Tribunners / Citizen Journalism
Jakarta dan Budaya Betawi Mendunia
Jakarta menuju kota global dengan menjadikan budaya Betawi sebagai identitas, daya tarik wisata, dan pendorong ekonomi kreatif.
H. Rachmat Hidayat S.I.Kom.M.Si
News Manager Tribunnews.com
Riwayat Pendidikan
- Magister Sains (M.Si.) Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI)
Pengalaman Sebagai Wartawan
- Wartawan di berbagai media sejak 1999. Meliputi penugasan di daerah, seperti Jawa Barat dan Yogyakarta,
- Wartawan Istana Kepresidenan era pemerintahan SBY-Jusuf Kalla dan pada era SBYBoediono
- Menjadi delegasi di Inter Parliamentary Union dan Konferensi Perubahan Iklim di IFEMA
TRIBUNNEWS.COM - Dalam laporan Enginering Cites Outlook tahun 2014, Jakarta diprediksi menjadi kota besar yang bisa bersaing dengan kota-kota lain di dunia. Sementara dalam laporan Global City Index tahun 2023, Jakarta ditempatkan sebagai kota global di urutan ke-74 dari 159 kota di dunia. Badan Perencanaan Pembangunan Jakarta mengungkap enam syarat atau indikator Jakarta sebagai kota global. Diantaranya perekonomian yang mapan dan terkoneksi secara global, kapasitas riset dan informasi yang baik dan terus menerus, ruang yang nyaman untuk dihuni, cultural value yang menarik wisatawan untuk berkunjug, lingkungan yang bersih, nyaman dan berkelanjutan serta aksesbilitas yang terkoneksi secara inter dan inter kota.
Namun, Jakarta dibawah peringkat dari Kuala Lumpur dan Kota Bangkok. Meski, Jakarta berdasar peringkat masih di atas Kota Manila. Presiden Director & Partner Kearnet Indonesia, Shirley Santoso mengungkap, salah satu cara agar Jakarta dapat menaikkan peringkatnya adalah dengan melalukan inovasi dan berinvestasi. (Puspadini, 2024).
Professor Sosiologi Universitas Chicago Saskia Sassen mengklasifikasikan, kota global adalah bagian dari kota dunia. (Sassen, 2013) mempaparkan tujuh hipotesisnya tentang kota global. Yang pertama, syarat utama kota global adalah adanya kegiatan ekonomi. Menjadi kota yang menjadi pusat pembiayaan dan jaringan operasional perusahaan dan pelayanan yang memadai. Sebagian besar kota global menurutnya merupakan kota dunia.
Penyebaran kegiatan ekonomi menandai globalisasi berbarengan dengan integrasi simultan dari kegiatan yang tersebar secara geografis sehingga menjadi faktor kunci sebuah pertumbuhan ekonomi.
Mengelola, melayani mengkoordinasikan serta membiayai jaringan operasi sebuah perusahaan. Hipotesis pertamanya saling terkait dengan pemikiran kedua.
Ia mengibaratkan kantor kantor utama yang ada pada sebuah kota global. Ia mencontohkan jasa atau kantor akuntansi, hukum,yang berhubungan dengan masyarakat, telekomunikasi serta jasa lainnya saling terspesialisasi.
Sudut pandang Sassen selanjutnya mengenai kota global. Adalah setiap perusahaan jasa bergerak secara global, memiliki kompleksitas dari yang dihasilkan dan memiliki kecepatan dan membentuk aglomerasi baru. Menjadi bagian kelompok pada sebuah kota global identik dengan saluran informasi yang intens dan padat. Hipotesis Sassen selanjutnya menguatkan apa yang diungkapkan sebelumnya, semakin banyak kantor pusat dan menciptakan perekonomian yang teraglomerasi, terspesialisasi dan berjejaring (network), ditegaskan dengan jumlah kantor yang menjadi pusat perekonomian, jasa, para pebisnis dan yang lain dan saling terintegasi menjadi salah cari dari sebuah kota global.
Layanan publik yang terintegasi secara global, saling bermitra serta penguatan dalam melakukan transaksi. Selain itu, pertumbuhan pasar yang menyebabkan terjadinya transaksi keuangan yang menunjukkan serangkaian jaringan kota transaksional adalah hal penting dalam sebuah kota global, yang mendunia. Lahirnya para individu profesional berkualitas dalam bidang apapun seakan memperlihatkan adanya ketimpangan yang terjadi di daerah yang jauh atau kota yang berada di pedalaman sebuah negara.
Dinamika masyarakatnya yang tinggal di kota global berfariasi dalam mengekpresikan caranya untuk bertahan hidup. Sassen menggarisbawahi dari hipotesisnya kelima, keenam dan ketujuh saling berkaitan dan menyimpulkan sistem yang global adalah sebuah kepastian, sebagai fungsi dalam kota global, transaksi yang terjadi secara global.
Sassen dalam karyanya yang lain, The Global City mendefinisikan kota global sebagai simpul utama dalam sistem ekonomi global. Yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, layanan keuangan dan aktivitas ekonomi internasional. Kota global tidak hanya sekedar tempat, tapi menjadi pusat ekonomi global yang kompleks dengan dampak yang luas. (Sassen, The Global City, 2008).
Ciri kota global menurut Saskia Sassen:
Pusat pemerintah dan kontrol. Kota global adalah pusat pengambilan keputusan dan koordinasi dalam sistem ekonomi global dengan konsentrasi kekayaan dan pengaruh yang signifikan.
Pusat layanan keuangan. Kota global menjadi tempat berkumpulnya pusat keuangan dan layanan keuangan global yang mendukung aktivitas ekonomi internasional seperti perdagangan dan investasi.
Pusat jasa produsen.
Dampak sosial yang luas. Kota global mejadi lokasi penting, mengalami konsentasi kekayaan dan kemiskinan, yang dapat memperparah ketimpangan sosial.
Peran dalam globalisasi. Menjadi contoh nyata, globalisasi mengubah struktur serta fungsi perkotaan, menciptakan pusat-pusat ekonomi dan budaya yang terhubung secara global
Budaya Betawi Tuan Rumah Kota Global
Pelestarian budaya Betawi memiliki peran penting dalam membentuk Jakarta yang ingin mengukuhkan sebagai bagian dari kota dunia, kota global. Menjadi aset penting bagi kota Jakarta dan menjadi tempat bagi masyarakatnya dalam berkreativitas memajukan budaya leluhur Betawi harus dilestarikan secara terus menerus, melakukan persuasi di berbagai kesempatan, termasuk melakukan aktivitaas persuasi melalui media sosial. Warga Jakarta adalah bagian dari warga dunia. Seorang sosiolog terkenal asal Spanyol Manuel Castells mengembangkan pemahaman mendalam tentang peran teknologi dan media sosial dalam masyarakat kontemporer. Menurutnya, masyarakat saat ini, para warganet, para netizen menyatu dalam sebuah komunitas besar dalam sebuah network society atau masyarakat jaringan. Masyarakat modern yang telah berubah menjadi masyarakat informasi, di mana informasi dan pengetahuan menjadi sumber daya utama. Ia juga mengembangkan konsep ekonomi jaringan, yang menekankan pentingnya jaringan dan hubungan dalam ekonomi global. (Castells, 2011). Karya-karya Castells telah berpengaruh besar dalam bidang sosiologi, studi komunikasi, dan studi globalisasi. Dan warga Jakarta, menyatu menjadi bagian dari warga dunia tanpa sekat, tanpa terhalang apapun dalam mengumpan dan menerima informasi.
Dalam UU No.2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta juga menegaskan tentang pelestarian dan pengembangan budaya Betawi yang diakui sebagai budaya nasional Indonesia.
Melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi sebagai bagian penting dari identitas Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Beberapa aspek yang terkait dengan budaya Betawi dalam UU No. 2 Tahun 2024 adalah:
1. Pelestarian Budaya. Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta memiliki kewajiban untuk melestarikan budaya Betawi.
2. Pengembangan Budaya. Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta juga memiliki kewajiban untuk mengembangkan budaya Betawi.
Beberapa cara budaya Betawi dapat berkontribusi:
3. Keunikan Budaya. Budaya Betawi dapat menjadi salah satu keunikan yang membedakan Jakarta dari kota-kota lain di dunia.
4. Pengenalan Warisan Budaya: Melalui promosi dan pelestarian budaya Betawi, Jakarta dapat memperkenalkan warisan budayanya kepada dunia.
5.Wisata Budaya: Budaya Betawi dapat menjadi atraksi wisata yang menarik bagi wisatawan domestik dan internasional.
6. Pengalaman Unik: Wisatawan dapat menikmati pengalaman unik dengan mengenal budaya Betawi melalui berbagai acara, festival, dan kegiatan budaya.
7. Inspirasi bagi seniman dan kreator: Budaya Betawi dapat menjadi inspirasi bagi seniman dan kreator lokal untuk menciptakan karya-karya yang unik dan inovatif.
8. Pengembangan industri kreatif. Budaya Betawi dapat menjadi salah satu pendorong pengembangan industri kreatif di Jakarta.
Mewujudkan kota global dan menempatkan budaya Betawi sebagai tuan rumah sangat berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan, terus menerus. Kajian ini menyelaraskan dengan semangat negara-negara di dunia yang berhimpun dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). PBB pada tanggal 25 September 2015 menyepakati 17 Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Jakarta sebagai kota global tentu saja berperan penting dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan meningkatkan hidup masyarakat.
Menyepakati cara baru yang kreatif dan inovatif dan secara komprehensif, bersama-sama menangani masalah ekologi sosial dan ekonomi yang saling terkait satu sama lain. Mengekang degradasi lingkungan yang menjadi hambatan bagi umat manusia di masa depan. (Obipi & Okeah , 2023).
Kota Jakarta tetap menjadi primadona. Jakarta memiliki keunggulan strategis termasuk profil demografi, tenaga kerja terampil, serta standar hidup yang tinggi. Satus Jakarta sebagai barometer ekonomi nasional harus dipertahankan.
Jakarta penyumbang 16,77 persen perekonomian nasional, kalau digabung dengan Jabodetabekjur, kontribusinya hampir mencapai 30 persen ekonomi nasional. IPM (indeks pembangunan manusia)-nya tertinggi se-Indonesia dan setiap tahunnya membaik. Sebagai kota global, Jakarta jangan dijadikan kota transit.
Harapannya, terpenuhi ketersediaan ruang nyaman untuk dihuni, spot-spot menarik, serta sering menyelenggarakan event-event internasional. (Fikih, 2024). Jakarta menjadi kotanya para migran meski, belum menjadi magnet bagi warganya secara keseluruhan untuk mau menetap secara permanen. Masih banyak warganya yang mengidamkan tinggal di tempat asalnya di hari tuanya. (Masron & Martinez, 2020).
Sebagai kota global, Jakarta memenuhi syarat sebagai tempat destinasi. Paradigma baru dalam penelitan yang dilakukan oleh (Oktadiana, Pranita, Aulia, & Akbar, 2024) selain kota global, Jakarta berpotensi menjadi pelopor kota wisata pintar dan perlunya berbagai terobosan berkelanjutan dalam pengembangannya yang tentu saja memerlukan kolaborasi dengan berbagai pihak. Menjadikan Jakarta sebagai laboratorium hidup, sebagai pusat penelitian dan pengembangan dalam menyediakan ruang untuk malukan inovasi dalam mewujudkan jakarta sebagai kota cerdas dan kota global. Belum lama ini, Gubernur Jakarta mengungkapkan optimismenya menaikkan peringkat Jakarta menjadi bagian kota dunia. ”Sebagai kota global, Jakarta ini rangking 47 dari 56. Di bawahnya Manila, di bawahnya Kuala Lumpur, jauh di bawahnya Bangkok dan Singapura. Bagi saya, ini menjadi tantangan untuk dilakukan perbaikan bagaimana kota glonal ini, Jakarta menjadi top 50 dunia”. (Belarminus & Yahya, 2025).
Budaya Betawi, jangan sampai tersisih, harus mendampingi dari waktu ke waktu, Jakarta sebagai kota global dan mendunia. Mempromosikan, menduniakan budaya Betawi mengiringi Jakarta dan makin dikenal di mata internasional. Budaya Betawi harus menjadi salah satu pendorong pengembangan ekonomi kreatif di kampung halamannya.
Pengembangan budaya Betawi dalam pengembangan pariwisata adalah bagian dari upaya peningkatan kesadaran masyatakat tentang pentingnya melestarikan budaya yang ada di Indonesia. Memberikan dampak positif di tengah-tengah gempuran modernisasi, budaya Betawi dapat terus lestari dan berkembang diselaraskan dengan program-progam yang dilakukan oleh pemerintah provinsi Jakarta secara terus menerus menyelaraskan Progam Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/FOTO-Budaya-Betawi-jadi-jiwa-Jakarta-menuju-kota-global.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.