekerja bersama, dilakukan kegiatan "outbound" (kegiatan di luar ruangan atau alam terbuka) dengan metode pembelajaran "experiential learning" (belajar dari pengalaman). Tujuannya adalah melatih keterampilan soft skill seperti kerja sama tim, komunikasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah melalui permainan dan tantangan yang menyenangkan dan mendalam. 

Deklarasi Tim lintas kelompok dan wilayah dengan struktur kerja yang informal berbasis hobby/ketrampilan dapat dilakukan pada tahap ini.

7. Pelaksanaan Rencana Aksi Bersama 

Dukungan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk lancarnya pelaksanaan rencana aksi bersama perlu dipastikan. Berbagai pihak perlu terlibat dan dikoordinasikan. Tentu saja,  peran  Pemerintah Daerah/Kota  menjadi sentral. Sekaligus juga, merangkul perguruan tinggi, lembaga masyarakat sipil dan swasta dalam mempastikan kegiatan ini berlangsung secara berkelanjutan.

Asistensi dan pendampingan serta pengorganisasian lanjutan memerlukan energi lebih. Perlu daya tahan menumbuhkan dan mengembangkan kebersamaan mereka yang terlibat. Keberhasilannya akan menularkan kepada teman-teman atau warga di kedua belah pihak.  Bila berhasil, ini pertanda titik cerah dan harapan kehidupan damai di " Jalur Gaza" metropolitan.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved